Menjaga Marwah PMII Pada Tahun Politik | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Menjaga Marwah PMII Pada Tahun Politik

16 Februari 2018
PMII NEWS Online, Opini - Cara kaderisasi dan pemetaan kader PMII kita akui tidak akan pernah menemukan titik final, karena dinamisnya gerakan dan kondisi dari masa ke masa.

PMII setiap level di kepengurusan dituntut untuk memikirkan dan membuat inovasi baru agar terbentuknya perbaikan-perbaikan secara meningkat.

Menanggapi tulisan Aris Indra di website www.pmiinews.com, (Baca: Mainstream Kaderisasi Kita, Saat Dan Pasca Tahun Politik) tulisan tersebut membuka ruang baru tentang bagaimana kondisi PMII. Lebih serta kurangnya PMII menurut pandangannya. Memang tulisan tersebut tidak bisa dijadikan gambaran secara keseluruhan untuk PMII se Indonesia. Akan tetapi dari tulisan tersebut kita harus merenungkan kembali bagaimana roda organisasi ini dibawa.

Banyak yang memberi julukan tahun-tahun ini adalah tahun politik. Kami sempat berdiskusi dengan teman-teman cipayung di kota Pontianak, salah satunya ketua GMNI Bung Rival. Sebagai aktivis yang lahir dari ruang mahasiswa (akademisi), sebutan yang tepat adalah tahun demokrasi. Karena "tahun politik" cenderung memicu penekanan dinamisnya politik, apa saja gerakannya berbau kepentingan.

Tetapi "tahun demokrasi" adalah kata yang tepat karena membawa kita pada kesadaran bahwa perbedaan dinamika pemilu adalah hak demokrasi. Banyak makna dari kata tahun demokrasi tersebut tetapi esensi opini ini bukan pada hal itu.

PMII sebagai organisasi kaderisasi memiliki cita-cita luhur membentuk pribadi muslim yang baik dan berintegritas. Segala ide dan cara dirumuskan untuk hal itu. Tetapi di momentum pilkada ini, kami menghimbau kepada sahabat-sahabat untuk lebih cerdas dan berhati-hati melangkah. Karena bisa saja nyawa atau organ tubuh PMII  bisa tergadaikan bahkan terjual. Mengapa demikian? Karena PMII bukan organisasi politik praktis, tetapi murni sebagai ruang pembentukan karakter Mahasiswa.

Hal-hal terkecil harus difikirkan secara baik, contoh media sosial dari kelembagaan PMII ataupun akun kita secara pribadi. Tak jarang ada beberapa yang secara pribadi membagikan pilihannya, tanpa ia sadari itu bentuk promosi salah satu paslon dalam pilkada.

Pada dasarnya nanti akan memicu kekecewaan bagi anggota dan kader lain yang secara personal memiliki pilihan yang berbeda. Hal yang lebih parah apabila yang kecewa tersebut adalah anggota baru yang orientasinya bukan untuk berpolitik dan memahami PMII sebagai tempat ia belajar secara murni.
Baca juga: Awalnya Polemik, Saat Ini Arumi Bachsin Resmi Jadi Kader PMII
Maka formulasi untuk menghadapi pilkada ini harus dipikirkan secara serius. Marwah PMII sejatinya harus dijaga dan dirawat.

Maka kami menghimbau kepada seluruh anggota kader PMII untuk lebih berhati-hati melangkah dan membawa identitas PMII di momentum pilkada ini. Mari kita bawa dan merawat PMII bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depan PMII 10 sampai 20 tahun kedepan.

Tidak akan sia-sia segala pengorbanan dan waktu kita dalam mengabdi. Allah akan balas di dikemudian hari, jikalau belum disaat kita hidup, mari berdoa semoga barokahnya akan dirasakan sebagai pahala di akhirat kelak.

Penulis :
Abdul Wesi Ibrahim
Ketua Umum PC PMII Kota Pontianak