PEMILU 17 April 2019 Momentum Ikhtiar Politik Kaum Pergerakan | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PEMILU 17 April 2019 Momentum Ikhtiar Politik Kaum Pergerakan

PMII News Online
22 Juli 2018
PMII NEWS Online - “Apabila seorang anak sudah duduk di kelas V sekolah dasar, paling lambat di kelas VI, ajaklah dia ke kebun binatang. Begitu menginjak pintu gerbang, segera bisikkan di kupingnya, Kamu tidak mau dijebloskan ke dalam kandang seperti makhluk-makhluk itu kan? Nah, jadilah kamu manusia yang paham politik. Manusia yang tidak berpolitik itu namanya binatang, dan binantang yang berpolitik itu namanya manusia” (Mahbub Djunaidi).

Pada tanggal 17 April 1960 silam menjadi hari bersejarah dalam dunia kemahasiswaan khususnya mahasiswa nahdliyin, dimana dihari itu lahir sebuah organisasi pergerakan yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Pahlawan, Surabaya.

Organisasi ekstra kampus ini memiliki tujuan untuk membentuk pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia, seperti yang termaktub dalam Anggaran Dasar PMII. Maka menjadi suatu keyakinan besar bahwa kader-kader dari organisasi pergerakan ini adalah kader-kader yang bertanggungjawab dalam mengamalkan keilmuannya dan komitmen dalam memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Entah menjadi suatu kebetulan atau sebuah isyarat, Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019 mendatang dijadwalkan bertepatan dengan hari lahir PMII yang ke-59 yaitu 17 April 2019. Tetapi penulis meyakini bahwa Pemilu yang dijadwalkan pada tanggal 17 April 2019 mendatang itu menjadi isyarat bagi kader-kader PMII untuk melakukan ikhtiar politik merebut dan memasuki parlemen baik di tingkat pusat, provinsi hingga tingkat kabupaten/ kota sebagai salah satu ruang dalam mengamalkan keilmuan dan memperjuangkan cita-cita kemerdekaan untuk masyarakat dan bangsa Indonesia.

Terlepas dari bertepatannya jadwal Pemilu 2019 dengan hari lahir PMII, Pemilu 2019 menjadi momentum ikhtiar politik kaum pergerakan karena kondisi bangsa Indonesia saat ini dihantui oleh kelompok-kelompok yang mencoba merong-rong kebhinekaan bangsa dan NKRI baik melalui dalam sistem maupun melalui luar sistem.

Olehnya itu, untuk menghalau kelompok-kelompok itu demi menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI sangat dibutuhkan kehadiran orang-orang yang lahir dan tumbuh berproses dalam organisasi yang memiliki komitmen keislaman dan keindonesiaan yang jelas salah satunya adalah PMII.

Maka sudah tidak diragukan lagi hadirnya kader-kader PMII sebagai kaum pergerakan di dalam ruang politik sangatlah penting, karena nalar politik yang dimiliki bukan hanya politik kekuasaan tetapi juga politik kebangsaan.

Menurut hemat penulis, ada dua catatan penting terkait keterlibatan kader-kader PMII baik yang masih pengurus maupun yang sudah menjadi alumni dalam Pemilu 2019 sebagai momentum ikhtiar politik kaum pergerakan antara lain sebagai berikut.

Pertama, keterlibatan kader-kader PMII yang masih berstatus pengurus PMII harus dilihat dalam konteks indvidu atau personal kader, bukan secara kelembagaan. Apapun alasannya, PMII secara kelembagaan harus tetap menjaga independensi.

Hal ini berdasarkan anggaran dasar dari PMII pasal 3 dimana salah satu sifat PMII adalah independen. Ini menunjukkan bahwa PMII secara kelembagaan tidak boleh terikat oleh partai politik atau kepentingan politik praktis manapun. Namun jangan karena sifat independen tersebut, kader-kader PMII malah merasa alergi terlibat dalam Pemilu 2019 yang merupakan momentum untuk berikhtiar dalam ruang politik.

Jika kader-kader PMII tidak mau berpolitik, maka kutipan kalimat dari Ketua Umum PB PMII pertama Mahbub Djunaidi di awal tulisan ini bisa menjadi alasan atau pemacu kita untuk berpolitik. Jika ada yang mengatakan politik itu bukan hanya politik praktis, tetapi juga politik kebangsaan maka itu adalah pendapat yang benar.

Namun sangat disayangkan jika semua orang-orang yang memiliki nalar politik kebangsaan tak mau ikut di ruang politik praktis, karena melalui politik praktis maka nalar politik kebangsaan kita akan lebih maksimal untuk dipraktekkan.

Selain itu juga penulis meyakini kader-kader PMII adalah orang baik. Sebagai orang baik, maka kader-kader PMII jangan alergi untuk terjun di dunia politik. Mengutip apa yang dikatakan Presiden Turki, Recep Tayep Erdogan bahwa jika orang baik tidak terjun ke dunia politik, maka para penjahatlah yang akan mengisinya.

Kedua, kader-kader PMII yang berhasil merebut dan memasuki parlemen melalui kontestasi politik Pemilu 2019 nanti harus tetap berpegang teguh pada prinsip dan idealisme sebagai seorang kader yang lahir dari organisasi pergerakan. Sebagai contoh, Mahabub Djunaidi (Ketua Umum PB PMII pertama) merupakan mantan anggota DPR Gotong Royong tahun 1967-1971 dan selanjutnya menjadi anggota DPR/ MPR RI tahun 1971-1982.

Selama duduk di kursi parlemen ia memilih hidup sederhana dan tidak terjebak dalam kemewahan dan pragmatisme. Bahkan sosok yang dijuluki “Pendekar Pena” ini walaupun duduk sebagai anggota parlemen ia tetap berani mengkritik pemerintah Orde Baru saat itu dengan kritikan- kritikan tajam dengan sentuhan jenaka yang merupakan kekhasan tulisannya.

Berani mempertahankan prinsip dan idealismenya meski berada di ruang kekuasaan. Olehnya itu kita berharap semoga buah dari ikhtiar politik kaum pergerakan di Pemilu 2019 nanti melahirkan wakil rakyat yang juga berani mempertahankan dan memegang teguh prinsip dan idealismenya untuk rakyat dan bangsa Indonesia. (*)


Penulis:
Falihin Barakati (Kader PMII Sulawesi Tenggara)