Refleksi Harlah PMII Ke 59 | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Refleksi Harlah PMII Ke 59

PMII NEWS Online
17 April 2019
Agus Soleh
Penulis: Agus Soleh
PMII NEWS Online - 59 tahun sudah panji-panji Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkibar sejak dideklarasikannya oleh 13 pemuda Nadliyin di Surabaya.

Sejarah panjang perjuangan PMII mengawal Islam Ahlussunnah Wal jamaah An-Nahdliyah dan berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kontribusi besar PMII dalam setiap momentum perubahan arah gerak bangsa, yang pertama dalam kongres ke dua PMII berpihak kepada penderitaan rakyat yang diimplementasikan dalam dokumen penegasan Jogjakarta.

Di era orde lama mendukung Konferensi Asia Afrika, pada masa rezim otoriter Soeharto dan totaliter orde baru (orba), perjuangan PMII dibawah kepempimpinan Sahabat Zamroni mencetuskan dokumen Tri sikap Jakarta. Dan tak lupa sejarah penting bangkitnya PMII, yaitu Idenpendensi PMII yang kita kenal deklarasi Munarjati di Malang.

Tibalah PMII masuk dalam babakan sejarah baru yang disebut era revolusi industri 4.0 yang berbeda dengan era orde lama, orde baru dan orde reformasi.

Perjuangan hari ini tentu berbeda dengan perjuangan sahabat Majbub Djunadi, Zamroni, M. Iqbal Asegaf, dan Muhaimin Iskandar.

Refleksi ke 59 PMII perlu kita renungkan bersama, melihat kondisi republik Indonesia yang semakin buram dalam hal keberpihakan terhadap kepentingan rakyat. Kader PMII harus peka melihat situasi dan kondisi hari ini.

Tiga poros yang wajib kader PMII perhatikan moderen ini, yang artinya tidak boleh tidak untuk dikritisi adalah State Power, Free Market (Kapital), and Society.

Kader PMII pada dasarnya telah familiar dengan kondisi polarisasi semacam ini, karena momorial PMII telah mencatat sepanjang tiga orde yang telah lalu, bahwa penguasa yang tanpa kontrol senantiasa membangun opiniya untuk memonopoli kuasa, bahwa kapital besar mengintip dan mengunakan tangan penguasa untuk menguras sumberdaya.

Bahwa sesungguhnya perselingkuhan antara penguasa dengan kapital itu adalah untuk pemperdaya rakyat. Jika saat ini masih ada kader PMII yang belum insaf dan sadar tentang kondisi semacam itu, maka bisa ditunjuk kader tersebut tidak betul-betul menghayati ke-PMII-annya.

Tantangan PMII kedepan semakin nyata, bukan lagi isu Ideologi radikal, toleransi, ujaran kebencian dan hoax, tetapi tantangan PMII di tengah-tengah pusaran ekonomi neokolim (neo kolonialisme dan imperialisme) penting juga kiranya melakukan narasi mendalam ekonomi dan politik pancasila dalam perspektif PMII.

PMII tidak boleh terbius oleh sayup-sayup revolusi industri 4.0 yang merupakan ekpansi kapital besar-besaran yang sangat jauh dari semangat ekonomi dan politik pancasila.

Perjuangan politiknya pancasila bicara tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tetapi hari ini rakyat semakin merintih diokupasi oleh pasar yang disponsori oleh negara yang katanya bertuhan dan pancasilais.

Surabaya, 16 April 2019