Hastage #BanggJadiPMII Tidak Ada Hubungannya Dengan PILKADA | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Hastage #BanggJadiPMII Tidak Ada Hubungannya Dengan PILKADA

PMII NEWS Online
01 Juli 2018
PMII NEWS Online - Menanggapi banyak beredarnya tagar #BanggaJadiPMII yang akhir-akhir ini menjadi trending topik baik sebagai foto profile di media sosial lain saya jadi tertarik mengikuti dialog para mantan mujahid-pejuang PMII dalam sebuah group saat menanyakan apa yang bisa dibanggakan dari PMII.

Ada yang menjawab mungkin jadi pejabat saja bisa bangga, Kalau seperti lainnya bisa bangga bisa sebaliknya.

Dalam benak saya berasumsi: pola pikir semacam ini dapat juga dianalogikan, apa ketika bangga terhadap Nahdlatul Ulama (NU) harus mereka yg menjadi pengurus NU? atau para tokoh yg diuntungkan dengan label NU? baik dia jadi DAI kondang NU, Politisi NU atau akademisi dan Pemikir NU?,l

Sungguh ironi ketika kebanggaan terhadap sesuatu diukur dari subyektifitas posisi atau dari keuntungan yang didapat, bisa jadi kita tidak akan bangga terhadap ibu kita, nenek moyang kita yang menyisakan kutukan kemiskinan dan fasilitas keluarga penuh serba kekurangan.

Apa kita harus bangga kepada orang tua teman dan keluarga tetangga sebelah rumah? karena lebih menjanjikan kesuksesan...?

Memang bangga atau tidak tergantung pribadi kita yang mersakan, tapi bagi organisasi ideologi seperti NU, organisasi perjuangan dan organisasi kader seperti PMII, tidak ada satu moment-pun untuk kita tidak bangga pernah berproses di PMII.

Paham dan mampu menganalisa secara kritis kondisi sekeliling kita dari mana kalau tidak didapatkan saat Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) atau Pelatihan Kader Dasar (PKD)?

Merasakan pahit dan getirnya bersahabat sekaligus belajar berfikir kolektifitas, dari mana kita bisa rasakan kalau tidak saat tidur bersama di kantor-basecamp atau ketika mencari solusi kekurangan dana kas organisasi...!

Inilah PMII benteng terakhir ideologi bangsa
Serdadu intelektual penjaga NKRI, Kalau tidak ada PMII berapa banyak lagi anak muda mnjadi hedonis, individualis,
Kalau tidak ada PMII berapa banyak lagi korban pemuda yang anti NKRI padahal mereka makan, minun bahkan lahir dari pangkuan Ibu Pertiwi.

Tetaplah berilmu namun jangan kebarat-baratan, jadilah alim dan religius namun jangan kearab-araban, tetaplah menjadi Islam Indonesia.

Hasteg #AkuBanggaJadiPMII jangan ketika saat ada momentum politik,  apalagi tiba-tiba bangga jadi PMII karena sekedar mengikuti hiruk-pikuk dan uforia kemenangan sebagian kader PMII yang berhasil sukses dalam pemilihan kepala daerah (PILKADA).

Karena PMII apalagi NU lebih besar dari pada capres-capresan (calon presiden),  gubernur-gubenuran apalagi caleg-calegan (calon legislatif).


Malang Selatan 30 Juni 2018
#CakJunetTretanDibik

Penulis: Ahmad Junaidi