PMII Minahasa Diharap Diskusikan Persoalan Bangsa | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PMII Minahasa Diharap Diskusikan Persoalan Bangsa

PMII NEWS Online
11 Mei 2018

PMII NEWS Online - Pelantikan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Minahasa, Sulawesi Utara dirangkaikan dengan dialog kebangsaan. Kegiatan yang bertempat di aula LP2AI Universitas Negeri Manado mengangkat tema Anti Radikalisme: Sulawesi Utara sebagai Miniatur Keberagaman Indonesia.

Dalam sesi dialog, panitia menghadirkan pembicara Rikson Karundeng, dari Komunitas Mawale Cultural Center. Juga Taufik Bilfaqih sebagai Ketua Lesbumi PWNU Sulut, dan Muhammad Risal selaku Bendahara Umum Pengurus Besar PMII.

“Kami mengajak generasi muda, tanpa mengenal suku dan agama agar tetap menjaga keutuhan bangsa,” kata Ketua PC PMII Minahasa, Sardi Harianto, Senin (7/5). 

Hal yang sema juga disampaikan Saba selaku Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Minahasa. “PMII harus membangun hubungan strategis kepada tokoh-tokoh Minahasa dan lembaga terkait seperti kepolisian dan TNI untuk mendiskusikan tentang persoalan bangsa, seperti radikalisme,” katanya.

Muhammad Risal saat kegiatan dialog menjelaskan bahwa Indonesia sudah masuk di era keterbukaan teknologi atau globalisasi. “Sehingga media sosial menjadi salah satu sarana  menyebar ujaran kebencian (hate-speech) yang berujung pada disintegrasi bangsa,” ungkapnya.

Dengan media, kelompok seperti Wahabi dan Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI kemudian menyebarkan ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila. “Celakanya mereka kemudian mengafirkan kelompok lain,” sergahnya.

Sementara Rikson Karundeng menjelaskan bahwa Minahasa sudah lama berkomitmen menjaga tanah leluhur. “Karena itu komitmen rakyat Minahasa terhadap keutuhan NKRI tidak perlu diragukan,” katanya.

Dalam pandangannya, keberagaman adalah karunia Tuhan, karena itu semua pihak berkewajian menjaga bersama. “Masyarakat Minahasa dengan nilai-nilai kebudayaan dan falsafah hidup selalu membuka diri bagi kelompok yang lain untuk hidup bersama,” jelasnya.

Sedangkan Taufik Taufik Bilfaqih berpandangan, radikalisme sebenarnya tidak berbahaya. “Menjadi berbahaya ketika radikal itu digabungkan dengan Isme yang kemudian membentuk paham dan perilaku menyimpang seperti dilakukan kelompok tertentu,” ungkapnya. Mereka merasa diri paling benar kemudian mengafirkan kelompok atau saudara yang dianggap salah, lanjutnya.

Mengutip ayat Al-Qur'an, Taufik mempertegas bahwa Islam menolak radikalisme dan justru mengajarkan kebaikan dan bukan kekerasan. Dia juga mengemukakan kelompok radikal masuk dari dua arus, yaitu Eropa dan Timur Tengah.

“Untuk membendung arus ideologi Islam transnasional, NU kemudian membumikan atau mengampanyekan Islam Nusantara,” jelasnya. Yaitu Islam yang menghargai keberagaman dan kebudayaan bangsa.

Dirinya menyayangkan sebagian kalangan yang sering terjebak dan sulit membedakan mana Islam dan mana budaya. “Sehingga budaya  dari Arab dianggap budaya Islam,” sergahnya.

NU bersama banomnya, terutama PMII sudah lama berkomitmen menjaga Pancasila dan NKRI dari kelompok yang ingin mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi lain seperti khilafah. 

Karena itu, taufik berharap segenap elemen bangsa terutama generasi muda untuk berkomitmen menjaga keutuhan bangsa. “Agar tidak mudah dipecah-belah oleh kelompok tertentu,” pesannya.
Acara ini dihadiri Dandim Minahasa dan puluhan organisasi, baik Cipayung, Paguyuban maupun organisasi intra  kampus dari Universitas Kristen Indonesia Tomohon  dan  Universitas Negeri Manado. 

Untuk memeriahkan acara, panitia menampilkan pementasan tarian Kapita dari Tidore dan Elenge dari Gorontalo. Selanjutnya acara ditutup penyerahan piagam dan foto bersama.

Sumber: NU Online