Insiden Pengoroyokan Siswi SMP di Pontianak, Inilah Tanggapan Ketua KOPRI KALBAR | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Insiden Pengoroyokan Siswi SMP di Pontianak, Inilah Tanggapan Ketua KOPRI KALBAR

PMII NEWS Online
10 April 2019
Foto: Sahabat Sri Yulandari, Ketua KOPRI PKC PMII KALBAR
PMII NEWS Online - Kejadian pengeroyokan pada siswi SMP yang terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat bukan hanya meresahkan keluarga korban akan tetapi seluruh masyarakat bahkan aktivis perempuan di Indonesia tak terkecuali Pengurus Koordinator Cabang Korps PMII Puteri Kalimantan Barat (PKC KOPRI PMII KALBAR).

Bagaimana tidak, sejak Selasa 9 April 2019 pengguna media sosial utamanya Twitter dibuat heboh dengan Tagar Justice for Audrey.

Peristiwa itu terjadi pada akhir bulan Maret lalu, namun korban baru berani mengabari kedua orang tuanya pada bulan April ini.

Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Ketua KOPRI PKC PMII KALBAR, Sahabat Sri Yulandari mengatakan wajar apabila media sosial dihebohkan dengan berita Audrey.

"Wajar saja karena tagar tersebut adalah bentuk respon masyarakat atas kasus yang tidak elok dan itu merupakan upaya masyarakat untuk memberikan dukungan kepada korban", ujar Sri Yulandari.

Sri juga mengatakan bahwa kasus yang terjadi pada Audrey bukan hanya bullying tapi sudah tindak kriminal yang sudah sepantasnya pelakunya diberi hukuman.

"Walaupun pelaku yang berjumlah 12 orang tersebut masih dibawah umur tapi tidak ada alasan atas perbuatan yang mereka lakukan, apalagi sebagai kaum terpelajar yang baru saja menyelesaikan pendidikan SMA sudah sepantasnya mereka diberikan efek jera agar sedikit berfikir bahwa apa yang mereka lakukan salah," tambah Sri.

Bagaimana bisa ada seorang siswi yang sok merusak mental dan bagian alat vital di tubuhnya.

"Moral pelajar seakan tidak ada yang mendidik, membabi buta seperti tidak diajari etika. Pesannya Mari kita sama-sama mengawal proses hukum pada kasus ini. Jangan sampai kasus ini selesai begitu saja tanpa adanya penyelesaian dari kedua belah pihak," tutupnya.

Berbagai macam simpatisan banyak berdatangan dari berbagai kalangan seperti gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji beliau mengatakan “Mereka memang masih dibawah umur, tetapi kalau dikaji, apa yang mereka lakukan lebih dari kenakalan anak dibawah umur dan harus ada efek jera dan saya dukung upaya orang tua korban untuk dapatkan keadilan. Guru hendaknya bisa tahu prilaku anak disekolah," tegasnya.

Demikian pula Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono meminta agar pihak Kepolisian dan Dinas Pendidikan serta pihak sekolah untuk melakukan investigasi mengenai kasus penganiayaan yang dilakukan 12 siswi SMA Pontianak terhadap seorang siswi SMP Pontianak.

Hukum yang berwenang dan berkeadilan berkewajiban untuk mengusut tuntas peristiwa ini agar tidak menjadi contoh oleh kaum millenial lainnya.
Pewarta : Editor :
Rika Artika AamNh7