Setelah Berdirinya NU, Konflik Afganistan Semakin Reda | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Setelah Berdirinya NU, Konflik Afganistan Semakin Reda

PMII NEWS Online
20 Juni 2019
Foto: PCINU Afganistan / NU Online
PMII NEWS Online - Konflik saudara berkepanjangan di negeri Afghanistan mendorong para ulama lokal berpikir keras untuk menyelesaikannya. Langkah awal yang dilakukan mereka ialah berkunjung ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta pada tahun 2013 silam.

Para ulama Afghanistan tersebut terinspirasi dari pola pemikiran dan gerakan yang dilakukan oleh NU di Indonesia dalam mewujudkan perdamaian, merajut keberagaman Indonesia sekaligus merawatnya, bahkan dalam skala internasional.

Dari beberapa kunjungan tersebut, setahun kemudian yaitu pada Juni 2014 mereka resmi membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA).

Pada tahun 2016 lalu, tercatat NU Afganistan sudah mempunyai kepengurusan di 22 provinsi yang melibatkan lebih dari 6000 ulama berkebangsaan asli Afganistan dari berbagai kelompok dan faksi. Kini NUA sedang mengupayakan pengembangan NU di 34 provinsi di Afghanistan.

NU Afganistan terpisah sama sekali secara struktural dari PBNU, tak seperti Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang tersebar di mancanegara. Para ulama moderat Afganistan mencangkok NU dari Indonesia untuk mempercepat proses perdamaian di sana.

Secara umum, Indonesia telah menegaskan komitmen untuk ikut mewujudkan perdamaian dan stabilitas di Afghanistan, salah satunya lewat diplomasi Islam Nusantara yang diwujudkan oleh Nadhlatul Ulama.

Konflik berkepanjangan di Afghanistan tidak saja menelan korban jiwa dan luka-luka serta hancurnya infrastruktur, tetapi juga runtuhnya kepercayaan pada sesama, saudara sebangsanya sendiri.

Berbagai upaya dilakukan untuk mempertemukan kelompok-kelompok yang bertikai tersebut, termasuk yang diupayakan Nadhlatul Ulama sebagai salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia.

Lewat konsep Islam Nusantara, yang merupakan perwujudan praktik Islam moderat, toleran dan tidak menggunakan kekerasan.

Diwartakan VOA Indonesia, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Asia Pasifik Afrika di Kementerian Luar Negeri Indonesia Arifi Saiman mengatakan, Afghanistan merupakan lesson learned atau contoh model bagaimana Nadhatul Ulama menjadi perekat di antara kelompok dan suku di sana.

“Pengalaman selama ini, kumpul di satu forum yang sama sangat sulit. Tetapi lewat kepengurusan NU Afghanistan mereka bisa akur. Ini membuktikan bahwa konflik bisa diredam jika alat peredamnya pas dengan situasi,” ungkap Saiman, Selasa (18/06/2019).

Ia menambahkan, ada prinsip-prinsip NU yang disetujui dan jadi dasar dalam NUA itu, seperti bersikap moderat, menentang radikalisme, mengedepankan rekonsiliasi dan toleransi.

“Ini menjadi pintu masuk utama. Mungkin dianggap sepele, tapi dampaknya signifikan,” jelasnya.

Sumber: NU Online