Kasus Audrey, Stop Bully Pelaku, Kawal Proses Hukumnya | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Kasus Audrey, Stop Bully Pelaku, Kawal Proses Hukumnya

PMII NEWS Online
12 April 2019
Foto: Hasan Bisri, Ketua LKKNU Kota Pontianak
PMII NEWS Online - Kasus audrey harus ditegakkan secara tegas dan adil hingga ke pengadilan anak. Mediasi secara kekeluargaan yang diprakarsai pihak tertentu itu bagus. Secara kekeluargaan, kasus ini harus diselesaikan secara damai agar tidak ada saling dendam dikemudian hari.

Namun bukan brarti saling memaafkan justru menghilangkan kasus hukumnya. Kekerasan atas nama apapun dan dilakukan oleh siapapun harus diselesaikan di peradilan. Apalagi kasus ini sudah mendunia.

Namun Bisakah Penganiaya Audrey Diproses Hukum? Itu pertanyaan besarnya, menurut saya bisa.  Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK, pada BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 ayat:

(1) Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara Anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.

Ayat (3)  Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut Anak adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.

4. Anak yang Menjadi Korban Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Korban adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang mengalami penderitaan fisik, mental, dan/atau kerugian ekonomi yang disebabkan oleh tindak pidana.

5. Anak yang Menjadi Saksi Tindak Pidana yang selanjutnya disebut Anak Saksi adalah anak yang belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan tentang suatu perkara pidana yang didengar, dilihat, dan/atau dialaminya sendiri.

Hal yang lebih penting lagi adalah peran keluarga dan sekolah sebagai lembaga yang mendidik anak utk membangun karakter kepribadiannya. Jika anak sekolah jadi beringas, maka pertanyaannya adalah seprti apa pola didik asuh di dalam keluarganya.

Melihat latar belakang pelaku, saya berasumsi jika di dalam keluarganya si anak mendapatkan perhatian yang baik dari keluarga. Artinya, pola didik asuhnya di keluarga sudah benar, kekerasan yang dilakukan oleh anak anak ini menurut saya penyebabnya adalah pergaulan di lingkungan sekolahnya.

Selain itu saya ingin mengajak kita semua untuk memperhatikan metode belajar di sekolah. Karena pendidikan formal seharusnya mampu mengubah kepribadian anak dari seseorang yg awalnya berparadigma jahiliyah (kaku dan bodoh) menjadi seseornag yang berparadigma modern (humanis dan toleran). Karena prilaku kekerasan yag dilakukan oleh anak remaja penyebabnya bukan tunggal, pasti ada faktor lain.

Menjadi PR kita semua utk melakukan evaluasi secara total. Mulai dari pola pendidikan informal di rumah. Pola pendidikan formal di sekolah dan pola pergaulan di era digital sekarang. Seorang anak yg mendapatkan pendidikan yg baik pasti akan memiliki karakteristik "Memanusiakan Manusia yang Lain" bukan melakukan kekerasan terhadap manusia yg lain.

Mari maafkan pelaku jangan kita bully, tapi penegakan hukumnya harus tetap jalan dan harus dikawal.

Hasan Basri, Ketua Lembaga Kemaslahatan keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Kota Pontianak Kalimantan Barat.