Sekilas Sajian Buku Mantra Dari Langit | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Sekilas Sajian Buku Mantra Dari Langit

PMII News Online
28 Februari 2019
Foto: Cover buku Mantra Dari Langit. Pemesanan buku bisa menghubungi penulisnya melewati WhatsApp: 085259308540
PMII NEWS Online - Dalam perjalanan manusia sering dihadapkan pada kejadian dan peristiwa di mana ia harus menyatakan dirinya agar selalu bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggalnya. Tak hanya itu, manusia sebagai makhluk yang beragama dibalut dan dipayungi nilai serta batasan-batasan yang menjadi sumber acuan segala aktifitas kesehariannya.

Di tengah marak dan tumbuhkembangnya pengetahuan, justru banyak manusia yang tak mampu menyerap inti sari nilai agama yang semestinya. Sebab, realitas seringkali menggiringnya mendangkalkan makna dalam berkehidupan. Sehingga hidup yang semestinya melahirkan bahagia, harmoni dan kebersamaan, justru bergeser menjadi ancaman yang menegangkan dan menakutkan.

Atau dalam pengertian lain, dapat disimpulkan, banyak manusia yang belum sampai pada titik di mana hakikat agama yang memberikan kenyamanan, ketenangan dan kedamaian. Innaddina inda Allahil Islam; Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah yang memberikan keselamatan (terjemahan Gus Dur). Artinya, ketika masih banyak persoalan yang menyebabkan ketidaknyamanan atau masih merasa ada yang tidak nyaman, artinya keberagamaan perlu dipertanyakan, perlu diasah, diperdalam dan dipertajam.

Sajian dalam buku Mantra dari Langit merupakan hasil terkaan kritis dari pelbagai peristiwa dan perjalanan saya yang sengaja dirangkai dan sangat tidak mungkin untuk saya biarkan. Kemudian saya mencoba menjelaskan melalui perpaduan dalil aqliyah dan dalil naqliyah guna menjabarkan pelbagai realitas tersebut ke arah yang lebih mendalam dan substansial.

Dalam buku ini saya menaruh minat pada agama, dan juga problematika sosial dan kebangsaan. Kebanyakan tulisan bertema agama sangat dangkal. Hanya berkutat pada perihal halal-haram, pahala-dosa, surga-neraka. Sehingga membosankan. Namun dalam buku Mantra dari Langit ini, saya mencoba menguraikan persoalan agama secara cukup mendalam. Tidak dangkal. Tidak berkutat pada acara rutin keagamaan.

Saya memandang persoalan sosial dan politik dari sudut pandang agama dengan khas santri: penuh dalil. Dengan beberapa literatur bahasa arab yang saya ketahui, dalil-dalil agama Islam saya coba jelmakan menjadi sebentang pengertian yang mendalam. Dengannya saya mencoba mengoperasionalkan dalil-dalil agama itu guna menjawab persoalan sehari-hari. Mudah, ringan, mendalam.

Buku Mantra dari Langit ini diterbitkan secara swadaya. Sebagai bentuk gambaran gerakan teks. Yakni gerakan yang diawali Gus Dur muda dulu.

Dalam buku ini, saya menulis cerita khas pesantren dengan tokoh Nyai Surti. Tokoh ahli agama Islam yang salaf, tetapi kontroversial. Saya mencoba mengeksplorasikan logika beragama yang khas Gusdurian secara tepat lewat seloroh dan ucapan-ucapan Nyai Surti dalam buku ini. Saya memposisikan agama sebagai pencerahan. Dan itu saya gali dari pemahaman terhadap agama secara tekun di dunia pesantren tradisional dulu.

Tokoh Nyai Surti dalam buku ini, melukiskan sosok yang ndeso. Sosok yang sakral di kalangan orang-orang pesantren NU. Karakter Nyai Surti sebenarnya adalah karakter yang menyimpang. Penyimpangan itu terjadi lantaran logika berpikirnya menabrak kelaziman pandangan keagamaan yang dianggap mapan, baku, dan tak bisa diotak-atik. Pendobrakan cara pikir Nyai Surti terhadap kemapanan doktrin agama itu, justru terbangun dari penguasaannya yang mendalam terhadap agama itu sendiri yang berbentuk pengkhianatan keilmuan. Atau---boleh dibilang, kritik agama yang dilakukan dari dalam agama bersangkutan.

Nyai Surti menggoyahkan doktrin agama dengan logika keilmuan agamanya yang rasional. Tetapi di sisi lain, sosoknya disakralkan dan tampaknya, Nyai Surti menikmati pensakralan itu. Sehingga dengan entengnya ia membenturkan agama yang formal dengan realitas agama yang kultural. Tersebut mengingatkan kita pada sosok Gus Dur, atau para ahli-ahli agama yang dianggap nyeleneh di kalangan pesantren tradisional.

Saya berkeyakinan, semangat dan kemauan para sahabat dalam menebar kebaikan, kearifan dan kemanusiaan merupakan bakti yang harus senantiasa dilestarikan. Dengan maksud, tak lain untuk terus menggali ilmu sedalam dan seluas-luasnya. Semoga Tuhan mencatat semuanya sebagai suatu kebaktian kita sebagai hamba-Nya. Amin.

Oleh: Mohammad Afifi (Penulis MANTRA DARI LANGIT)