Memotret Kemandirian Dan Kewirausahaan Di Lingkungan NU | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Memotret Kemandirian Dan Kewirausahaan Di Lingkungan NU

PMII News Online
11 November 2018

PMII NEWS Online - Nahdlatul Ulama didirikan atas dasar tiga pilar organisasi yang mendahuluinya, yang masing-masing bergerak dalam bidang yang berbeda, yaitu Nahdlatut Tujjar (pengembangan ekonomi), Nahdlatul Wathan (pengembangan kebangsaan), dan Tasywirul Afkar (pengembangan pemikiran). Hingga kini pun, tiga pilar tersebut terus bergerak dinamis mengembangkan diri.

Buku yang ada di tangan anda ini merupakan upaya memotret gerak dan langkah warga NU dalam mengembangkan ekonominya guna menciptakan kemandirian. Tulisan-tulisan ini merupakan informasi yang sebelumnya telah dimuat di situs resmi PBNU (www.nu.or. id) periode Januari 2015-Agustus 2016. Dengan membuat satu edisi khusus terkait dengan bidang perekonomian, maka diharapkan bisa dipetakan upaya dan gerak langkah yang dilakukan di lingkungan NU karena informasi yang ada selama ini berserak-serak, tertimbun dengan berbagai informasi lain yang saling tak terkait. Dengan merangkumnya dalam sebuah buku, maka akan lebih tergambar pola-pola pengembangan kemandirian dan kewirausahaan yang ada di lingkungan NU.

Kewirausahaan belakangan menjadi tema yang banyak dibahas dalam upaya pengembangan perekonomian. Negara-negara maju terbukti memiliki jumlah wirausahawan yang banyak. Di Amerika Serikat, jumlah wirausahawannya mencapai sekitar 11.5 persen, sedangkan di Singapura mencapai 7 persen. Indonesia 1.8 persen, masih kurang dari 2 persen, yang oleh para ahli dikatakan sebagai standar minimal untuk menjadi negara maju.

Tak mengherankan wirausaha menjadi penentu kemajuan sebuah bangsa karena Memotret Kemandirian dan Kewirausahaan di Lingkungan NU para pengusaha merupakan orang-orang pengambil risiko yang inovatif dan kreatif. Mereka berusaha mencari peluang, memenuhi kebutuhan masyarakat yang selama ini belum bisa dipenuhi. Mereka orang-orang yang selalu gelisah untuk memunculkan sesuatu yang baru, yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kesadaran pentingnya kewirausahaan juga muncul di lingkungan pendidikan tinggi. Hampir semua perguruan tinggi kini mengajarkan kewirausahaan sebagai materi wajib sebagai upaya untuk mengarahkan atau bahkan mendorong agar tidak semua lulusan pendidikan tinggi tidak berorientasi menjadi karyawan. Sektor tenaga kerja formal, tidak akan mampu menampung seluruh lulusan perguruan tinggi sehingga sejak dini perlu diarahkan untuk memiliki pilihan hidup yang beragam. Jika dahulu ada keyakinan bahwa menjadi pengusaha itu bakat atau turunan, kini mitos tersebut sudah terpatahkan. Menjadi pengusaha bisa dipelajari.

Di lingkungan NU pun, kesadaran akan pentingnya mengembangkan kewirausahaan juga tampak nyata dalam tulisan-tulisan yang dirangkum dalam buku ini. Dari tingkat pelajar yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU), beberapa diantara mereka sudah mengadakan pengenalan pentingnya kewirausahaan. Demikian pula di tingkatan pemudanya, yang tergabung dalam Ansor dan Fatayat NU.

Bukan hanya mengikuti pelatihan, tetapi banyak diantaranya sudah bergerak langsung dalam memberikan pelatihan ketrampilan tertentu yang diajarkan kepada para anggotanya. Upaya pengembangan lain yang telah dilakukan adalah dibentuknya Himpunan Pengusaha NU (HPN) yang secara resmi berada dibawah Lembaga Perekonomian NU, dan Himpunan Pengusaha Santri (HIPSI) yang merupakan upaya untuk membangun jejering dan mengkonsolidasikan kekuatan para pengusaha santri.

Memotret Kemandirian dan Kewirausahaan di Lingkungan NU Berbagai gambaran di atas merupakan gambaran dari trend besar peningkatan kelas menengah santri yang ruang geraknya kini semakin luas, bergerak dalam berbagai bidang yang kini bahkan sama sekali tidak terkait dengan dunia pesantren. Tetapi mereka semua bisa diambil benang merahnya sebagai kelompok Muslim taat yang berusaha mengamalkan ajaran agama sesuai dengan bidang keahliannya masingmasing yang kini semakin beragam.

Keberadaan para pengusaha santri, secara langsung akan mampu meningkatkan posisi tawar Muslim di Indonesia karena dengan modal yang mereka miliki akan mampu melakukan banyak hal yang dulunya hanya bisa dilakukan oleh kelompok-kelompok lain yang lebih dulu siap dalam persaingan.

Upaya pengembangan kewirusahaan juga semakin mendesak dengan semakin terbukanya batasan-batasan wilayah. Di ASEAN, sudah disepakati adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Perjanjian perdagangan lain juga terus dikembangkan yang semuanya mendorong dihilangkannya batas-batas lalu lintas barang dan jasa yang membuat perdagangan tidak efisien. Mau tidak mau, warga NU juga harus siap menghadapi hal ini. Kesadaran akan sengitnya persaingan di masa mendatang sudah dipahami dengan banyaknya perbincangan akan adanya MEA.

Sejauh ini, berbagai upaya mendorong peningkatan kewirausahaan di lingkungan NU masih diinisiasi secara pribadi atau organisasi di lingkungan NU. Sementara itu, untuk mampu berhasil dengan baik, peran pemerintah menjadi sangat penting untuk membuka saluran pasar dan permodalan. Dalam pertarungan dengan para pengusaha yang sudah mapan, akan sangat susah bagi usaha kecil dan mikro untuk bisa bersaing. Karena itu, pendampingan merupakan hal yang mutlak dilakukan.

Akhir kata, buku ini memberi gambaran singkat tentang upaya-upaya menciptakan kemandirian di lingkungan Memotret Kemandirian dan Kewirausahaan di Lingkungan NU warga NU. Penyebaran tulisan-tulisan ini merupakan upaya untuk menyebarkan inspirasi agar semakin banyak orang melakukan hal yang sama.

Jakarta, Agustus 2016
Achmad Mukafi Niam


Memotret Kemandirian Dan Kewirausahaan Di Lingkungan NU