PB PMII: Dalam Waktu Dekat, Kader PMII Akan Kepung Kedubes Amerika Serikat | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PB PMII: Dalam Waktu Dekat, Kader PMII Akan Kepung Kedubes Amerika Serikat

13 Desember 2017
PMII NEWS Online - Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengecam keras kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atas pengakuannya terhadap Yerussalem sebagai ibu kota negara Israel.

Ketua Bidang Hubungan Komunikasi Organ Gerakan Kepemudaan, LSM dan Ormas PB PMII, Muhammad Syarif Hidayatullah menilai kebijakan sepihak itu dan dapat memicu konflik yang lebih besar.

“Pengakuan Trump terhadap Yerussalem sebagai ibu kota Israel memperparah konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina. Padahal kedua negara tersebut masih dalam proses melakukan perdamaian. Ini soal perdamaian dunia, bukan perdamaian Amerika Serikat," ujarnya kepada redaksi, Jumat (8/12).

Pria yang biasa disapa Chaliq ini menambahkan, pemerintah Republik Indonesia harus segera melakukan langkah diplomatik yang tegas agar Trump menarik keputusannya.

“Jika dalam waktu dekat pemerintah Amerika Serikat tidak menarik keputusan tersebut, kami kader PB PMII akan melakukan konsolidasi untuk mengepung Kedubes Amerika Serikat," tegasnya.

Senada dengan Chaliq, Ketua Umum PB PMII, Agus M Herlambang mengatakan dari perspektif hukum, keputusan ini telah melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional yang dilahirkan lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait Israel dan Palestina, salah satunya adalah Resolusi Majelis Umum PBB No. 2253 tanggal 4 Juli 1967 hingga Resolusi No. 71 tanggal 23 Desember 2016 yang pada pokoknya menegaskan perlindungan Yerusalem terhadap okupasi Israel.

"Sementara dalam perspektif kemanusiaan keputusan Trump bisa melahirkan radikalisme dan ekstrimisme yang berujung pada konflik agama. Mengingat Yerussalem juga merupakan tempat suci umat Islam," papar Agus.

Lebih lanjut, Agus juga berharap agar seluruh negara-negara Islam di dunia untuk bersatu mendukung kemerdekaan Palestina.

"Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia harus menjadi garda terdepan untuk memperjuangkan hal tersebut di forum-forum internasional," demikian Agus.

Sumber :
www.dunia.rmol.co