Meneguhkan Ideologisasi Nilai-nilai PMII | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Meneguhkan Ideologisasi Nilai-nilai PMII

PMII NEWS Online
21 Maret 2019
Foto: Lian Fawahan (Ketua Umum Cabang PMII Pamekasan)
PMII NEWS Online - Sebagai organisasi kemahasiswaan yang mempunyai sistem kaderisasi yang jelas, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus melakukan perubahan sebagai bentuk adaptasi pada perkembangan dan tantangan zaman. Terutama dalam doktrinasi dan penguatan ideologisasi kepada kader dan anggotanya.

PMII terus konsisten dalam memperjungkan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan sesuai dengan nama dan identitasnya. Maka penting pada setiap agenda kegiatannya tidak pernah lepas dalam penguatan nilai–nilai tersebut. Sehingga kecintaan kader PMII terhadap nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan semakin kuat kendati arus globalisasi semakin deras.

Narasi umum nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan PMII adalah, memaknai  Islam Ahlussunnah Waljamaah sebagai manhajul fikr. Hal itu bisa dipahami sebagai metode berpikir yang harus diyakini. Sebagaimana diketahui Aswaja ini merupakan ajaran yang diwariskan oleh para sahabat nabi dan tabiin yang sangat erat kaitannya dengan situasi politik dan sosial yang meliputi masyarakat muslim waktu itu.

Dari  manhajul fikr inilah lahir pemikiran-pemikiran keislaman baik di bidang Aqidah, Syariah, maupun Akhlak dan Tasawuf yang walaupun beraneka ragam tetap satu ruh. Dengan prinsip dasarnya meliputi; tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang) dan ta’addul (Adil).

Selain penguatan ajaran Islam Ahlussunnah Waljamaah yang harus selalu dijaga dan diimplementasikan, PMII harus mampu mengenalkan bagaimana Islam berkembang di Nusantara bagi anggota dan kadernya. Sehingga, kader PMII tidak pernah mengenal Islam dengan cara melompat dari akar sejarah bagaimana Islam tumbuh dan dikembangkan di bumi Nusantara ini.

Islam Nusantara dan Romantisme Sejarah

Islam Indonesia sesuai nama di PMII dan Islam Nusantara. Pada dasarnya keyakinan ini tidak perlu dipertentangkan. Islam Nusantara memang mengesankan romantisme masa lalu. Hal ini lumrah karena pengusungnya adalah kalangan tradisionalis yang tetap ingin melihat hal-hal positif dari masa lalu (al-muhafadzah ala-qodimi-s shalih). Sejarah wali sanga menjadi “imaji” bagi metode dakwah yang pernah sukses membuat gelombang islamisasi di nusantara menjadi jalur yang damai, akomodatif, dan toleran, yang berbeda dari wilayah-wilayah lain dimana Islam datang melalui rangkaian penaklukan militer.

Maka Islam Nusantara dengan segala kekentalanya dengan budaya bangsa ini, perlu untuk terus dipelajari oleh kader PMII, mengingat PMII sudah setengah abad lebih berkembang menjadi organisasi kemahasiswaan yang mengusung nilai keislaman. Kader PMII harus memahami sejarah dan Islam Nusantara sebagai salah satu bagian cara untuk melindungi kader PMII dari paham radikal yang semakin hari semakin masif di Indonesia. Sehingga nilai universalitas Islam yang bisa sesuai dengan budaya Nusantara menjadi Islam Indonesia. Ini adalah karakter Islam yang harus tetap dibangun oleh PMII tentunya yang sejalan dengan ajaran aswaja.

Di kabupaten Pamekasan yang mempunyai banyak organisasi keagamaan dan sosial, membuat tantangan PMII pada wilyah penguatan nilai keislaman semakin kompleks. Hampir tidak ada organisasi yang tidak subur di kabupaten Pamekasan. Sehingga meskipun sudah berproses di PMII, dalam persoalan wilayah keagamaan masih sering berbeda pendapat karena memang lingkungan kabupaten Pamekasan yang mempuyai banyak latar organisasi keagamaan.

Maka dari itu, PMII diharapkan tidak hanya sebatas organisasi ekstra kampus, tempat nongkrong dan sebagai label aktivis semata. Jauh lebih dari itu PMII harus mampu menjadi organisasi penanam dan penyebar nilai-nilai perjuangan bagi para mahasiswa. Khususnya bagi para anggota dan kader yang diharapkan mempunyai corak dan karakter sesuai dengan para pendiri PMII.

NDP dan Implementasinya

Selain itu, kader PMII juga mempunyai landasan yang jelas yaitu Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Nilai Dasar Pergerakan secara esensial suatu sublimasi nilai keislaman dan keindonesiaan dengan pemahaman ahlussunah waljamaah yang terjiwai oleh berbagai aturan, memberi arah, mendorong serta menggerakan apa yang dilakukan PMII.

Dengan rumusan-rumusan Nilai Dasar Pergerakan seperti Tauhid, hubungan Manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Maka kader PMII mempunyai landasan yang kuat bagaimana bergerak dan menentukan sikap dari segala persoalan dan realitas yang dihadapi. Untuk melakukan perubahan yang besar maka sudah menjadi pasti harus dimulai dari diri sendiri dan internal orgaisasi. Contoh yang begitu sederhana, bagaimana NDP tidak mampu diimplementasikan dengan baik pada lingkungan organisasi, penguasaan materi PMII begitu masih sangat lemah, meskipun sudah lulus kaderisasi formal.

Dalam penguatan nilai secara normatif diatas PMII masih sangat begitu lemah. Padahal, normativitas akan membawa konsekuensi pada miskinnya wacana yang lahir sebagai daya tranformasi. Dalam tataran ideal, harusnya PMII sudah melangkah lebih maju mengikuti arah NDP dan mampu melahirkan konsepsi-konsepsi tentang manusia dan arah sejarahnya, tentang pemerintahan (negara), dan tentang alam serta perkembangan teknologi informasi searah zaman.

Contoh sederhana pada momentum suksesi politik nasional 2019. Di mana isu agama menjadi salah satu sentimen politik yang terus menjadi pembahasan dari berbagai wilayah. Tidak terlepas juga di kalangan mahasiswa dan pemuda teruntuk di media sosial. Mereka tak jarang saling hujat bahkan mencaci pada wilayah keagamaan sering terjadi. Ironisnya termasuk kader PMII yang saling bangku hantam di media sosial.

Terlepas dari kader PMII yang masuk menjadi bagian tim sukses politik, harusnya kader PMII yang sudah selesai ataupun masih sedang berproses di PMII berupaya menjadi contoh bagi masyarakat. Bagaimana menjaga hubungan antara manusia dan menjaga kesantunan baik dalam dunia nyata ataupun di media sosial, konsisten membawa spirit wacana ilmiah bagaimana demokrasi harus berjalan.

Ini adalah salah satu di antara indikator bahwa penguatan ideologisasi nilai-nilai PMII begitu masih perlu menjadi perhatian khusus. Meskipun di lain sisi kewajiban organisasi pada kadernya adalah melakukan doktrinasi ideologinya.
Selain penguatan nilai-nilai keislaman di atas, penguatan nilai-nilai keindonesiaan juga harus perlu dilakukan di internal PMII.

Hemat penulis, selain memang sudah menjadi asas tunggal sebagaimana tercantum pada AD/ART PMII, keindonesiaan sudah menjadi identitas PMII sejak dari dulu, maka tidak salah jika bagian dari tujuan PMII adalah memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Jauh dari segala polemik mengenai ideologi negara ini yaitu Pancasila sebagaimana terjadi akhir-akhir ini. Era tahun 1970 PMII telah memutuskan menerima asas tunggal pancasila. Dikarenakan Pancasila tidak pernah bertentangan dengan agama Islam. Dan menerima bahwa pancasila adalah kesepakatan bersama antara kelompok masyarakat dan pendiri bangsa ini untuk mewujudkan satu kesatuan politik bersama. Pancasila adalah rumusan dan pedoman bagi rakyat Indonesia khususnya PMII dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pasca Mahkamah Agung tolak kasasi,  HTI resmi dibubarkan dan menjadi organisasi terlarang dikarenakan ingin mengganti pancasila dan UUD 1945. Maka ini sebenarnya menjadi pelajaran penting bagi PMII, bagaimana mungkin ada organisasi yang bertahun-tahun berada di Indonesia yang ingin mengubah sistem negara dengan segala ajarannya. Tidak menutup kemungkinan ada organisasi lain yang masih belum diketahui yang punya keinginan yang sama yaitu mengubah sistem negara Indonesia, mengingat negara ini secara umur masih belum sampai satu abad.

Lalu, Bagaimana Langkah PMII?

PMII secara tegas dan tetap berkomitmen dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini tidak boleh hanya menjadi slogan semata. Maka langkah yang sederhana PMII harus mempuyai strategi bagaimana menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada kader-kader PMII, dan mampu diimplementasikan pada kehidupannya.

Kaderisasi formal, non formal bahkan informal penting untuk terus dikuatkan mengenai keindonesiaan. Persoalan ideologi negara tidak bisa dipasrahkan hanya pada ruang diskusi. Akan tetapi,  pada ruang emosional sehingga rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap negara dan ideologinya harus  didorong dan ditumbuhkan pada kader dan anggota baru PMII.

Belum lagi PMII juga harus ikut andil dalam menangkal radikalisme yang semakin hari semakin menjamur di negara Indonesia, yang lebih parah adalah saat beberapa kader PMII harus terperangkap dan masuk pada arus radikalisme. Ini menjadi ironi saat organisasi intelektual seperti PMII masih bisa dirasuki sukma radikalisme.

Semua bisa berbangga hati saat organisasi radikal sudah dibubarkan dengan konstitusi. Organisasinya memang sudah bubar dan dilarang. Akan tetapi, paham radikal yang sudah terkadung lama ini tidak mungkin langsung menghilang otomatis dari negara Indonesia.

Maka, tugas besar PMII dengan semua elemen adalah menghilangkan paham-paham radikal ini dan menggantinya dengan nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman yang diusung oleh PMII. Menguatkan nilai-nilai ini harus dilakukan dengan konsistensi dan masif baik secara internal maupun secara eksternal, karena ini adalah langkah yang paling awal untuk bisa berkonstribusi pada negara, agama dan bangsa.

Sekali bendera PMII dikibarkan, hentikan ratapan dan tangisan

Penulis: Lian Fawahan (Ketua Umum Cabang PMII Pamekasan 2018-2019)