PMII Menjaga Tradisi NU, Kampus Umum Dan Era Digital | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PMII Menjaga Tradisi NU, Kampus Umum Dan Era Digital

PMII NEWS Online
03 November 2018
Foto: Abdul Ghoni, Ketua PKC PMII JATIM
PMII NEWS Online, Opini - Jauh dipandang ke depan; Nilai Dasar Pergerakan, Manhajul Fikr Aswaja Annahdliyah, Nilai-nilai dan Norma-norma serta produk hukum PMII lainnya, bukan hanya sekedar pijakan, pedoman dan kacamata dalam ber-PMII saja, melainkan juga jauh ke depan ia adalah tentang kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karena itu, perubahan dan perkembangan zaman yang terdampak oleh arus globalisasi komunikasi dan globalisasi ekonomi yang cepat berubah-ubah, akan senantiasa terjaga nilai-nilai keluhuran dan kearifan budayanya oleh kita, sebagai bangsa yang mandiri dan berjatidiri.

Sebagai salah satu bagian inti dalam tubuh NU, PMII menjadi sangat diperhitungkan dalam peta pertarungan ideologi pada ranah intelektual, khususnya di dalam kehidupan kampus perguruan tinggi, yang mana adalah menjadi sumber segala perubahan besar sepanjang sejarah bangsa Indonesia. Selain ia menjadi garda terdepan ia juga menjadi penjaga nilai-nilai Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah serta juga mampu untuk menjadi penyeimbang nilai-nilai intelektualitas yang keniscayaan ‘kebebasannya’ tidak bisa kita cegah.

Fungsi Perguruan Tinggi sebagai wahana eksplorasi pengetahuan yang secara mendalam, terfokus dan terarah ilmiah. Tetaplah harus di-kedemikian-kan, dan tidak boleh ada pembatasan-pembatasan yang bersifat diskrimitatif, apalagi sampai munculnya tindakan persekutif. Kebiasaan PMII yang memandang segala sesuatu secara menyeluruh dan tidak meminggirkan tarikan-tarikan variabel lain, menjadikan PMII selalu menghasilkan produk-produk pemikiran dan gerakan yang ideal dan kontekstual dalam ruang yang tepat.

Perguruan Tinggi ‘umum’ sudah saatnya menjadi basis utama PMII, sementara telah kita ketahui bahwa sebagian besar produk intelektual dan produk akademik lainya, pada hari ini adalah didinasi oleh para mahasiswa yang dididik di kampus Perguruan Tinggi ‘umum’. PMII tidak akan merebut, akan tetapi PMII akan mencondongkan cara berfikirnya untuk menggarap basis di Perguruan Tinggi ‘umum’ hal tersebut akan dapat dilaksanakan leh para pengurus cabang dan koorcab juga pengurus besar dalam skala nasional.

Pada tahun ini, bangsa kita sudah mengawali pesta demokrasinya, sejak kita menjalani pilkada Jawa Timur tahun 2018, sampai pada Pemilu dan Pilpres 2019 nanti. Polarisasi yang terbentuk di masyarakat kita juga sudah mulai nampak, terlebih jika dilihat di dunia maya atau media sosial. Khawatirnya polarisasi yang ada bukan hanya tentang dukung mendukung pilihan Presidennya, melainkan secara kasat mata kita telah menyaksikan bahwa ada pihak ketiga yang menginginkan adanya polarisasi yang ekstrim yang terjadi di antara kita, termasuk di dalamnya adalah geliat kembalinya pemakaian politik identitas yang digunakan oleh beberapa tokoh dan kalangan tertentu. Tak ketinggalan juga bahwa ruang-ruang perguruan tinggi pun telah terjangkiti, sedangkan kita tahu bahwa perguruan tinggi adalah basis utama PMII.

Hal demikian jika tidak kita perhatikan secara seksama dan tidak menjadi bagian dari kesadaran pergerakan bersama, jelas sangatlah membahayakan bagi kehidupan kebangsaan kita yang ‚Bhinneka Tunggal Ika‛, sementara kita adalah bagian dari garda utama basis intelektual bangsa ini. Oleh karena itu, tugas dan orietasi berfikir kader-kader pergerakan hari ini sudah sepantasnya di-upgrade dengan wacana dan isu-isu yang digelontorkan oleh para pemain politik seperti yang tersebut di atas. Akan menjadi tidak baik jika kader pergerakan hanya terpasung dalam persoalan dukung mendukung dalam pesta demokrasi saja.

Komitmen atas toleransi dan kemoderatan yang sudah membudaya di dalam kehidupan kampus, yang sudah mulai tergerus akibat globalisasi informasi adalah menjadi bagian yang diharapkan tidak terpinggirkan dalam konteks pemikiran dan gerakan, sehingga kebiasaan dan budaya yang baik yang mencerminkan ciri kehidupan yang rahmatan lil alamin di dalam kehidupan kampus baik akademik maupun non akademiknya tetaplah terjaga dan terlestarikan.

Maka PMII dalam hal ini, telah berada dalam posisi yang berdiri tegak di atas semua golongan di dalam kehidupan kampus, hanya saja yang kemudian menjadi konsentrasi kita bersama adalah menjaga orientasi politik kader-kader PMII agar tetap berada pada garis idealisme PMII yang sudah diabadikan dalam AD-ART PMII.

Kader PMII tidak boleh menafikan perkembangan teknologi dan informasi yang sudah semaju ini, bahkan sudah berada dalam ‘revolusi 0.4-nya’. Sembari tetap belajar dan memegang teguh idealisme dan nilai-nilai pergerakan PMII, kader PMII harus menjadi bagian dari penguasaan teknologi dan informasi, salah satunya adalah penggunaan media sosial, yang mana telah terbukti pada hari ini sangat efektif dalam mempengaruhi opini publik. Jikalau memang PMII tidak mampu merebut bagian tersebut, keniscayaan penguasaan opini publik kita akan jatuh pada orang-orang yang tidak benar, akan tidak terelakkan

Penulis :
Abdul Ghoni (Ketua PKC PMII JATIM)