Usia 59 Tahun PMII, Refleksi Sejarah Berdirinya | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Usia 59 Tahun PMII, Refleksi Sejarah Berdirinya

PMII NEWS Online
17 April 2019
Penulis: Adil Satria Putra, Ketua Lembaga Kaderisasi PKC PMII JATIM
PMII NEWS Online - 59 tahun yang lalu tepatnya tahun 1960 sejak pertama kali organisasi gerakan kemahasiswaan bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang disingkat PMII dideklarasikan di Surabaya oleh 13 angkatan muda Nahdlatul Ulama. 

Pada masanya PMII adalah organ sayap kemahasiswaan tempat dimana intelektual Cum aktivis mahasiswa NU mengasah gagasan dan bertarung ide. PMII lahir di tengah sengkarut politik yang pelik antara blok pro Soekarno dan blok elite angkatan darat.  

Irisan kedua blok ini kemudian berdampak pada gerbong pecahan lain di belakangnya. Mengiris kelompok tradisionalis versus modernis, mengiris sosialis Komunis versus sosial demokratis, mengiris organ mahasiswa nasionalis sekuler versus organ mahasiswa berbasis keagamaan. 

Sejatinya polemik diantara kelompok-kelompok di atas telah ada jauh sebelum Soekarno menebalkan demokrasi terpimpin serta membaiat dirinya sebagai presiden seumur hidup, hanya saja kebijakan politik Nasakom (Nasionalis, Agamis dan Komunis) serta sederet Jargon ala bung besar itu semakin memperjelas oposisi biner diantara kelompok tersebut. 

Pembagian koalisinya secara sederhana yakni PNI, PKI, NU melawan Angkatan Darat, Masyumi, PSI. 

Patut dicatat bahwa masuknya NU ke dalam koalisi pemerintahan demokrasi terpimpin kala itu memicu polemik yang keras di internal NU sendiri utamanya antara mbah Wahab Chasbullah yang sangat akrab dengan bung Karno serta nyaris selalu sepakat dengan langkah politik bung besar dan mbah Bisri Syansuri yang notabene ingin lebih merangkul kelompok Masyumi dan blok Islam kontra demokrasi terpimpin. Bergabungnya NU di dalam lingkaran Istana kala itu melahirkan anak-anak muda Nahdliyin oposan tangguh seperti Subchan ZE. 

Subchan ZE merupakan oposan NU muda garis depan yang memiliki koneksi pada lingkaran elite angkatan darat kontra bung Karno. Pada waktunya ia akan menjadi sosok kunci berakhirnya rezim Soekarno dengan menjadi orang di balik layar berdirinya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan rentetan aksi KAMI sepanjang 1965-1967, termasuk menjadikan sahabat Zamroni (salah satu pengurus PB PMII periode Mahbub Djunaidi dan terpilih sebagai ketua umum PB PMII setelahnya) sebagai presidium pusat KAMI. 

Agus Sunyoto menyatakan bahwa kelahiran PMII tidak bisa dilepaskan dari konteks ruang-waktu politik golongan kala itu. Dimana momentumnya belum terlalu jauh dari peristiwa PRRI/Permesta yakni suatu gerakan upaya kup terhadap Pemerintah Republik yang dalam versi bung Karno turut melibatkan elite Masyumi serta elite PSI di dalam gerakannya. 

Bung karno memukul balik gerakan ini dengan aksi pembubaran Masyumi-PSI sekaligus. 

Bung karno memang mendapat dukungan yang cukup besar dari angkatan muda nasionalis yg diwakili GMNI dan angkatan muda soskom yang diwakili CGMI. Tapi tentu ia memiliki oposan yg tidak bisa dipandang sebelah mata dari angkatan muda islam anak kandung masyumi yakni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 

Bagi bung karno HMI adalah basis kelompok mahasiswa Islam yang kontrarevolusioner oleh karena itu ia butuh back-up kekuatan dari blok angkatan muda Islam yang sesuai dengan platform politiknya. 

Ia kemudian sowan kepada mbah Wahab Chasbullah dan pak Idham Cholid untuk membicarakan kemungkinan dibentuknya satu organ kemahasiswaan ke-Islam-an yang Islam nya Indonesia. 

Ruang kosong tersebut kemudian diisi oleh PMII. Organ kemahasiswaan ke-Islam-an yang Islam nya Indonesia serta progresif revolusioner sesuai dengan cita-cita bung besar (kepingan sejarah ini bisa didapatkan melalui rekaman pidato bung karno pada kongres pertama PMII, dimana di dalam pidato tersebut bung karno beberapa kali berteriak ganyang HMI) 

Waktu terus beranjak dari tahun 1960 tahun di mana PMII lahir menuju tahun 1965 tahun di mana polemik politik tingkat tinggi menuju titik kulminasi. 

Tepat tanggal 30 September gunung api konflik itu meletus ditandai dengan terbunuhnya tujuh jendral angkatan darat. 
Peristiwa tersebut menjadi trigger huru-hara massal baik di Jakarta maupun di daerah. 

Selanjutnya episode yang berjalan adalah episode-episode catatan gelap Republik. Sayup-sayup gerakan ketidakpercayaan akan kepemimpinan bung Karno pun bergeliat dilingkaran mahasiswa. Mereka menganggap panglima tertinggi revolusi Indonesia ini plintat-plintut di dalam mengambil sikap pasca peristiwa G30S-PKI. Padahal dalam versi mereka telah nyata-nyata dalang di balik upaya kup ini adalah PKI. 

Banyak pertanyaan yang acapkali dilemparkan pada saya. Dimana Mahbub Djunaidi memposisikan dirinya kala itu. Bukankah Mahbub adalah satu dari sedikit mahasiswa kepercayaan bung Karno ? 

Saya tak bisa menjawabnya, karena jelas Mahbub mengalami dilema yang luar biasa guna mengambil sikap dalam momentum terdesak seperti itu. 

Tetapi Chalid mawardi pernah menyampaikan dalam satu kesempatan bahwa mahbub bukanlah orang yang bisa disetir oleh Subchan ZE. 

Berarti ada kemungkinan Zamroni menduduki kepemimpinan presidium pusat KAMI tanpa rekomendasi Mahbub melainkan menggunakan tangan dingin Subchan ZE. 

Muhammad Al fayyadl di dalam catatan detik-detik menjelang dan pasca peristiwa 30 September juga menuliskan secara gamblang bagaimana Subchan ZE dapat melakukan manuver tingkat tinggi baik ke dalam lingkaran angkatan darat maupun kedalam elite NU.
Subchan ZE telah mengadakan pelatihan-pelatihan bersenjata bahkan sebelum malam 30 September. Artinya Subchan telah memprediksi datangnya titik kulminasi tersebut. Fayyadl juga mencatat bahwa diantara anak-anak muda yang dilibatkan dalam latihan singkat paramiliter itu antara lain kader-kader HMI dan PMII.

Subchan pula yang menjadi aktor kunci ditandatanganinya Resolusi Jihad ganyang gestapu oleh tokoh-tokoh sepuh NU. 

Dan di dalam surat resolusi tersebut juga disebutkan bahwa PMII mendukung adanya pengganyangan gestapu. Ganyang Gestapu kemudian disambut dengan amok massal penghabisan kekuatan anasir Komunis sampai ke akar-akarnya. 

Tentu ini kemudian sama dengan habisnya basis kekuatan pro sukarno dan penanda senjakala kepemimpinannya. 

Ironis akhirnya, peran PMII yang diharapkan menjadi back-up kekuatan prorev Soekarno justru berputar haluan 180 derajat menjadi lokomotif pendobrak kekuasannya. 

Orde baru lahir dan PMII-NU dengan orkestrasi Subchan menjadi bagian yang memiliki sumbangsih atas tumbuhnya rezim militer ini. 

Ada banyak harapan yang dicita-citakan oleh Subchan dan lingkarannya atas muncul kepemimpinan baru ini. mungkin diantaranya perbaikan situasi ekonomi-politik yang lebih kondusif dari pada kepemimpinan bung Karno yang lebih mengedepankan slogan-slogan serta makian tak substansial di dalam membangun perekonomian Indonesia yang lebih baik. 

Namun apa daya gayung itu tak bersambut, yang terjadi kemudian adalah dipukulnya basis kekuatan kelompok NU sampai ke akar-akarnya oleh kekuatan militer di bawah komando soeharto. Karena dianggap NU adalah satu-satunya lawan potensial yang tersisa untuk menghalangi rencana jangka panjang kekuasaan rezim totaliter ini. 

Konon sebenarnya pemenang pemilu 1971 adalah partai NU tetapi melalui kerja intelijen dan kerja tentara di desa-desa kantong suara nahdliyin dihabisi dan dimanipulasi sedemikian rupa sehingga NU hanya mendapat sekian suara dan nangkring di belakang Golkar. 

kemudian sejak kemelut tersebut masuklah ijtihad politik NU di bawah komando mbah Bisri Syansuri, satu periode di mana Fealy menyebutnya dengan periode Tradisionalisme radikal, NU Vis a Vis Negara. 

Banyak kebijakan Rezim yamg ditentang secara diametral oleh NU, termasuk diantaranya rancangan undang-undang perkawinan dan tekanan Golkar menjelang pemilu 1977 di mana PPP dilarang menggunakan simbol Ka'bah sebagai logo partainya serta sederet manuver Soeharto lainnya, kesemuanya ditentang secara tegap tanpa tedeng aling-aling oleh gerbong NU di bawah komando mbah Bisri Syansuri. 

Situasi tradisionalisme radikal inilah, walaupun resistensinya tingkat fluktuatif namun NU juga PMII konsisten menempuh jalan keterasingan ini selama 32 tahun rezim orde baru (orba. 

Situasi yang berkebalikan dengan kolega sesama organ mahasiswanya yakni HMI yang nyata-nyata menjadi anak emas rezim. 

Tengok saja angkatan pertama generasi HMI pasca peralihan dari Soekarno ke Soeharto sebut saja Nurcholis Madjid, Syafii Ma'rif atau Amien Rais melalui klik-klik tertentu mereka bisa berangkat ke Chicago untuk belajar studi Islam dan kemudian menjadi intelektual garda depan di dalam berbicara pembaharuan pemikiran Islam. 

Sementara generasi pertama kita macam Mahbub Djunaidi serta sahabat-sahabat lainnya terus menempuh jalan pedang hingga akhir hayat. 

Selamat hari lahir PMII ke 59 tahun 17 April 1960 - 2019, kau adalah Rahim bagi kelahiran kali kedua kami.