Sejarah Aswaja Dan Aswaja Sebagai Manhaj Al-Fikr | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Sejarah Aswaja Dan Aswaja Sebagai Manhaj Al-Fikr

23 September 2017
PMII NEWS Online - Ahlusunnah wal Jamaah atau yang sering disingkat Aswaja secara sederhana dapat diartikan sebagai kelompok yang mengikuti sunnah Nabi dan ajaran para sahabat Nabi yang merupakan santri nabi itu sendiri. Aswaja oleh sebagian orang sering dianggap sebagai madzhab, sebagian lainnya lagi menyebutnya sebagai manhaj al-lfikr (metode berfikir). Untuk sementara saya memakai pengertian yang kedua (dengan berbagai peradabannya).
Foto: Sahabat Ahmad Sahal Mahfudh
Aswaja sebagai manhajul fikr adalah respon para sahabat atas situasi umat yang kacau pada saat itu, baik pola pikir masyarakat maupun infiltrasi kepentingan suatu kelompok tertentu. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemunculan firqah-firqah (kelompok mazhab Islam) banyak dilatarbelakangi oleh situasi politik umat Islam saat itu.

Setelah wafatnya Nabi, para pemimpin Muslim harus menentukan bentuk umat seperti apa yang harus mereka pilih. Sebagian mungkin tidak percaya jika harus ada “negara” dengan demikian tidak perlu satu pimpinan untuk memimpin keseluruhan suku dan kelompok pada saat itu. Sementara sebagian yang lain seperti Abu Bakar dan Umar berpendapat bahwa umat harus memiliki satu pemimpin sebagaimana pada saat Nabi. Sementara sebagian yang lainnya lagi percaya bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak atas tampuk kepemimpinan setelah Nabi. Di Arab yang menganggap bahwa ikatan darah sangat sakral, kualitas pemimpin dipercaya akan diwariskan kepada keturunannya dan sebagian warga Muslim percaya bahwa Sahabat Ali telah mewarisi sebagian kharisma khusus Nabi Muhammad SAW.


Pada akhirnya, walaupun kesalehan dan alimnya Ali tidak diragukan lagi, tetapi beliau masih sangat muda dan belum berpengalaman. Dengan demikian, Sahabat Abu Bakar dipilih menjadi khalifah pertama Nabi melalui suara mayoritas. Meski singkat, suasana politik dan kepemimpinan terbilang cukup stabil, hingga sampai pada masa Sahabat Umar dan Utsman dimana situasi politik tidak stabil, yang membuat keduanya mati dibunuh. Hingga tiba pada masa kepemimpinan Sahabat Ali sebagai klimaks dari situasi politik yang tidak stabil pada era sebelumnya.

Sahabat Ali menghadapi situasi yang sulit, beliau harus menghadapi kelompoknya sendiri, serta kelompok pemberontak lainnya yang tidak suka dan puas dengan kepemimpinannya. Sahabat Ali harus menghadapi Aisyah dalam perang Jamal. Lalu menghadapi Muawiyyah dalam perang Shiffin. Dalam situasi ini Muawiyyah yang menyadari kekalahannya kemudian memainkan peran politiknya. Ia menancapkan Al-Qur’an ditombak sebagai bentuk perdamaian dengan Sahabat Ali. Dipihak Ali terpecah dalam menyikapi ini, pada akhirnya terjadilah arbitrase dimana Muawiyyah secara ambisius mengambil alih kekuasaan dari Ali.

Kelompok loyalis atau kelompok partisipan pro Ali kemudian terpecah. Mereka yang setia dengan Ali disebut Syiah dan kelompok yang semula setia pada Ali lalu keluar dari barisannya karena merasa tidak puas dengan arbitrase atau perjanjian tahkim antara bani abbasiyyah dengan bani umayyah sebagian mereka menganggap Ali telah berlaku khianat terhadap hukum Allah disebut sebagai khawarij (ekstremis) khawarij di sini berasal dari kata kharaja (keluar) atau keluar dari barisan Ali

Situasi politik saat itu sangat kacau, sementara masing-masing pihak saling tuding, menambah rumit kondisi umat. Barisan setia Ali merasa Ali-lah yang paling berhak atas kepemimpinan dan merasa telah dibohongi sertadikhianati oleh pihak Muawiyyah. Sementara pihak Muawiyyah sebaliknya merasa Muawiyyah adalah pemimpin yang sah dan arbitrase adalah keadaan yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuknya sehingga tidak boleh digugat karena muawiyah komitmen dengan prinsipnya yang kuat, mereka yang menggugat berarti melawan Allah. Di sisilain kelompok Khawarij menganggap kedua belah pihak adalah thagut dan telah kafir dari hukum Allah sehingga halal darahnya (dibunuh).

Khawarij menghendaki kedua orang tersebut harus diperangi, hal ini sesuai doktrin mereka “la hukma illa lillah”, tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Doktrin ini kerap kali digunakan oleh kelompok ekstremis dewasa ini. Pada dasarnya teks tersebut berbicara benar, namun interpretasi atas teks tersebut kemudian yang salah. Singkatnya, terjadilah konspirasi untuk membunuh Ali dan Muawiyyah yang pada akhirnya berhasil membunuh Ali, sedangkan Muawiyyah lolos dari usaha pembunuhan tersebut.

Situasi yang kacau, saling menyalahkan, memfitnah dan membunuh saat itu memunculkan sekelompok orang yang memiliki pemikiran untuk menjaga peradaban dan keamanan umat. Bagi kelompok tersebut, situasi chaos jika tetap dibiarkan akan menyengsarakan umat dan membawa umat pada kemunduran dan kehancuran. Karena hal itulah perlu usaha untuk menjaga keamananan dan menyelamatkan peradaban umat.

Cara berpikir demikianlah yang disebut dengan Aswaja sebagai manhajul fikr. Kata Aswaja sendiri memang belum ada pada masa Nabi ataupun masa awal kekhalifahan yang empat. Namun orang-orang yang memiliki cara berpikir ala Aswaja telah ada pada masa itu. Bagi kelompok Aswaja, situasi yang  terjadi setelah wafat Nabi di Tsaqifah antara Abu Bakar, Umar dan beberapa tokoh sahabat yang lain adalah salah satu bentuk dari upaya ijtihad politik.

Dalam hal ini, ijtihad politik dipandang secara akomodatif, dimana hasil ijtihad yang benar maka berpahala dua, namun jika salah maka pahalanya satu. Dengan demikian kelompok yang berpikir dengan prinsip Aswaja ini melihat perdebatan panjang yang terjadi mengenai siapa yang paling berhak atas kepemimpinan setelah Nabi lebih bersifat terbuka, dinamis dan toleran. Cara berpikir diatas juga diterapkan dalam kasus arbitrase antara Ali dan Muawiyyah, dan hal ini tentu berbeda dengan cara pandang kelompok Khawarij yang sangat ekstremis, kelompok Ali yang sangat sektarian dan begitu juga dengan kelompok Muawiyah.

Cara berpikir dengan prinsip Aswaja ini kemudian diadopsi oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Terutama Rayon sunan Bonang Fakultas Agama Islam Komisariat Unisma (Universitas Islam Malang) begitu pun termasuk ormas-ormas yang lain semisal di tubuh NU (Nahdlatul Ulama) PMII ataupun NU atau organisasi-organisasi lainnya yang bermazhab Sunni memakai prinsip Aswaja dalam merumuskan kultur gerakan dan keagamaannya. Karena hal yang demikian pula PMII sering kali dituding sebagai kelompok yang oportunis, hal ini bisa diterima karena mereka yang menganggap demikian tidak memahami PMII maupun Nu atau ormas-ormas yang lain dan ke-Aswajaan-nya, padahal oportunisme dengan prinsip ke-Aswaja-an PMII terutama di Rayon sunan bonang sangatlah berbeda.

Aswaja sebagai manhajul fikr adalah upaya dari cara berpikir yang bertujuan menjaga peradaban dan stabilitas keamanan manusia di muka bumi. Aswaja menolak cara-cara berpikir dan bertindak licik, kasar, merusak, intoleran serta hal-hal yang membawa pada chaos (agitasi-negative) dan kemudharatan. Karena itu kelompok Aswaja, misalnya PMII ataupun NUsebagai prototype Islam Aswaja di Indonesia sangat teguh menjaga tradisi sembari terus mengikuti perkembangan zaman (al-muhafazhatu al al-qadimis shalih walakhdzu bil jadidil ashlah). Tidak hanya itu, bahkan tidak hanya menjaga dan mengambil, Aswaja juga menghendaki produksi dan kreativitas setiap saat dalam hal-hal positif (al-ijad).

Konsep Aswaja oleh PMII terutama ditubuh NU kemudian ditelurkan menjadi beberapa nilai, selain nilai kuliyah al-khamsah yang sudah diyakini sebelumnya dalam Islam secara kesuluruhan, nilai-nilai itu antara lain, tawasuth (moderat) seorang Muslim haruslah dapat bersikap moderat tidak timpang dalam menyikapi persoalan, tasamuh (toleran) seorang Muslim haruslah bersikap toleran dengan cara menghargai orang atau kelompok lain di luar dirinya sebagaimana ia menghargai diri dan kelompoknya sendiri, tawazun (imbang) seorang Muslim harus berimbang dan mampu menakar setiap persoalan sesuai timbangannya tidak curang dan zalim. Terakhir taaddul (adil) seorang Muslim harus mengedepankan keadilan, keadilan harus diperjuangkan dan ditegakkan dalam segala hal dan kondisi dalam melihat persoalan apapun.

Penulis: Netizen / Sahal Mahfud*

(*) Mantan Ketua Rayon Bonang Komisariat PMII Unisma Kota Malang.