Surat Untuk Sahabat Aminuddin Ma’ruf, Sampean Takut ? | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Surat Untuk Sahabat Aminuddin Ma’ruf, Sampean Takut ?

PMII News
23 September 2017
PMII NEWS Online -
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Kepada yang terhormat; Seniorku, Ketua Umum ku, Orang Nomor Satu di PMII Sahabat  Aminuddin Ma’ruf yang kami cintai dan kami banggakan. Semoga selalu dalam keadaan sehat wal’afiat serta sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Mohon maaf kepada ketua umum PB PMII, surat yang saya buat ini tidak menggunakan model surat sebagaimana mestinya di PMII, seperti tidak ada Kop, tidak ada nomor surat, tidak ada lampiran, apalagi proposalnya, tidak!. Akan tetapi saya Haqqul Yaqin, bahwa isi surat ini kurang dan lebihnya saya tulis sebagai bentuk sayangnya seorang kader dan Tabayyun kepada Ketua Umum yang telah mengurusi hal besar di PMII, terlebih kita sesama Kader PMII Jakarta. Jum'at (05/05/2017). Maklum, sekarang lagi musim berita Hoax, maka Tabayyun-lah sebagai penangkalnya.

Sebelumnya saya memberitahukan terlebih dahulu, saya ini hanya seorang kader dari PMII Jakarta yang benar-benar merasakan, dan tahu seperti apa, dan bagaimana perjuangan Ketua Umum PB PMII dalam memajukan PMII. Mulai dari kepengurusan ini lahirlah sistem kaderisasi yang baru plus ketat administrasi, ide-ide kembali ke Pesantren dan Masjid, merenovasi Sekretariat PB PMII menjadi terlihat anyar nan indah dipandang, dan mungkin masih banyak segudang keberhasilan lainnya yang patut diapresiasi. Akan tetapi Ketua Umum tidak perlu khawatir, saya bukan tipikal kader yang apabila kepepet akan melakukan tindakan pemecahan kaca, dan chaos. Kehadiran saya sebagai kader InsyaAllah tidak akan membuat sampean menjadi takut.

Begini Ketua Umum, dari sekian banyaknya kesuksesan yang sampean lakukan, kok saya tidak mendapatkan esensi dari label seorang Ketua Umum, seorang Leader (Sahabat Mulyadin biasanya nyebut Chairman) yang sampean emban. Entah saya yang terlalu bodoh, atau saya yang memang bukan level dengan sampean. Dan contoh kesuksesan yang saya sebutkan tadi seperti hanya cover/bungkusan yang bisa bikin opini seolah-olah “berhasil”. Mengapa saya tidak mendapat sisi sampean bak seorang Chairman ? sebab, dari kontestasi Konkoorcab PMII DKI Jakarta kemarin yang telah memakan waktu satu tahun lebih, dan melelahkan banget itu, ada beberapa indikator :

Pertama, ketika Konkoorcab bulan April tahun lalu mengalami deadlock karena masing-masing mendapat score 2 – 2 (padahal sebenarnya Sahabat Daud Azhari entah kapan bisa terdaftar sebagai kandidat, bahkan tidak mengikuti uji kompetensi adanya debat kandidat yang digelar oleh panitia Konkoorcab). Maka solusi yang dibangun atas dasar kekeluargaan di PMII DKI Jakarta, dan diamini oleh sampean juga adalah bahwa, setiap kandidat diganti oleh Kandidat yang baru dengan mekanisme membuka pendaftaran kembali (ini dilakukan untuk menghindari deadlock lagi, dan mencapai win-win solution, katanya). Dari PMII Jakarta Selatan, sahabat Don Gusti Rao digantikan oleh Sahabat Yayan Saputra dengan ikut pendaftaran kembali.

Tetapi kenyataannya, Jakarta Pusat tetap dengan mencalonkan kandidat yang sama (itupun lagi-lagi Sahabat Daud Azhari sejak kapan mendaftarkan lagi ?). Pertanyaannya, mengapa sampean diam saja Ketua Umum? kenapa tidak menganbil sikap? apakah dilemparkan begitu saja urusan ini ke Ketua Tim Karateker? sampean takut?.

Kedua, Konkoorcab dimulai lagi di kontrakan PB PMII (karena saat itu sekretariat PB PMII masih ngontrak sementara), seiring berjalannya waktu, dan pelaksaan Konkoorcab tersebut sangat legal karena telah disepakati oleh seluruh peserta Konkoorcab untuk mensukseskan Konkoorcab yang telah lama deadlock tersebut, walaupun Jakarta Pusat melakukan walk-out di tengah jalan. Walhasil, Sahabat Yayan Saputra terpilih menjadi Ketua dalam Konkoorcab PMII DKI Jakarta secara aklamasi, sebab Sahabat Daud tidak menghadiri, dan lagipula tidak mendaftar lagi sebagai calon kandidat (bila ingin tahu kenapa mereka walk-out, dan kandidat tidak hadir, dan tidak daftar, silakan tanya kepada yang bersangkutan).

Pasca-Konkoorcab tersebut, saya dan peserta Konkoorcab kembali dikumpulkan oleh Pak Ketum di rumah makan Miskun. Dalam pertemuan tersebut memang membahas soal Konkoorcab, sampean juga bilang tegas kepada kami “pertemuan ini tidak menghasilkan hukum apapun, saya hanya sebatas ingin tahu soal Konkoorcab kemarin, soalnya bagaimanapun juga saya ini kader PMII DKI Jakarta”. Masih ingatkah sampean Tum?.

Dalam pikiranku, ini mengartikan bahwa keputusan Konkoorcab kemarin (Sahabat Yayan terpilih) itu adalah final, dan tidak bisa diganggu-gugat kembali. Kalau rumah makan Miskun bisa ngomong, pasti akan ngomong yang sama seperti saya. Kemudian pada kenyataannya, tiba-tiba sampean meminta Konkoorcab harus diulang.

Gerangan dan gerungan apa yang bikin sampean berubah pikiran ? ada tekanan tah ? kemana komitmen seorang Ketua Umum PB PMII itu ? apa sampean takut ?

Kurang lebih dua indikator itu saja sudah cukup buat sampean ya Tum. Mohon maaf kalau isi suratnya terlalu banyak. Sekali lagi, ini dalam rangka sayangnya saya dan Tabayyun kepada sampean, makanya surat ini diberi judul Sampean Takut ?.Semoga  pertanyaan saya ke sampean itu salah. Kalau seumpama benar, apa masih layak dipanggil dengan label Pak Ketum? apa begini “kelakuan” sebagai kader PMII Jakarta yang dibangga-banggakan itu? apakah sampean ini tipikal “pencari aman”? maka biarlah waktu, dan Sahabat – Sahabat pembaca yang menilainya. Sekian.

Ilmu & Bakti Kuberikan, Adil & Makmur Ku Perjuangkan

Wallahulmuwafiq Ilaa Aqamith-thariq
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh


Salam Hormat,
Muhammad Rohim Hidayatullah (Ketua Cabang PMII Jakarta Selatan 2016 - 2017)
Sumber : pmiijaksel.org