Seminar KOPRI Rayon Al Kindi Bertajuk Tinta Perempuan | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Seminar KOPRI Rayon Al Kindi Bertajuk Tinta Perempuan

PMII NEWS Online
16 Maret 2019
Foto: Rayon Al Kindi Komisariat UNISMA PMII Kota Malang gelar Seminar bertajut Tinta Perempuan di Hall Oesman Mansyur Kampus UNISMA
PMII NEWS Online - Sadar akan pentingnya literasi, Korps PMII Putri (KOPRI) Rayon Al-Kindi Komisariat UNISMA  menggelar Seminar bertajuk "Tinta Perempuan". Seminar yang diselenggarakan pada hari Rabu, (13/03/2019) di Hall. Oesman Mansyur UNISMA mengahadirkan dua pembicara yaitu Dr. Nurul Mufidah, M.Pd. dan Sahabat Nur Fitriani.

Pada seminar-seminar sebelumnya KOPRI Rayon Al-Kindi mengangkat perihal kesetaraan gender. Namun berbeda pada seminar kali ini. Seminar kali ini bertujuan agar kader-kader putri PMII sadar akan pentingnya dunia literasi. Tema ini diangkat karena melihat fenomena sosial dimana kurangnya minat kader putri dalam berliterasi.

Dalam sambutannya Sahabat Murni selaku Ketua KOPRI Rayon Al-Kindi menuturkan kader putri hari ini menjadi generasi menunduk yang diperbudak oleh Smartphone sehingga lupa akan keilmuan yang seharusnya didapat melalui buku bacaan dan kajian-kajian ilmiah.

"Kader Putri PMII harus melek literasi untuk menuangkan pemikiran hebat nya melalui karya-karya nyata. Perempuan bukan hanya berada dibelakang kesuksesan seorang laki-laki, tetapi perempuan itu ada di sampingnya dan selalu ada bersamanya, dalam sebuah keberhasilan. Untuk para perempuan jadilah perempuan dalam berpikir dan bertindak, jadilah pelopor bangsa, penggerak bangsa bukan penghancur bangsa," ungkapnya.

Pembahasan

Literasi menjadi hal yang sangat penting, bahkan para pemikir dan pejuang perempuan dikenang melalui tulisan-tulisan nya yang bisa merubah wajah dunia. Perempuan harus berkarya, bukan hanya bergaya. Karena perempuan adalah sosok yang istimewa dengan segala hal yang dimilikinya. 

Kita bisa membaca buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal yang berjudul “Door Duistermis tox Licht, (Habis Gelap Terbitlah Terang)". Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Buku itu menjadi pedorong semangat para wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Perjuangan Kartini tidaklah hanya tertulis di atas kertas tapi dibuktikan dengan mendirikan sekolah gratis untuk anak gadis di Jepara dan Rembang.

Belajar dari sosok RA. Kartini, sudah saatnya kader putri PMII bangkit dan melawan segala bentuk pembodohan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Oleh karena itu kader putri PMII harus banyak menuliskan pemikiran-pemikirannya sebagai bentuk perlawanan dan sumbangsih terhadap dunia literasi. 

Pewarta : Editor :
Kaderizen AamNh7