PMII Bukan Partai Politik Kampus, PMII Adalah Organisasi Pengkaderan | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PMII Bukan Partai Politik Kampus, PMII Adalah Organisasi Pengkaderan

28 Juli 2018
PMII Bukan Partai Politik Kampus,
PMII Adalah Organisasi Pengkaderan
Oleh Fitrah Izul Falaq*


Setiap organisasi ekstra kampus (OMEK) pasti identik dengan sebutan bendera atau partai yang aktif perihal politik dalam kampus. Bila kita analogikan kampus menjadi prototipe sebuah negara, bukan hal yang salah apabila OMEK dijuluki partai politik. Partisipasi aktif dalam pemilihan umum raya (Pemira) menjadi data konkret gerakan politik OMEK. Setiap kampus, setiap organisasi pemerintahan mahasiswa (OPM), menjadi lahan yang tepat untuk “berhari raya” dalam menikmati pesta demokrasi mahasiswa. Dalam pemira, setiap OMEK berusaha menyiapkan calon terbaiknya, berlomba mendapatkan massa, dan beraliansi demi mencapai “tujuan bersama”.
Namun satu hal yang dapat saya pahami adalah setiap OMEK pasti mempunyai gerakan politik, tapi tidak semua bisa disebut partai politik. Setiap OMEK pasti mempunyai kepentingan, tapi tidak hanya OMEK yang mempunyai kepentingan. Ada perbedaan antara politik dan politik praktis. Ada perbedaan antara kekuasaan dan penguasaan. Persepsi yang berkembang bukan tanpa alasan, tapi lebih mengarah pada tanpa landasan. Bagaimana bisa menilai buruk suatu hal, bila tanpa didasari bacaan kemudian mengkonstuknya dengan kenyataan.
Sebagai salah satu kader dan aktif dalam kegiatan dalam kampus, saya tidak setuju apabila Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikatakan sebagai bendera atau partai politik kampus. Apalagi bila sekedar diberi label organisasi kampus yang aktif dalam dunia politik saja. Terlebih dari itu, PMII dibangun atas perjuangan aktivis dan cendikiawan muslim. Mempunyai tujuan agar terbentuknya pribadi muslim ulul albab: bertaqwa pada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab mengamalkan ilmu, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan. Dalam setiap pergerakannya dilandasi oleh empat nilai dasar: Tauhid, Hablum minallah, Hablum minannas, Hablumminal’alam. Esensi nafas pergerakan PMII tidak hanya untuk mencapai kekuasaan, tapi lebih membentuk karakter, menyebar islam sebagai rahmat, menjaga NKRI, dan membaur dalam kehidupan masyarakat.
Islam sebagai jiwa, nasionalisme sebagai nafas. Tanpa mengurangi rasa bangga dan cinta. Saya lantangkan bahwa PMII bukan bendera, organisasi, ataupun partai yang fokus dalam dunia politik saja. PMII hadir sebagai organisasi pengkaderan, menjadi wadah terbentuknya mahasiswa ulul albab. Belajar banyak hal dalam berbagai bidang. Menyelaraskan agama, nasionalisme, dan kebudayaan dalam kemajemukan berbangsa . Kaderisasi: mengajak mahasiswa belajar bersama, membentuk pendirian, beragama, bergerak, dan berjuang.
Memaknai istilah organisasi pengkaderan bukan berarti menjadikan PMII menjadi OMEK anti politik. Lebih tepatnya adalah merekonstruksi makna politik praktis yang sekedar mencari kekuasaan menjadi politik pergerakan. Sistem politik yang mengutamakan kebenaran dan keindahan demi memperjuangkan cita-cita pergerakan. Benar kata pepatah, “Segudang kecerdasan, kemampuan, dan keteguhan memegang prinsip amatlah mudah dikalahkan oleh segenggap kekuasaan”. Oleh karena itu, politik pergerakan PMII hadir dalam mengawal kekuasaan untuk menjaga kemerdekaan berpikir kritis-transformatif mahasiswa sehingga tidak hanya kerkukung dalam stigma statis dan asumsi saja. Tetapi politik pergerakan untuk merawat dan memperjuangkan keyakinan dan prinsip yang tidak terbatas pada ruang dan waktu, tak sekedar mencari kekuasaan yang sifatnya sementara.
Saya sangat yakin meskipun setiap OMEK mempunyai pandangan dan cara yang berbeda, namun masih bergerak dalam satu khidmat yang sama: untuk merdeka, melawan penindasan, dan berjuang mengawal rakyat. OMEK tidak hanya sekedar berpolitik, tapi merawat dan memperjuangkan cita-citanya dalam pergolakan politik.

Tumbuh subur tunas PMII.
Tetap bergerak serentak mambangun bangsa yang jaya, Islam yang benar.
Hubbul wathon minal iman
Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thoriq

*Penulis adalah Pengurus Rayon PMII Al Ghozali
Komisariat Sunan Kalijaga Kota Malang