Saya Perempuan Perokok | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Saya Perempuan Perokok

PMII NEWS Online
17 April 2019
Penulis: Kaderizen
PMII NEWS Online - Ini merupakan sebuah pengakuan saya menjadi perempuan 100% merdeka dengan kehendak hidup sendiri tanpa interfensi stigma manusia dan dogma agama. Saya perempuan perokok, jadi lo mau apa?

Saya menjadi perokok aktif sudah hampir sekitar tiga tahun. Memang masih sangat dini untuk 'sok' mengakui bahwa saya adalah perokok sejati. Tapi mengakui hal yang dirasa sangat ‘hina’ bagi seorang yang dilakukan oleh perempuan membuat saya mampu untuk berdiri diatas kaki sendiri.

Menjadi seorang perempuan perokok bagi saya, sebuah bentuk kebebasan bergerak dalam menentukan pilihan hidup dan cara dalam memandang sesuatu, tidak terintimidasi oleh sesuatu hal yang sering kita sebut sebagai dogma dan stigma yang tidak boleh dipertanyakan.

Kalau boleh nyulik kata-kata dari Fiersa Besari kira-kira begini “kita tidak akan kenyang karena di puji, tidak akan mati karena di caci”. jadi ya, biasa saja. gak akan mati atau kenyang juga kok.

Saya memutuskan menjadi seorang perokok karena memang saya ingin dan mau. bagi saya, yang memiliki karakter sedikit maskulin dengan cara berpikir yang sedikit radikal, perempuan yang merokok itu sah-sah saja.

Pantas tidaknya seseorang untuk merokok bukan dipandang dari jenis kelaminnya, bukan dipandang karena dia nakal makanya dia merokok, bukan karena dia banyak uang terus ngerokok, dan bukan cuman sekedar buat gaya-gayaan. Merokok adalah sebuah kebebasan batin menuju kebebasan berpikir.

Eits... Tapi tunggu dulu. Saya bukan penganut paham gender, wahai saudara-saudara. Entah kalian semua mau menganggap saya penganut aliran apa, tapi yang jelas saya bukan penghamba gender.

Namun setelah saya mengamati, lingkungan pertemanan saya adalah lingkungan dimana kesetaraan gender sangat di junjung tinggi. dimana perempuan dan laki-laki bisa melakukan hal yang sama.

Tidak ada bedanya dan memang tidak mau membeda-bedakan. Pandangan laki-laki dalam lingkungan pertemanan sayapun sudah lumrah melihat perempuan merokok. Rokok bagi seorang perempuan mereka anggap adalah sebagai hak yang bisa perempuan pilih atau tolak, bukan menjadi hal yang sudah terlabeli haram untuk perempuan pilih.

Jadi pernyataan lingkungan mempengaruhi pemikiranmu bagi saya itu sangat benar, tapi tidak semudah itu juga, dan jangan ditelan bulat-bulat, harap di cerna terlebih dahulu, wahai saudara-saudara. biar tidak ada kesalahpahaman diantara kita tetapi biarkanlah ada cinta diantara kita semua haha.

 Pandangan khalayak terkait hal tersebut sama sekali tidak lumrah, tidak jarang saat saya mulai ‘ngudud’ banyak pandang mata sinis yang memperhatikan, jika mata itu bisa bicara kira-kira dia bakal ngomong begini .

“Ih... Perempuan kok ngerokok sih?. Gak tau adab”.
“Perempuan nakal, orang tuanya gimana ngedidiknya?”

Pernyataan diatas menurut saya itu adalah hal yang lumrah dan bisa dimaklumi, karena kembali lagi cara pandang dan budaya di masyarakat kita tidak bisa menerima perempuan perokok sebagai suatu kebiasaan dan hal yang bisa ditoleransi.

Tapi saya tidak terlalu ambil pusing dengan cercaan mereka, saya hanya anggap mereka suka mikir luas dan liar, tetapi tidak berani bermain dan melihat hal yang buas.

Sewaktu saya baru beberapa bulan aktif merokok, saya sudah mikir keras soal pertanyaan diatas, wahai saudara-saudara. tapi percayalah, jati diri kita 70% dibentuk oleh diri kita sendiri. dari kita memilih teman, apa yang disukai oleh kita, cara memandang sesuatu, buku favorite apa yang kita baca, bahkan playlist apa yang sering kita dengarkan.

Semua itu sangat dan sungguh sangat mempengaruhi kita dalam menentukan dan menemukan jati diri kita, yang 30% adalah dari hak waris kita tentunya, atau bisa dibilang bawaan dari orang tua.

Tapi kita mau menjelaskan macam di atas kepada orangtua kita?, tidak akan semudah itu. maka dari itu mengapa saya lebih memilih tidak jujur dengan pilihan saya soal rokok.

Alhasil karena keputusan saya yang lebih memilih tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang tua saya, rumah saya bagaikan pom bensin. Dilarang merokok sudah tertera walaupun tidak secara tertulis.

Karena kalau boleh lebih jujur lagi, ayah saya bukan seorang perokok. Itulah salah satu alasan juga mengapa saya lebih senang untuk tidak mengatakan hal yang jujur.

Jika kata orang jujur itu indah dan lebih baik mengatakan hal yang jujur walaupun menyakitkan, tapi bagi saya indah adalah hal dimana kamu lebih memilih untuk tidak mengatakan yang jujur dan itu justru tidak menyakitkan haha.

Cara mikir diatas memang agak sedikit sampah dan remeh sekali, tapi itulah yang terjadi.

Tidak sedikit teman juga yang meminta saya untuk berhenti merokok, tapi saya tetap merokok dengan santai. Karena itu yang saya pilih. Walaupun kadang juga mikir sih buat agak mengatur ‘ngudud’ dalam sehari harus habis berapa.

Dan yang paling membuat saya tetap bangga dengan keputusan saya adalah dari sebelum menjadi perokok aktif hingga menjadi perokok aktif saya tetap bisa rutin donor darah setiap tiga bulan sekali. Merokok tapi juga tetap harus sehat, wahai saudara-saudara agak shombong dikit bole lah ya.

Pesan saya buat perempuan di luar sana yang bukan perokok. Jangan coba-coba jika kalian belum siap secara mental dan fisik. bisa gila lo hehe.