Sehimpun Puisi: Menanak Rindu Berlapar-lapar Temu | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Sehimpun Puisi: Menanak Rindu Berlapar-lapar Temu

PMII NEWS Online
01 April 2019
Foto: Muhammad Sufyan Arrosidi (Penulis)

***

Percayalah; senyummu masih mekar melebihi fajar.

Bagaimana aku bisa bertemu lama-lama denganmu 
Di cafe atau alun-alun kota ini 
Bagaimana aku harus menemuimu dalam waktu dekat
Sedangkan kecamuk hujan semakin ganas

Aku sudah tidak tahu lagi, bagaimana caranya menyimpan rindu ini yang kadung meluap-meluap
Hujan tiada henti turun ke bumi

***

Untuk seorang demonstran;
Kau memang tidak akan kewalahan untuk melakukan perlawanan 
Tetapi kau akan terkapar jika yang kau lawan adalah senyuman dari seorang perempuan.

***

Kepada minggu yang kemarau
Tidak seperti minggu yang berlalu
Ia masih bisa mengelak dari rindu 
Tetapi tidak dengan minggu yang akan datang 
Ia benar-benar tidak ada dalih untuk berkata rindu 
Pada kekasihnya yang berjauhan 

Oooh kekasih betapa kau tidak akan percaya; jiwa ini kering 
Seumpama bunga yang ditinggalkan tuannya, tak punya daya membikin saripati.

Senin, Hujan di awal Januari.

Oleh: Muhammad Sufyan Arrosidi