Bid'ah, Polemik Isu | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Bid'ah, Polemik Isu

PMII NEWS Online
24 Juli 2018

PMII NEWS Online - Hingga saat ini, persoalan bid'ah belum sepenuhnya kelar. Tidak saja kalangan para tokoh agama, orang-orang di luar kalangan agamawan pun juga ikut-ikutan angkat bicara turut serta membincang persoalan ini.

Bukan saja melalui ceramah dan khutbah, bahkan media sosial pun rupanya juga dijadikan ajang yang dinilai cukup ampuh untuk saling mempertahankan diri sekaligus menyerang yang lain.

Bila memperhatikan perkembangan "percekcokan" tentang bid'ah di berbagai media, membuat perasaan kita semakin gersah. Sebetulnya kegelisahan kita bukan berasal dari topik yang dipolemikkan, tetapi lebih pada sikap yang menjadi dampak dari polemik itu sendiri.

Betapa tidak, nyaris setiap pihak yang mengusung tema tentang bid'ah selalu saja mengungkapkan kata-kata yang cenderung merendahkan, mengejek dan menghina serta bahkan tidak segan-segan masing-masing kelompok saling melontarkan klaim kufur (takfir) pada golongan yang lain.

Padahal, permasalahan bid'ah jika ditelisik dari pendekatan sejarah (historical approach), maka akan diketemukan bahwa para tokoh agama terbagi menjadi dua:  Pertama, kelompok yang menyimpulkan bahwa setiap ritual agama yang tidak bersumber dari gambaran kongkrit Nabi Muhammad SAW adalah bid'ah.
Kedua, golongan yang menilai bahwa bid'ah merupakan praktik-praktik baru dalam agama yang jelas-jelas tidak searah dengan ajaran Rasulullah SAW.

Keterbelahan ahli agama di dalam memandang munculnya bid'ah berporos pada cara nalar masing-masing mereka; sebagian ulama membaca berdasar teks, dan sebagian yang lain membaca teks secara kontekstual.

Argumen masing-masing mereka sebenarnya berlandaskan pada sumber hadits yang sama, di antaranya:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.
"Jauhilah perkara (ritual agama) yang diada-adakan. Karena hal baru (ritual agama) adalah bid'ah, dan setiap bid'ah merupakan kesesatan." (HR. At-Tirmidzi)

Sesungguhnya garis yang membedakan kelompok-kelompok yang mewacanakan persoalan bid'ah terletak pada interpretasi dasar pokok tersebut. Bagi mereka yang memegang teks, sabda Nabi yang berkaitan dengan persoalan bid'ah sudah cukup menjadi batasan praktik agama terbilang bid'ah atau bukan. Tetapi kelompok ulama yang lain masih memaknai hadits-hadits tentang bid'ah sehingga dipahami bahwa praktik-praktik ritual yang baru perlu dipilah.

Dua pihak yang sama-sama teguh di dalam mempercayai pendapatnya masing-masing, bagai dua kutub yang sampai kapan pun tidak akan bisa dipersandingkan.
~~~

Diskursus tentang bid'ah di kalangan ulama sudah jelas bahwa yang dimaksud bid'ah adalah perilaku ibadah yang tidak terdapat teladan di masa Nabi atau sahabat. Persoalan bid'ah dalam peta urusan-urusan duniawi, para tokoh agama telah jelas melingkari pada aspek aktifitas ubudiyah saja.

Sayangnya, sebagian kelompok masih saja memperpanjang polemik yang sejatinya tidak akan pernah bisa dikawinkan dua pendapat berbeda, walaupun argumentasi masing-masing mereka bersumbu pada dasar yang sama.

Apalagi kondisi demikian ini masih diperkeruh oleh oknum yang terkesan belum memahami rujukan-rujukan dalam Islam. Hal ini tergambar dari komentar-komentar yang serta merta menyuruh penuduh bid'ah agar kembali, misalnya, ke masa onta, karena di zaman Rasulullah, motor belum diproduksi. Padahal, persoalan kuda atau pesawat merupakan ranah duniawi yang tidak bersinggungan secara langsung dengan masalah bid'ah.

Lebih mengenaskan lagi bila perkembangan perseteruan diwarnai lontaran kata-kata dan komentar yang sama sekali tidak mencerminkan orang-orang terdidik dan berbudaya.

Perdebatan yang kian hari terus berkelanjutan tanpa berkesudahan ini akhirnya melahirkan kekhawatiran sebagian besar masyarakat - khususnya muslim di nusantara - bahwa fenomena-fenomena yang dirasa semakin meruncing di kalangan tokoh dan umat Islam ini tidak muncul dengan sendirinya, tetapi terindikasi telah diboncengi oleh kepentingan-kepentingan internasional yang muaranya pada pelemahan kekuatan muslim melalui strategi politik pecah belah (devide et impera).

Hal sedemikian yang selayaknya disadari oleh kalangan tokoh Islam di tanah pertiwi. Sekelumit apapun gelagat yang dapat dicermati, yang jelas umat Islam tidak diharapkan memiliki peluang untuk kompak dan bersatu. Bermain pada pusaran isu-isu agama ini merupakan bagian dari pintu masuk pihak-pihak di luar Islam guna melakukan politik adu domba di tengah-tengah sesama umat muslim.

Oleh: Muhammad Madarik
(Staf Pengajar IAI Al-Qolam Gondanglegi Malang)