Teatrikal Paradoksal Kaum Santri: Sebuah Sampel Dari Fenomena Mewabahnya Krisis Moral Dan Etika Pada Sang Ikon Ideal | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Teatrikal Paradoksal Kaum Santri: Sebuah Sampel Dari Fenomena Mewabahnya Krisis Moral Dan Etika Pada Sang Ikon Ideal

PMII NEWS Online
26 Oktober 2018

PMII NEWS Online - Dalam beberapa hari terakhir ini, jagat dunia maya di negeri kita kembali bergulat gaya bebas di atas ring SARA, saling hantam dan saling kelindan antara semangat keberagamaan, nasionalisme, kepentingan politik, dan ke-bebal-an para pegiat media sosial.  Hal ini disulut oleh viralnya sebuah video pembakaran bendera hitam yang bertuliskan kalimat tauhid “laa ilaaha illallah muhammad rasulullah” lengkap dengan abjad dan font arabnya yang sangat khas. Teatrikal tersebut dilakoni oleh sejumlah oknum Banser karena dianggap sebagai manifestasi atau pun atribut dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Berbagai macam komentar dan pendapat baik yang pro maupun kontra terkait fenomena ini cukup memenuhi beranda-beranda jejaring sosial di Indonesia.

Stigma negatif yang melekat pada bendera hitam dengan tulisan kalimat tauhid memang semakin kuat pasca pembubaran HTI.  Organisasi ini dianggap telah menyalahi undang-undang nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas, ditambah lagi dengan diterbitkannya peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 yang merevisi sejumlah norma yang ada pada UU Ormas sebelumya.

Bendera yang disebut dan diidentifikasikan oleh oknum Banser sebagai simbol HTI ini, tentu saja merupakan sebentuk simplifikasi dan stereotip negatif belaka. Mengapa demikian? Tentu saja, generalisasi ini tidak memperhitungkan probabilitas adanya motif dari perseorangan ataupun kelompok dalam masyarakat Islam yang murni menggunakan bendera ini sebagai salah satu bentuk dari ekspresi keberagamaan.

Terlalu naif rasanya jika harus menutup mata dan mengabaikan kemungkinan seperti ini, meski indikasinya sangat kecil sekalipun. Jika demikian, lantas masih tersisakah jaminan kebebasan melakukan ekspresi keberagamaan secara umum, atau jika dispesifikkan lagi, ekspresi keberislaman di Indonesia ini?

Dalam lintasan sejarahnya, ekspresi keberislaman tidak pernah tampil dalam wajah tunggal. Keragaman ekspresi keberislaman saling bertautan dengan keragaman ekspresi pemikiran Islam (Ijtihad). Dalam konteks ini, tidak ada satu pun dari disiplin atau teologi tertentu yang memiliki klaim otoritatif yang paling mewakili Islam.

Ranah ini selalu bergerak dinamis secara dialektis dan simultan. Tidak ada suatu golongan, kelompok, organisasi atau lembaga yang dapat dianggap sebagai wakil Tuhan di muka bumi.

Islam tidak pernah mengenal institusionalisasi keagamaan yang dapat memproduksi fatwa-fatwa keagamaan sebagai jelmaan dari sabda Tuhan.

Akan tetapi, meskipun realitas interpretasi dalam Islam selalu memungkinkan adanya perbedaan, yang perlu digaris bawahi, pesan moral dari agama ini sejatinya selalu tunggal dan bersifat universal.

Fenomena pembakaran bendera tauhid yang terjadi di tengah-tengah peringatan hari santri nasional ini, mungkin bisa dijadikan diagnosa awal bahwa wabah krisis moral dan etika telah menyebar dan menjangkiti para santri.

Sosok yang selama ini diasosiasikan sebagai ikon yang paling ideal untuk dijadikan contoh dalam bermoral dan beretika, malah mempertontonkan sebuah kelakuan yang kurang bijak dan etis di muka umum.

Walaupun belum bisa dipastikan para oknum Banser tersebut adalah seorang santri atau bukan, namun persepsi publik akan tergiring dengan sendirinya bahwa oknum Banser yang berada di lokasi perayaan peringatan hari santri nasional tersebut adalah seorang santri juga, atau paling tidak mereka adalah seorang alumni sebuah pesantren.

Apa yang dilakukan oknum Banser dengan membakar bendera itu jelas telah memantik kemarahan sebagian masyarakat Islam dan menimbulkan ketegangan di antara anak bangsa.

Meski GP Ansor telah menyampaikan sebuah pledoi bahwa membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid itu sebagai upaya untuk memuliakan kalimat tauhid sembari menganalogikannya dengan sobekan kitab suci, namun bagi siapapun yang menyaksikan langsung rekaman video kejadian itu tentu bisa menilai apa yang dilakukan oknum Banser itu bisa dikategorikan sebagai tindakan memuliakan atau sebaliknya.

Mereka membakar bendera tersebut sambil bernyanyi dan berjingkrak-jingkrak kegirangan. Memang, dalam beberapa madzhab Islam telah dijelaskan salah satu cara untuk mengamankan sobekan kitab suci yang tercecer adalah dengan cara membakarnya. Tapi dalam alur proses pembakaran itu juga disertai beberapa langkah prosedural yang begitu etis dan ketat.

Beberapa argumen lain ada yang menganalogikan tindakan pembakaran tersebut dengan peristiwa pembakaran masjid al-Dhirar yang pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW.

Tapi sekali lagi, analogi ini terkesan sangat dipaksakan. Perlu diingat, Rasulullah SAW baru menginstruksikan pembakaran masjid tersebut setelah menerima wahyu dari Tuhan (QS. At-Taubah: 107-108). Hal ini sekaligus meneguhkan bahwa sosok pemangku otoritas ke dua dalam agama ini, pun tidak pernah mengambil kesimpulan dan bertindak semena-mena hanya dengan berlandaskan prasangka.

Lalu, apa hak oknum Banser itu mengambil tindakan kurang terpuji terhadap sesuatu yang belum jelas mereka ketahui motifnya? Sungguh ironi jika ada satu golongan tertentu yang mencitrakan diri sebagai golongan yang mampu menilai motif dari orang lain lalu mengambil langkah sepihak, seolah merekalah pemilik otoritas tunggal dalam agama ini.

Terlepas dari benar atau tidaknya negasi yang dilakukan GP Ansor atas anggapan penistaan kalimat tauhid, konstruksi logika yang hendak dibangun oleh GP Ansor dengan dalih memuliakan itu hanya akan terkesan sebagai konstruksi pembenaran belaka atas tindakan mereka.

Keengganan mereka untuk melakukan permintaan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti oleh ulah beberapa oknum tersebut, cukup untuk mengisyaratkan tendensi rasa superioritas mereka atas golongan lain.

Alih-alih ingin mengesankan sebagai kelompok penjaga ideologi bangsa yang gagah pemberani, para oknum banser itu malah menyuguhkan sebuah penampakan paradoksal, yakni menolak simbolisasi Islam ke dalam Bendera tauhid di satu sisi, namun tanpa disadari mereka juga melakukan simbolisasi bendera tauhid sebagai atribut HTI di sisi lainnya.

Dari sini jelas terlihat, tak hanya eks-HTI, simpatisan, atau mungkin orang muslim awam yang keblinger dalam hal ini, pihak Banser atau siapa pun yang sepemahaman dengan mereka, pada kenyataannya mereka saling berbagi kesalahpahaman yang sama dan sekaligus mengamininya, mereka sama-sama terjerembap pada kubangan keegoisan simbolisme.

Peristiwa ini semakin menegaskan betapa masifnya permainan politik identitas ditengah polarisasi politik yang semakin meruncing di moment-moment menjelang kontestasi politik seperti saat ini.

Disadari atau tidak, bendera tauhid telah dikukuhkan sebagai satu identitas dari kelompok tertentu oleh kelompok lainnya. Selain itu peristiwa ini juga mengingatkan bahwa tidak ada satu golongan tertentu yang kebal dari pergumulan dengan kekuasaan.

Dan dalam pergumulan itu selalu saja terjadi dinamika yang seringkali begitu keras. Pergumulan itu niscaya akan membuat fakta yang mencengangkan jika melulu dilihat dengan cara pandang esensialis; golongan X sudah pasti benar dan semua golongan Y selalu salah atau bahkan sesat.

Oleh: S. Syeh Assegaf*

(*Tulisan di atas ditanggung sepenuhnya oleh penulis tersebut)