Tiga Dasar Pokok Mengelola Pembelajaran Di Pesantren | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Tiga Dasar Pokok Mengelola Pembelajaran Di Pesantren

23 September 2017
Oleh: Muhammad Madarik*

MUKADDIMAH

Pada dasarnya pendidikan dalam pesantren terdiri dari tiga unsur pokok,  yaitu:

  1. Pendidik (Asy-Syaikh). 
  2. Pelajar (Al-Murid). 
  3. Orang tua (Al-Wali).

Ketiganya harus sinergi dalam proses pembelajaran. Unsur segi tiga ini harus benar-benar dalam putaran mata rantai siklus yang dinamis. Sebab tidak mungkin salah satu pihak akan menjalankan tugas-tugasnya dengan baik, sedangkan pihak yang meninggalkan kewajibannya.
Foto: Ilustrasi
Lebih detail dapat diungkapkan bahwa: Pertama, "pendidik" dalam hal ini adalah kiai, sebagai tokoh sentral, dan para asatidzah, sebagai pembantu kiyai pada tataran pembelajaran. Kedua, "pelajar" adalah para santri, baik yang berdomisili di dalam atau di luar pagar pesantren. Ketiga, "orang tua" adalah ayah atau pihak yang mewakili untuk mengurus seluruh kebutuhan hidup santri tersebut.

Idealnya, ketiga elemen tersebut harus selaras, namun tulisan pendek ini lebih ditekankan pada pelajar (Al-Murid).

Empat Pilar

Mendalami ilmu pengetahuan di lingkungan pesantren, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi para santri, yaitu:

  • Niat (Motivasion)

Niat merupakan hal yang melatarbelakangi segala perbuatan yang akan dilakukan. Dalam rangka mewujudkan sebuah pekerjaan, maka niat menjadi tolak ukur berkualitas atau tidak. Hal ini sebagaimana tersirat dalam hadits Nabi Muhammad SAW:

إنما الأ عمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam konteks dunia pesantren, niat merupakan pondasi yang menentukan kegiatan bisa terpancang dalam garis-garis kebenaran atau sebaliknya, terdampar dalam lubang keburukan.

Niat dipandang baik, apabila diilhami oleh keinginan memperoleh ridhla Allah SWT dan menghapus kebodohan. Sedangkan niat dianggap jelek, jika dimotivasi oleh keinginan selain di atas.

Pada tataran pesantren, niat baik inilah yang harus dimiliki oleh setiap masing-masing tiga unsur tersebut, utamanya santri. Santri wajib mengokohkannya secara benar, sebab titik inilah yang menentukan salah atau benar proses selanjutnya. Tetapi terkadang santri masih belum mampu meneguhkan niat yang benar (terutama para santri baru), karena faktor ketidakpahaman mereka tentang tata cara menata niat kadangkalan terprosok ke dalam ruang kekeliruan.

Oleh karena itu, seorang kiyai merupakan sosok yang digugu dan ditiru dalam lingkungan pesantren. Pada saat demikian, peran kiyai guna mematri niat yang tulus menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh diremehkan. Selanjutnya menularkan perilakunya kepada segenap santrinya tidak dapat ditawar lagi, baik melalui sikap maupun lewat ucapan (uswah wa mau'idzah hasanah).

  • Tujuan (Vision)

Setelah motivasi mendapatkan keridhlaan Tuhan sudah ditancapkan, selanjutnya menetapkan "tujuan" yang ingin digapai. Tujuan ini dalam bentuk jangka pendek, menengah dan panjang. Masing-masing jangka itu tentu memerlukan perencanaan, penyelenggaraan dan evaluasi.

  • Secara sederhana dapat diuaraikan:

Untuk mencapai hal yang diinginkan, perlu menetapkan poin-poin yang diprioritaskan. Lumrahnya, penetapan ini disebut dengan "cita-cita". Tetapi karena keterbatasan kosa kata, kalimat "niat" masuk ke dalam kalimat "cita-cita" ini.

Oleh karenanya, santri perlu memilah angan yang diimpikan di masa depan; tujuan besar yang ditancapkan dalam jiwa adalah menggapai ridhla Allah SWT, sedangkan tujuan berjangka hanya merupakan langkah-langkah strategis guna mempermudah aktualisasi potensi-potensi yang tersimpan. Tujuan yang dibatasi jangka ini seringkali diistilahkan "cita-cita". Nah, para santri dipersilahkan mempertinggi cita-cita mereka, sepanjang tujuan memperoleh ridhla Ilahi tidak dirusak oleh cita-cita yang diposisikan sebagai strategi belaka.

Dalam hal ini, kebanyakan santri kurang cermat dalam kelola - istilah - niat dan cita-cita. Sehingga, seringkali fakta yang terjadi, cita-cita yang seyogyanya dibuat batu loncatan untuk menggapai niat, ternyata dijadikan tujuan akhirnya. Padahal cita-cita hanyalah pijakan melompat tujuan niat menggenggam ridhla Tuhan sebagai tujuan akhir.

Dengan menata keinginan-keinginan sebagaimana disebutkan di atas, diharapkan keluaran pesantren menjelma sebagai sosok manusia sempurna (insan kamil) yang mampu menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan kebutuhan akhirat.

  • Langkah-langkah Belajar (Learning Strategies) 

Menggapai cita-cita tentu tidak cukup hanya dengan tumpukan keinginan-keinginan yang dibangun melalui rutinitas kegiatan, apalagi hanya berbentuk angan-angan yang terpisah dari aktifitas.

Oleh karena itu, menata agar belajar benar-benar menemukan buah yang dituju, maka para santri dapat mengolah cara belajarnya dengan menjadikan program prioritas dari berbagai mata pelajar yang tidak cuma satu, apabila mata pelajaran yang dihadapi beragam disiplin ilmu.

Contohnya, pada tahun pertama santri mengambil satu mata pelajaran yang ingin dikuasai. Setelah ia yakin dengan pilihan mata pelajaran itu, ia merancang target per-tema atau per-bab dalam kurun waktu yang harus ditentukan. Misalnya, bab I (satu) harus dikuasai dalam kisaran satu bulan. Perolehan target pada masing-masing bab, dibuat lompatan menuju bab berikutnya. Dengan proses menapak tangga demi tangga demikian ini pemahaman tentang satu materi pelajaran dalam sebuah bab bisa didapat secara maksimal.

Tata cara yang memprioritaskan satu materi ini akan lebih mengena terhadap penguasaan mata pelajaran dan akan lebih terasa hasilnya, ketimbang belajar menyeluruh secara acak sebagaimana seringkali dilakukan mayoritas santri selama ini.

Seperti dimaklumi, sementara ini kebanyakan santri hanya mengikuti program yang dijadwalkan tanpa memilah materi mana yang seharusnya didahulukan. Sehingga proses belajar mereka hampir-hampir tidak ditemukan hasilnya. Seakan-akan hari-hari mereka hanya dilalui tanpa mengantongi pemahaman yang memadai mengenai ilmu pengetahuan yang pelajari. Gilirannya, pada tahap akhir baru dalam jenjang pendidikannya, mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah membuang waktu sekian tahun, menghamburkan biaya sekian juta dan bahkan melepas angka-angka umurnya persekian dari usianya.

  • Pengawasan (Supervision) 

Kekuatan terbesar dari kontinyuitas pembelajaran yang dilakukan para santri muncul dari pihak-pihak yang memiliki hubungan sosiolo-psikologis dengan mereka, dalam hal ini terdiri dari dua elemen, yaitu: [1] Internal. [2] Eksternal.

Internal yang dimaksud ialah:


  • Pengasuh. 
  • Pengajar (guru).
  • Pengurus. 

Kelompok ini mempunyai peran penting di dalam kelangsungan belajar para santri. Secara sosiologis, perilaku mereka banyak diciptakan oleh lingkungan yang mereka temukan setiap hari. Secara psikologis, pengembangan karakter mereka juga acapkali dipicu oleh metode pengajaran yang kelola oleh pendidiknya. Pihak internal inilah yang memegang kendali dalam soal belajar mereka. Ketika pihak internal ini mampu membentuk corak belajar-mengajar menjadi kondusif, maka belajar yang berkesinambungan bakal terwujud.

Tentu saja peran-peran ketiga pihak itu tidak dapat digambarkan seperti strukturnya dalam pesantren, yang secara hirarkis dimulai dari strata lebih tinggi hingga ke bawah, tetapi peran-peran ketiga pihak itu selaras dan sama. Artinya, dampak dari sebuah pengawasan tidak memandang struktur kepengasuhan atau kepengurusan. Hal yang terpenting, ketiga pihak itu berkomitmen untuk melaksanakan tugas-tugas yang dipikul atas pundaknya masing-masing, maka proses belajar para santri akan berjalan sesuai programnya.

Di sisi lain, peran tak kalah penting yang dipunyai ketiga pihak itu ialah turut melakukan pengawasan terhadap sikap para santri, utamanya dalam hal keberlanjutan belajar mereka. Bentuk teknis pengawasan tentu diselenggarakan oleh ketiga pihak dalam posisi dan wewenang masing-masing. Keterlibatan ketiganya menjadi cukup signifikan berkaitan dengan rutinitas belajar mereka.

Ekstetnal yang dimaksud adalah:


  • Orang Tua (Wali)

Keikutsertaan pihak ini cukup besar dalam proses belajar masing-masing santri. Terlebih di masa kini, ketergantungan santri terhadap orang tua (wali) tidak dapat dilepas. Dalam konteks ini, santri dinilai oleh banyak kalangan menjadi sosok pemuda yang terlalu "manja", akibat ketergantungan yang berlebihan terhadap orang tua (wali). Mencermati persoalan ini tidak bisa digeneralisir "hanya merupakan kesalahan" anak. Sebab, sikap tegas dan "tega" dari orang tua (wali) pada masa sekarang tidak dapat dibandingkan dengan sikap yang orang tua (wali) di masa lalu. Kondisi demikian ternyata membentuk watak para santri menjadi "manja".

Terlepas kadar ketergantungan santri terhadap orang tua (wali) yang luar biasa, pengawasan orang tua (wali) merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh di tawar lagi. Dalam tataran orang tua (wali), pengawasan bukan saja diartikan sebagai pengawalan terhadap kehidupan santri dari sisi finansial belaka, namun lebih dari itu dipahami sebagai bentuk perhatian terhadap tingkat kompetensi intelektual dan kecerdasan spiritual.

Justru perhatian orang tua (wali) pada dua aspek ini jauh lebih utama ketimbang hanya mengurus persoalan biaya saja. Sayangnya, kebanyakan orang tua (wali) masih terpaku pada sisi finansial, sementara aspek intelektualitas dan spiritualitas terlupakan.

PENUTUP

Empat pilar di atas, dapat dijadikan dasar pijakan kelola belajar santri dalam melaksanakan proses pendidikan di pesantren. Melalui format empat pilar itulah, proses pendidikan benar-benar bisa diimpikan hasilnya. Semoga! []

* Penulis: Pengajar IAI Al-Qolam Malang dan PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang.