Asa Hijaukan Kampus Hijau | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Asa Hijaukan Kampus Hijau

PMII NEWS Online
12 Februari 2019
PMII NEWS Online - Geliat kegiatan mahasiswa aktivis organisasi ekstra kampus, khususnya dalam ranah gerakan, di lingkungan IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang hingga saat ini sepenuhnya masih dikuasai oleh PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Narasi demikian pasti diaminkan semua kalangan mahasiswa, utamanya mahasiswa yang selama ini tumbuh dan dibesarkan oleh organisasi kemahasiswaan yang didirikan oleh Mahbub Djunaidi itu. Suka atau tidak, fakta ini menggambarkan sebuah tanda-tanda organisasi lainnya telah mengalami fase “mati suri”.

Sebagaimana acap kali penulis ungkapkan, baik dalam kesempatan tatap muka dengan mahasiswa maupun lewat tulisan, bahwa bendera organisasi kemahasiswaan eksternal kampus di halaman IAI Al-Qolam Gondanglegi hanya dikibarkan oleh PMII dan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Adapun kader-kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang konon katanya mulai memakai baju kebesarannya, hingga per-hari ini masih belum punya nyali untuk memancangkan lambang organisasinya di tengah apitan dua organisasi kemahasiswaan yang telah eksis terlebih dahulu.

Apabila situasi ini diteruskan dengan sebuah tanya, kenapa papan nama organisasi yang berdiri atas prakarsa Lafran Pane belum terpasang ? maka jawabannya tentu beragam, sesuai dari sudut pandang mana kita membaca fakta-fakta tersebut. Tetapi dalam tulisan singkat ini, penulis mencoba memotretnya dari sisi animo kompetisi antar organisasi ekstra kampus.
~~~

Di tengah hiruk-pikuk proses akademik dan pengembangan IAI Al-Qolam hingga sekarang, eksistensi mahasiswa di atas altar organisasi kemahasiswaan, masih didominasi oleh PMII. Rupanya status mayoritas yang disandang oleh organisasi kemahasiswaan yang berdiri pada tahun 1960 itu belum bisa tergantikan. Sehingga nama-nama aktivis organisasi yang lahir di kota Surabaya itu tidak saja menggema di tengah-tengah internal kampus, namun benar-benar telah menghiasi setiap dinamika organisasi kemahasiswaan di luar pagar Al-Qolam.

Terkait dengan persoalan HMI di lingkungan IAI Al-Qolam, bukan rahasia lagi penulis berkali-kali mendorong mahasiswa perguruan tinggi berbasis pesantren itu agar segera menebar jaringnya. Tetapi sampai saat ini pun, kader-kader organisasi kemahasiswaan yang didirikan di Yogyakarta itu selalu saja bersikap tiarap untuk melakukan pengembangan sayap-sayap organisasi mereka.

Penulis menebak bahwa hal yang melatari kondisi ini lebih banyak disebabkan oleh wujud PMII yang kian menggurita di alam Al-Qolam, sehingga keberanian kader HMI menjadi ciut dibuatnya. Oleh sebab itu, tidak terlalu berdosa jika penulis mengambil konklusi bahwa militansi aktivis organisasi yang memiliki lambang warna hijau-hitam itu perlu dipertanyakan.

Padahal umpama mereka memiliki rasa cinta terhadap organisasi yang selama ini digelutinya dan sekaligus mempunyai komitmen tinggi, maka terdapat banyak langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan mereka. Sayangnya, hingga kini keberadaan kader-kader organisasi yang mengobarkan slogan: “Yakin Usaha Sampai” itu masih lebih sering dinina-bobokkan gadget, ketimbang harus berpeluh-peluh memperjuangkan organisasinya.

Secara ringkas, penulis dapat mengidentifikasi upaya-upaya yang sebenarnya bisa diwujudkan para aktivis HMI, antara lain:

Memainkan Isu-isu Pemikiran

Mewacanakan isu klasik yang bertalian dengan ritual-ritual ke-NU-an lewat cara menabrakkan dengan konsep-konsep peribadatan Muhammadiyah merupakan tema umum yang paling gampang diledakkan di antara mahasiswa. Praktek beribadah yang selama ini diyakini menyerap kearifan lokal bagi kaum nahdliyyin dibenturkan dengan sebuah pandangan amalan “khurafat” bagi kalangan warga organisasi yang bersimbol matahari itu.

Melontar isu-isu lama seperti di atas di tengah-tengah komunitas mahasiswa yang notabene berlatarbelakang kultur NU tentu sangat beresiko tinggi. Bila salah mengemas isu-isu itu dalam diskursus yang ilmiah, maka kader HMI akan berakhir tidak populer. Oleh sebab itu, pilihan strategi ini mempersyaratkan tingkat intelektual dan kecerdasan yang mumpuni dalam membingkai narasi dan argumentasi.

Isu lain yang dapat dimainkan kalangan aktivis HMI adalah dengan metode membombardir aspek-aspek kelemahan PMII dari sisi aktualisasi organisasi sehari-hari. Jika isu ini disuarakan secara terus menerus kepada mahasiswa, maka bukan mustahil stigma negatif terhadap organisasi berbendera kuning itu akan cepat menyebar.

Tentu saja obyek permainan isu ini ditujukan kepada aktivis mahasiswa yang mengambang. Sebab diakui atau tidak, banyak dari anggota organisasi kemahasiswaan yang tidak mempunyai komitmen yang kuat sekalipun mereka telah melewati proses kaderisasi. Keikutsertaan mereka cuma mengekor belaka, sehingga keberadaannya tidak lebih dari hanya sekedar “brutus” yang cenderung berkelakuan “latah”. Model aktivis demikian inilah yang dapat dijadikan sasaran tembak dari strategi  ini.

Penguatan Rekrutmen

Sebagai organisasi yang berbasis manajemen modern, HMI dipercayai telah memiliki mekanisme perekrutan anggota yang terorganisir rapi. Tetapi dalam konteks perguruan tinggi Al-Qolam, kader HMI tidak saja harus merumuskan langkah-langkah proses penjaringan anggota, namun sudah waktunya mereka menampilkan jatidirinya yang selama ini hanya bergerilya di bawah tanah.

GMNI yang selama ini menjadi rivalitas tunggal masih tertatih-tatih melawan PMII, apalagi hanya HMI yang sementara ini bergerak secara mengendap-endap tentu akan mudah tersungkur berhadapan dengan kedigdayaan organisasi yang berslogan “Dzikir, Fikir, dan Amal Saleh” itu. Oleh karenanya, sudah saatnya HMI harus berani membentangkan benderanya di langit Al-Qolam agar gerbongnya tidak hampa dari kader.

Koalisi Organisasi

Sebagai organisasi yang hingga saat ini menjadi mayoritas, PMII selalu mendominasi seluruh aspek dinamika kemahasiswaan, termasuk dalam hal jumlah kader-kadernya.

Pada titik ini, organisasi minoritas sulit menemukan grafik anggotanya menanjak tajam. Kenyataan demikian itu dapat dicermati dari peluang mengeruk kader, GMNI hanya mendapatkan sisa-sisa aktivis mahasiswa mengambang yang kering dari kualitas.

Dalam rangka mewujudkan bagian strategi organisasi, HMI Al-Qolam perlu mempertimbangkan kemungkinan kerja sama dengan organisasi yang berazaskan Marhaenisme Bung Karno itu. Sebetulnya sebuah koalisi dilakukan dalam konstalasi politik kekuasaan.

Namun dalam situasi melawan kekuatan PMII yang telah merajai semua lini, maka kerja bersama dua organisasi minoritas menjadi absah saja demi kepentingan meraup kader sebanyak mungkin. Tentu dalam hal ini, keduanya harus berlapang dada melupakan prinsip-prinsip ideologis dan asas-asas perjuangan masing-masing.
~~~

Tiga langkah strategis di atas memang ikhtiar minimal, tetapi jika diupayakan dengan niatan yang sungguh-sungguh, maka eksistensi HMI di lingkungan IAI Al-Qolam akan diperhitungkan.
***
Semoga berkah.

*Penulis: Gus Mad (Direktur Kepesantrenan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang)