SKK Jatim Sebagai Ajang Politik, Narasumber: Kader PMII Hukumnya Fardu 'Ain Pilih Khofifah | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

SKK Jatim Sebagai Ajang Politik, Narasumber: Kader PMII Hukumnya Fardu 'Ain Pilih Khofifah

PMII News
12 November 2017

PMII NEWS Online - Kegiatan SKK (Sekolah Kader KOPRI) yang diadakan oleh Kopri PKC PMII Jawa Timur masih menjadi perbincangan di kalangan kader putri PMII Se Jawa Timur (Jatim). Dalam kegiatan tersebut panitia dinilai tidak mempersiapkaan kegiatan ini dengan maksimal. Itu disebabkan oleh banyaknya rentetan acara yang tidak sesuai, bahkan konsep acara yang tidak jelas. Mulai dari peserta yang diterlantarkan saat menuju lokasi, tidak konsisten terhadap waktu, screening (penyaringan) yang tidak serius, dan konsep acara yang kurang maksimal yakni banyaknya perubahan yang tidak disampaikan kepada peserta.

Dalam talkshow tersebut peserta dikejutkan dengan pernyataan salah seorang narasumber yang menyebutkan bahwa kader PMII hukumnya Fardu 'ain untuk memilih Ibu Khofifah maju sebagai Gubernur Jawa Timur. Dengan demikian peserta menyimpulkan bahwa talkshow tersebut merupakan ajang kesempatan berkampanye.

"Kami tidak masalah kalau memang bu Khofifah mau maju menjadi Gubernur sebagai senior PMII dan membutuhkan dukungan, tapi jangan di bungkus dengan acara SKK. Karena SKK ini adalah agenda pengkaderan di KOPRI. Dan seharusnya dimaksimalkan dan dipersiapkan dengan serius. Tidak main-main." Tutur Azizah Zam Zam peserta delegasi dari Kabupaten Malang.
Baca juga: Kontra Terkait Kegiatan SKK, Inilah Klarifikasi Ketua KOPRI Jawa Timur
Saat talkshow masih berlangsung dan Ibu Khofifah tidak hadir, banyak peserta yang keluar meninggalkan forum. Ini disebabkan oleh kekecewaan mereka sejak awal kegiatan. Di samping itu tiket beberapa peserta sudah mendekati keberangkatan. Sayangnya panitia tidak melakukan tindakan dengan adanya kekecewaan peserta. Ditambah dengan sertifikat SKK yang belum dibagikan sampai detik ini.

Selain itu, Panitia SKK dianggap kurang paham terhadap susunan kepanitiaan, perbedaan TOR dan Modul. Hal ini dibuktikan saat peserta bertanya kepada panitia terkait acara. Mulanya salah seorang peserta bertanya kepada salah satu panitia, Apakah dia panitia. Namun panitia tersebut menjawab “Tidak”, melainkan dirinya adalah SC (Steering Committee). Peserta kembali bertanya, dan panitia tersebut menjawab dengan jawaban yang sama. Merasa jengkel dengan panitia tersebut, peserta menjelaskan bahwa dalam kepanitiaan itu ada yang namanya SC dan OC.
Ditambah lagi saat peserta bertanya terkait modul peserta, panitia menjawab “Sudah ada TOR”.
Melihat kejadian di atas, jelas sekali bahwa panitia SKK Jawa Timur tidak memahami struktur kepanitiaan dan belum bisa membedakan modul dengan TOR. Kejadian ini sangat memalukan bagi sekelas Pengurus Koordinator Cabang (PKC).

Tak hanya itu, di hari terakhir kegiatan yang seharusnya diadakan Rapat Tindak Lanjut (RTL) dan penutupan, ternyata ditiadakan. Dengan demikian peserta yang hadir merasa haknya tidak terpenuhi. Niat mereka mengikuti kegiatan tersebut tak lain untuk serius dalam melaksanakan pengkaderan KOPRI agar menjadi kader militan, dan mereka berharap akan mendapatkan ilmu bermanfaat yang bisa diterapkan di cabangnya masing-masing.

Kenyataannya RTL (Rapat Tindak Lanjut) yang menjadi harapan terakhir sebagai tindak lanjut alumni SKK se Jatim yang pertama ini ditiadakan. Dengan alasan acara talkshow yang bertempat di UIN Surabaya akan segera dimulai. Dengan pembicara utama Menteri sosial sekaligus bakal calon Gubernur Jawa Timur Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa. Maka dengan demikian seluruh peserta diarahkan untuk ke UIN 

Demikian sebagian rentetan kekurangan yang dirasakan oleh peserta SKK PKC Jawa Timur Pertama yang diadakan di Balai Diklat Kementrian Agama. Kader Kopri berharap PKC Jatim dapat menanggapi ini dan menjelaskannya supaya tidak menimbulkan simpang siur di kalangan Kopri cabang.

Pewarta : Editor :
Azizah Zam-zam Herwiningsih