Biografi Abdul Ghoni, Ketua Umum PMII Jawa Timur | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Biografi Abdul Ghoni, Ketua Umum PMII Jawa Timur

PMII News Online
03 November 2018
PMII NEWS Online, Biografi - Abdul Ghoni kelahiran di Sampang, 26 Nopember 1992 yang saat ini menetap di Jl. Kayen Kedungkendo, Candi – Sidoarjo. Riwayat pendidikan formal SDN 1 Torjun, SMPN 1 Torjun, SMAN 1 Torjun dan menempuh kuliah nya di Universitas Bakti Indonesia Banyuwangi (S1) serta pasca sarjana nya di UNAIR.

Kiprah di bidang organisasi ia pernah menjadi wakil sekretaris Komisariat PMII STIB dan UBI Banyuwangi hingga menduduki sebagai Ketua Komisariat PMII STIB dan UBI Banyuwangi. Tak hanya itu saja bahkan ia pernah menjadi nomor satu di PMII cabang Banyuwangi sebagai Ketua Umum Cabang PMII Banyuwangi hingga diangkat menjadi ketua 1 bidang kaderisasi di tingkatan Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur saat dipimpin oleh Sahabat Zainuddin. Semakin melesat perjalanan di organisai Abdul Ghoni sehingga ia terpilih sebagai ketua umum PKC PMII Jawa Timur hasil konferensi koordinator cabang di Surabaya 2018.

Kedikenalan Abdul Ghoni di kalangan kader dari tingkat rayon hingga ke atasnya yaitu pengawal kaderisasi di tingkat Jawa Timur saat kepengurusan koordinator cabang sahabat Zainuddin. Komitmen nya juga sangat diperhitungkan dalam memperjuangkan kepentingan organisasi yaitu kaderisasi. Ia pula lahir dari kampus umum dan sarjana eksakta.

Visi Misi Abdul Ghoni Dalam Memimpin PMII Jawa Timur Kedepannya

Visi:
PMII Berkarakter

Misi:
  • Meningkatkan sistem kaderisasi yang berkarakter disetiap cabang
  • Penguatan sistem dengan show windows baik internal maupun eksternal
  • Menilai dan mengapresiasi setiap cabang yang mempunyai ciri khas dan softskill
  • Mengoptimalkan media online sebagai sarana meningkatkan potensi kader

Indikator:

  1. Membentuk tim khusus untuk mendampingi proses kaderisasi di tingkatan cabang se Jawa Timur. Pembentukan tim khusus untuk memperkuat kemandirian kaderisasi pada setiap cabang-cabang. Selain itu terbentuknya tim khusus diharapkan mampu mendorong sekaligus mendampingi proses penguatan PMII di kampus umum, negeri maupun swasta terutama penguatan PMII pada jurusan eksakta yang selama ini PMII masih terbilang lemah.
  2. Show Windows menjadi acuan dasar untuk cabang-cabang, baik secaraü internal maupun eksternal. Hal ini juga untuk menjadi kawalan cabang yang seringkali menemui jalan buntu di daerah (cabang) maka bisa dibawa ke wilayah (koordinator cabang).
  3. Berupaya mencari ciri khas dan softskill dari masing-masing cabang se Jawaü Timur, yang nantinya akan diberikan predikat (A, B dan C) dengan indikator penilaian; internal (metodologi kaderisasi), eksternal (pendampingan) dan keagamaan (nilai-nilai ke-NU-an) .
  4. Memperhatikan dan mengembangakan potensi setiap kader, adapun poinü keempat ini adalah sebagai tindak lanjut atas diselenggarakan proses database seluruh kader Jawa Timur secara online. Dengan demikian potensi yang ada pada setiap kader dapat lebih berkembang dan sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Istiqomah Bergerak

Telah menjadi mafhum bagi kita semua, bahwa tidak semua kader PMII memiliki mindset yang sama dalam mengambil pelajaran dari proses berkaderisasinya. Tentunya, semua yang mempengaruhi itu adalah lingkungan dimana ia berproses sejak sebagai anggota baru sampai menjadi mujtahid-muharriq.

Komitmen mengawal dan mengabdi dalam bingkai pergerakan mahasiswa, bukan tanpa ujian dan tawaran yang lebih menjajikan. Sementara, untuk istiqomah pada jalan pergerakan, setidaknya adalah harus memiliki kekuatan dan ketabahan yang hebat, untuk tidak tergiur dengan semua itu.

Terlebih pada dewasa hari ini, dengan kondisi dan keadaan diaspora para alumni yang sudah hampir menyebar pada semua ruang di Negeri ini. Sangatlah dibutuhkan formula baru yang kontekstual kekinian, yang mana tanpa menggeser sedikitpun nilai-nilai dan idealisme PMII.

Idealisme yang Mendasari

Menjadi kader PMII berarti siap dengan segala konsekuensi yang akan dihadapinya, baik konsekuensi ketika selesai masa bergerak terlebih konsekuensi untuk tetap dalam masa bergerak.

Melanjtukan pergerakan adalah amanah yang tidak semua kader dapat menjalaninya, dengan berbagai sebab yang dapat terjadi pada tingkat struktural apapun. Sehingga atas dasar ‚sudah selesai dengan dirinya sendiri‛ maka akan menjadi tidak baik, jika memutuskan untuk berhenti bergerak.