Analisis Permen LHK Pasal 39 | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Analisis Permen LHK Pasal 39

15 Oktober 2017
Pemikiran dan penilaian Wanto Aktivis 77-78 Bandung, menunjuk ke peta  di bawah tentang mereka yang menolak Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Pasal 39 tahun 2017 tentang Perhutanan Sosial di Wilayah Kerja Perum Perhutani:

Yang warna hijau pada  peta  tersebut lahan gundul di perhutani yang sejak reformasi tidak pernah bisa dikembalikan  vegetasi nya oleh Perhutani. Justeru lahan tersebut yang jadi zona nyaman dan bancakan para bandar sayur dan oknum Perhutani.

Jadi wajar mereka-mereka menolak Pasal 39 karena zona nyaman nya terganggu.

Lahan gundul di dalam wilayah Perhutani dari dulu tidak bisa diintervensi baik oleh pihak desa, Kabupaten, Provinsi bahkan Pemerintah Pusat, karena Perhutani seperti negara dalam negara. Padahal ketika lahan tersebut menjadi sumber lumpur maka yang jadi korban adalah desa, Kabupaten dan Provinsi, Lumpur tersebut terus berjalan seperti argo taksi sampai sekarang.

Pasal 39 adalah lobang kecil yang bisa menembus Perhutani untuk memperbaiki lahan gundul tersebut, karena dalam Pasal 39 lahan tersebut akan ditanami degan 50% pohon hutan, 30% pohon MPTS, 10% jasa wisata dan 10% tanaman semusim.

Jadi, Pasal 39 sebenarnya untuk menghutankan lahan gundul tersebut supaya argo lumpurnya berkurang, tapi oleh kelompok penolak diputarbalikkan bahwa Pasal 39 akan menggunduli hutan dan ditanami sayur sehingga akan menimbulkan bencana.
Download: E-Journal – Analisis Sosial: Sumber Daya Agraria
Lahan gundul di wilayah Perhutani Jabar sangat luas yaitu 232 tibu hektar, setara hampir 40% dari total wilayah perhutani di Jabar.
Foto: Dwi Subawanto (Aktivis 77/78 Bandung dan Pemerhati Lingkungan & Kehutanan)
Kesempatan untuk bisa merehabilitasi hutan gundul 232 ribu hektar tersebut tidak bisa datang dua kali apabila Pasal 39 yang lengkap degan sistem dan pendanaan  ditolak.

Pihak penolak Permen LHK Pasal 39 sejatinya adalah pihak yang menginginkan lumpur tersebut abadi.

Penulis: Dwi Subawanto