Ingat Mantan Pacar, Saat Istriku Tidur | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Ingat Mantan Pacar, Saat Istriku Tidur

07 April 2018
Menonton sinetron anak muda jaman now yang judulnya “Kacong Jalanan”, lengkap dengan motor gedhe-nya dan segala ke-trendy-an lainnya. Sinentron itu tidak mengasyikkan bagiku, kamu tahu kenapa? Yang jelas, tontonan itu tidak akan menambah kamatangan usiaku, dan yang paling menjengkelkan bagiku, sinetron itu sangat alay. Ya betul, sebab jamanku masih muda, aku tak se-alay itu. Gumamku, sembari menunggu Sidrun pulang.

Aku terus mengganti channel televisi, hingga aku berhenti di tayangan yang jauh lebih aneh dari pada sebelumnya. Kamu tahu tayangan apa yang aku maksud? Tayangan itu tentang pemuda yang baru dewasa, suka memakai pakaian hitam, obyek maupun subyek dari kepintarannya berwarna hitam. Yang paling tidak tahu, kepintarannya itu dibuat-buat atau sungguhan, aku tak tahu itu. Kamu tahu kenapa? Ya, bagiku ada orang pintar, kerjaanya malah pintar membuka aib seseorang. Entahlah ilmu apa yang ia pakai, semoga saja ilmunya masih putih nan suci. Maksudku bukan ilmu hitam.

Akupun berpikir sejenak, kenapa bisa-bisanya tayangan yang dibuat oleh orang Indonesia kok tidak begitu mengasikkan bagiku. Ah sudahlah dasar industri bisnis media. Eh, maaf, maksudku industri seni.

Sidrun belum kunjung datang juga, akupun tak tahu apa yang harus aku lakukan, sebab kedua tayangan televisi itu tidak senikmat di kala istriku tidak tidur malam-malam begini. Iya, maksudku sejak sembilan bulan yang lalu, aku menemukan kenikmatan di malam hari, itu pun jika istriku tidak tidur.

Kamu tahu, kira-kira apa yang aku lakukan? Mumpung istriku tidur, dan kedua tayangan televisi itu menstimuli diriku untuk mengenang masa lalu. Iya, mengenang masa mudaku. Tapi, tahukah kamu, masa muda bagian mana yang akan aku ajak bernostalgia? Betul sekali, masa muda saat aku sedang berpacaran.

Aku adalah pemuda yang meraka anggap berandal. Tidak hanya mereka sih yang menganggapku berandal, aku sednriripun menganggap diriku berandal. Namun, bukan berarti meski diriku berandal, aku menjadi orang yang tak tahu diri, tidak! Aku adalah berandal yang tahu diri, salah satu bukti bahwa aku tahu diri, adalah aku mengindari untuk berpacaran dengan siapapun. Karena aku tahu bahwa selain sulitnya menemukan cewek yang mau menerimaku, akupun tidak tega melihat penderitaan cewek yang menerima keberandalanku ini.

Entah, sedang terjadi peristiwa apa di dalam samudera, kok bisa-bisanya aku jatuh cinta, dan ia-pun turut mencintaiku. Aku tak tahu alasan kenapa akhirnya aku berpacaran juga. Anehnya, bukan karena aku akhirnya berpacaran, tapi kenapa kok dia yang menjadi pacarku? Kamu tahu siapa pacarku?

Untuk kali ini, kalian salah menebakku. Aku tahu, kamu akan menganggap bahwa karena aku berandal, sehingga pacarku-pun berandal, tidak! Pacarku adalah wanita yang cantik, kulitnya putih nan mulus, lulusan pondok pesantren ternama pula. Ya, kira-kira seperti Pondok Pesantren Al-Amien Perenduan Sumenep. Tapi, bukan dari Pesantren itu, rahasia-lah, mau tahu saja. Yang jelas ia merupakan putri satu-satunya dari seorang Kyai di desa. Iya anak Kyai, bukan Anak Ulama, Habib, Ustad atau apapunlah yang teks-nya bisa kamu temui di Al-Qur’an. Sebab, kamu tidak akan menemukan istilah “Kyai” dalam Al-Qur’an, apalagi Al-Hadist, tidak akan!

Aduuuuh “Kyai” memang Indonesia punya. Kemudian meski ia anak kyai, yang paling penting untuk kamu ketahui adalah ia tidak pakai cadar, tidak pakai konde juga, cukup berkerudung saja. Seseringkali ia pakai rok, juga pula pakai celana. Tapi, tidak cekak hingga tubuhnya kelihatan molek, tidak!

Ketika kita pacaran, aku mengenali latar belakang pacarku yang namanya Inggit itu. Akupun berkata kepadanya “Sayang, aku telah berikrar dan disaksikan oleh langit dan bumi, bahwa sebagai wujud cintaku padamu, aku tidak akan menyentuh kulitmu secuilpun. Jadi, jika kau kelak bertanya kenapa aku tidak mau menyentuh kulitmu. Maka jawabnya adalah karena aku mencintaimu, begitupun sebaliknya”

Inggit, hanya tersenyum seraya berkata “halah... Modus tok. Dasar berandal!”.

“Oke baiklah, lihat saja siapa yang akan menyentuh duluan... kau atau aku?”, itulah sanggahku. Kamu tidak perlu khawatir, begitulah cara kita, iya aku dan Inggit dalam berkomunikasi, sangat linier sekali.

Suatu ketika aku dan teman-teman. Ya, tentunya sama Inggit juga aku pergi ke sebuah pantai untuk menikmati liburan semester. Kamu tahu pantai mana yang sedang kami tuju? Pantai itu adalah pantai Gili labak di Sumenep sana. Seperti biasa, di pantai ya berenang, ya berjemur ala wisawatawan asing dan juga bermain bola bagi yang cowok.

Ketika kami sedang berenang, ada sebuah tragedi yang membenturkan aku dengan kedilemaan yang maha dahsyat. Kamu tahu apa yang menyebabkan aku dilema? Inggit itu wanita yang tidak bisa berenang, ketika kami sedang berenang di tepi pantai ia sedang terseret ombak, dan ia-pun berteriak meminta pertolongan sambil memanggil-manggil namaku ‘tolong toloooong,... Sokran tolong...”

Akupun gelisah mendengarnya. Kamu tahu apa yang aku lakukan?

Sebentar,.. tak terasa kopiku sudah habis, dan sejenak aku coba keluar rumah untuk menengok adakah Sidrun tiba. Ternyata Sidrun belum tiba juga, dan akupun pergi ke dapur untuk meracik kopi agar kenang-nostalgiaku tidak mengantukkan.

Bagaimana, sudah tahu apa yang aku lakukan ketika Inggit terhanyut ombak? Aku menepi dan menengadahkan kepalaku ke langit. Aku, pria berandal menantang Tuhan di tempat itu juga “Tuhan, aku tahu bahwa aku adalah pria berandal. Dan aku yakin, kamu tahu bahwa aku sudah berikrar atas cintaku padanya. Salahkah aku berikrar demikian, hingga kau takdirkan aku dengan peristiwa ini? Sekarang apa yang harus aku lakukan Tuhan? Jika aku harus menolongnya, maka aku harus menyentuh kulitnya. Maka, itu tandanya aku mengingkari ikrarku yang sekaligus dusta atas ajaranmu. Apa memang itu yang kau mau Tuhan? Jadi, kau mau aku ingkar dan dusta terhadap ajaranmu”.

Akupun masih menyeru, aku masih membuat perhitungan dengan Tuhan sebalum aku menantangnya. Kau tahu setelah perhitungan itu usai, apa yang aku katakan kepada Tuhanku?

Ya, aku lanjutkan untuk menantang Tuhan “Baiklah Tuhan, jika engkau merestui cintaku dan cara berpacaranku. Maka, tolong selamatkan Inggit. Aku minta turunkan malaikatmu, dan biarkan malaikatmu itu masuk kepada salah satu jasad temanku, hingga temanku itulah yang akan membantu Inggit untuk menepi. Ayo Tuhaaaaaaaan!!!”

Syukurlah temanku menyelamatkannya, Inggit pun menepi, meski hatiku sedikit cemburu melihat pria itu menyentuh kulitnya. Apa boleh buat, yang penting Inggit selamat dan pertanda bahwa Tuhan sedang merestui cintaku dan cara berpacaranku.

Setelah kita sama-sama menepi, Inggit pun aku tanyakan bagaimana kronologinya, hingga ia terhanyut ombak? Setalah ia jawab, ia pun balik tanya kepadaku “Kenapa kamu tak menyelamatkanku?”

Akupun menjawabnya “Jasadku memang tidak menyelamatkanmu... tapi percayalah bahwa aku turut menyelamatkanmu. Kamu kan tahu bahwa wujud cintaku padamu adalah dengan tidak menyentuh kulitmu. Memangnya kau mau, jasadku yang menyelamatkanmu, hingga aku mengingkari sumpahku?”, tanyaku kepada Inggit.

Inggit pun menjawabnya dengan santai, begitulah pacarku “Ya sudah, yang penting aku selamat dan kau tetap terjaga dari pengingkaran sumpahmu”.

Seusai dari pantai, aku bersama teman-teman bergegas untuk lanjut pulang. Namun, karena teman-temanku ingin pulang duluan, akhirnya akupun tidak bisa menghalangi mereka. Aku dan Inggit pun pulang belakangan. Bagaimana aku bisa memaksa Inggit langsung pulang, sedang ia masih kaget dengan tragedi itu.

Alhamdulillah, waktu yang ditunggu-tungngu telah datang, Sidrun pun tiba dan ia mengembalikan sepeda motornya. Kemudian aku bertanya kepadanya “Kamu beli sesuatu apa? Untuk siapa?”


“Aku beli batik couple Cak Kran untuk hari anniversary ku nanti dengan si Dia, pacaraku”, jawabnya dengan congkak.

Akupun langsung menyuruh Sidrun untuk segera pulang dan tidur. Iya, maksudku biar aku bisa melanjutkan kenang-nostalgiaku dengan Inggit pacarku dulu. “Ya sudah, sana pulang dan istirahat. Aku juga mau istirahat” jawabku dengan dusta.

Surabaya, 7 April 2018
(Ini adalah cerpen ketiga, lanjutan dari cerpen sebelumnya di suaranusantara.net dan cabarus.com)


Penulis:  Bung Sokran