Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair, Ditempa Keilmuan sebelum Usia Baligh | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Perjalanan Hidup KH Maimoen Zubair, Ditempa Keilmuan sebelum Usia Baligh

PMII NEWS Online
13 Agustus 2019
Foto: KH Maimoen Zubair
PMII NEWS Online - KH Maimoen Zubair adalah putra pertama dari pasangan Kiai Zubair Dahlan dan Nyai Mahmudah. Lahir pada hari Kamis Legi bulan Sya'ban tahun 1347 Hijriah bertepatan tanggal 28 Oktober 1928 Masehi di Desa Karang Mangu Kecamatan Sarang, Jawa Tengah.

Nyai Mahmudah, putri dari Kiai Ahmad bin Syu’aib, ulama kharismatik yang teguh memegang pendirian. Sedangkan Kiai Zubair merupakan murid kinasih Syeikh Sa’id Al-Yamani serta Syeikh Hasan Al-Yamani Al- Makky. Secara genealogi keilmuan, KH Maimoen Zubairmerupakan ulama yang cukup disegani.

Kematangan ilmu KH Maimoen Zubair tak ada satupun yang meragukan. Sebab, sejak balita ia sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama. Sebelum menginjak remaja, beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Sharaf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah, dan bermacam Ilmu Syara’ lainnya.

Kecerdasan dan daya ingat KH Maimoen Zubair sangat luar biasa yang membawanya menuju pribadi yang dewasa. Bahkan sampai usia ke 91 tahun daya ingatnya masih segar.

Pada usia sekitar 17 tahun, KH Maimoen Zubair sudah hafal di luar kepala nadzam Al-Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munauroq, serta Rohabiyyah fil Faroidl.

Seiring pula dengan kepiawaiannya membalah kitab-kitab fiqih madzhab Asy-Syafi’i, semisal Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, dan beberapa kitab jenis lainnya.

Pada tahun kemerdekaan, KH Maimoen Zubair memulai pengembaraannya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri, di bawah bimbingan KH Abdul Karim atau terkenal dengan sebutan Mbah Manaf.

Selain kepada Mbah Manaf, KH Maimoen Zubair juga menimba ilmu agama dari KH Mahrus Ali dan KH Marzuqi. Di Lirboyo, KH Maimoen Zubair nyantri selama kurang lebih lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi orang kebanyakan, tapi tentu masih belum cukup untuk menenggak habis ilmu pengetahuan.

Tanpa kenal batas, KH Maimoen Zubair tetap menceburkan dirinya dalam samudra ilmu-ilmu agama. Sampai pada akhirnya, saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukarromah.

Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri, yakni KH Ahmad bin Syu’aib. Tidak hanya satu, semua mata air ilmu agama dihampirinya.

KH Maimoen Zubair menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama di bidangnya, antara lain:



  • Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
  • Syekh Al Imam Hasan Al Masysyath
  • Sayyid Amin Al Quthbi
  • Syekh Yasin bin Isa Al Fadani
  • Syekh Abdul Qodir Al Mandily


  • Setelah dua tahun lebih dirinya menetap di Makkah Al Mukarromah, kemudian kembali ke tanah air dan masih melanjutkan semangatnya untuk ngangsu kaweruh yang tak pernah surut.

    Walau sudah dari Arab, KH Maimoen Zubair masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama besar tanah Jawa yang ada kala itu.

    KH Maimoen Zubair menikah pada usia 25 tahun, setelah menikah sosok yang dikenal sangat sederhana itu menjadi Kepala Pasar Sarang selama 10 tahun. KH Maimoen Zubairadalah insan yang lahir dari gesekan permata dan intan.

    Dari ayahnya, KH Maimoen Zubair meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara dari kakeknya meneladani rasa kasih sayang dan kedermawanan. Kasih sayang terkadang merontokkan ketegasan, rendah hati seringkali berseberangan dengan ketegasan.

    Namun dalam pribadi KH Maimoen Zubair, semua itu selaras dan seimbang. Kerasnya kehidupan pesisir Kecamatan Sarang, Rembang tidak membuat sikap KH Maimoen Zubair ikut mengeras. Justru KH Maimoen Zubair menunjukkan sikap sebaliknya.

    Kepada yang lebih muda KH Maimoen Zubair menunjukkan sikap yang sopan. Beliau adalah gambaran sempurna dari pribadi yang santun dan matang. Semua itu bukanlah kebetulan, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri.

    KH Maimoen Zubair muda membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Pada tahun 1965 KH Maimoen Zubair mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama.

    Hal itu diiringi dengan berdirinya Pesantren yang berada di sisi kediamannya. Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Al-Anwar. Satu dari sekian pesantren yang ada di Sarang. Keharuman nama dan kebesaran beliau sudah tidak bisa dibatasi lagi dengan peta geografis.

    Banyak sudah ulama-ulama dan santri yang berhasil karena ikut nyantri dalam pesantren yang kerap dikunjungi para pejabat di negeri ini.

    KH Maimoen Zubair dianugerahi 10 putra dari tiga kali pernikahannya. KH Maimoen Zubair menikah tiga kali karena istri pertama dan keduannya meninggal dunia.

    Istri pertama KH Maimoen Zubair bernama Ibu Nyai Hj Fahima Baidhowi, yang merupakan putri dari KH Baidhowil Lasem Rembang. Dari pernikahannya, keduannya dikaruniai dua putra dan satu putri, masing-masing:
    1. KH Abdullah Ubab (Gus Ubab)
    2. KH Muhammad Najih (Gus Najih)
    3. Ibu Nyai Hajah Shobihah (Neng Shobihah)
    Dari istri kedua KH Maimoen Zubair, yakni Ibu Nyai Hj Mastiah, KH Maimoen Zubair dikaruniai 6 putra dan satu putri, masing-masing:
    1. KH Majid Kamil (Gus Kamil)
    2. KH Abdul Goffur (Gus Ghofur)
    3. KH Abdul Rouf (Gus Rouf)
    4. KH Muhammad Wafi (Gus Wafi)
    5. Ibu Nyai Hj Rodhiah (Neng Yah)
    6. KH Taj Yasin (Gus Yasin)
    7. KH Muhammad Idror (Gus Idror)
    Setelah istri pertama dan kedua wafat lebih dulu, KH Maimoen Zubair kembali menikah dengan istri ketiganya yaitu Ibu Nyai Hj Heni Maryam putri dari salah satu ulama dari Kabupaten Kudus. Dari pernikahan ini tidak dikaruniayai keturunan.

    Dalam hal agama, 10 penerus KH Maimoen Zubair sangat mumpuni. Bersama dengan mereka KH Maimoen Zubair mengembangkan pondok pesantren Al Anwar 1, 2, 3 dan 4.

    Pondok Pesantren 1 diasuh KH Maimoen Zubair sendiri sampai dengan sekarang. Pesantren ini berlokasi di Desa Karang Mangu, Kecamatan Sarang.

    Sedangkan Pondok Pesantren Al Anwar 2, 3, dan 4 lokasinya berada di Dukuh Gondangrejo Desa Kalipang Kecamatang Sarang. Lokasinya berjarak sekitar 5 KM dari Ponpes Al Anwar 1 (Induk).

    Yang membedakan pesantren ke empatnya adalah :

    • Al-Anwar 1 murni pendidikan salaf, diasuh oleh KH Maimoen Zubair.
    • Al-Anwar 2 ada pendidikan salaf dan formal, ada MI, MTs, yang dikelola KH Abdullah Ubab. Berdiri sekitar tahun 2003.
    • Al-Anwar 3 khusus untuk Sekolah Tinggi STAI yang diasuh oleh KH Abdul Ghofur sebagai rektornya.
    • Al-Anwar 4 itu untuk SMK Al-Anwar yang diasuh oleh KH Taj Yasin, Wakil Gubernur Jawa Tengah berdiri pada tahun 2016.
    Di Pesantren Al-Anwar juga terdapat pendidikan Ma'had Aly. Semacam program pendidikan khusus salaf yang disetarakan S1. Program tersebut berjalan sejak tahun 2005 sampai dengan sekarang.

    Saat ini ada sekitar 10 ribu santriwan-santriwati yang masih mondok di empat Pondok Pesantren. Sepeninggal KH Maimoen Zubair para santri diasuh oleh putra-putra KH Maimoen Zubair, sedangkan santri putri diasuh oleh Ibu Nyai Hj Heni Maryam, dan dibantu menantu-menantunya.

    Kedelapan putra KH Maimoen Zubair semuanya diminta menetap di Sarang Rembang, untuk meneruskan mengelola pondok yang terus mengalami kemajuan. Kecuali kedua putrinya, Ibu Nyai Hj Shobihah (Neng Shobihah) di Cirebon menikah dengan KH Musthofa Aqil Siroj adik dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU KH Said Aqil Siroj, sedangkan Neng Diyah menjadi istri dari KH Zairul Anam (Gus Anam) Banyumas, Jawa Tengah.

    Perjalanan hidup KH Maimoen Zubair ini disarikan dari cerita KH Zainul Umam (Gus Umam). Gus Umam termasuk orang dekat keluarga KH Maimoen Zubair. Beliau juga pernah mondok selama 9 tahun di Ponpes Al-Anwar dan menjadi santri KH Maimoen Zubair sejak tahun 1997 – 2006.

    Gus Umam adalah orang yang sering mendampingi KH Maimoen Zubair ketika bepergian. Terakhir ia mendampingi KH Maimoen Zubair ke Bandara Soekarno Hatta saat pergi ke tanah suci untuk berhaji sebelum wafat. (NU Online)