Revolusi Mental Mahasiswa | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Revolusi Mental Mahasiswa

PMII News
27 September 2017
PMII NEWS Online - Istilah “Revolusi Mental Mahasiswa” berasal dari tiga suku kata, yakni 'revolusi', 'mental' dan ‘mahasiswa’. Arti dari ‘revolusi’ adalah sebuah perubahan yang dilakukan dengan cepat dan biasanya menujukearah lebih baik. ‘mental’ memiliki arti yang berhubungan dengan watak dan batin manusia. Adapun istilah mentalitas menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna aktivitas jiwa, cara berpikir, dan berperasaan. Dan ‘mahasiswa’ adalah orang yang sedang belajar atau mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.
Foto: Sahabat Andreansyah Ahmad (Ketua PMII Komisariat UNISMA)
Maka, istilah “revolusi mental mahasiswa” dapat ditafsirkan sebagai aktivitas mengubah kualitas mahasiswa menuju ke arah yang lebih bermutu dan bermental kuat dalam berbagai aspek dengan jangka waktu yang cepat. Disadari atau tidak, hari ini banyak dari mahasiswa yang tidak memiliki mental dalam berbagai hal yang berkaitan dengan proses akademik maupun organisasi. Ini menjadi permasalahan besar yang dihadapi kaum intelektual di berbagai perguruan tinggi.

Beberapa permasalahan berikut, dialami oleh kebanyakan mahasiswa diberbagai macam perguruan tinggi; Tidak berani berbicara di depan kelas saat perkuliahan ketika presentasi. Mahasiswa hanya bisa diam saat perkuliahan karena takut untuk berbicara ataupun menyampaikan sesuatu kepada dosen. Sulit melakukan sebuah komunikasi dengan teman ataupun dosen. Mahasiswa memilih diam ketika ada permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan kampus ataupun negara. 

Salah satu contoh yang saya temukan adalah beberapa teman yang tidak pernah masuk kuliah, hingga pindah ke kampus lain karena merasa tidak bisa mengikuti pelajaran saat perkuliahan. Padahal itu hanya masalah tidak adanya mental, kurangnya rasa percaya diri, dan tidak adanya proses komunikasi yang baik di lingkungan kampus, baik antara mahasiswa ke mahasiswa, mahasiswa ke dosen ataupun dosen ke mahasiswa.  

Dalam era digital ini, juga ditemui mahasiswa yang gemar menunduk (selalu bergantung pada gadget). Hal ini juga yang menjadi bagian rusaknya mental mahasiswa. Banyak mahasiswa yang aktif di media sosial, memberikan kritik dan saran pada suatu permasalahan ataupun kejadian. Memberi komentar panjang nan kritis, namun saat berdialog langsung (face to face) hanya memilih diam dan tak berani berbicara.

Banyak mahasiswa yang hanya berani berbicara di belakang, mengkritik seseorang, misalnya dosen. Dengan kritisnya mahasiswa tersebut mengkritik sang dosen, berbicara panjang lebar. Namun ketika bertemu dengan sang dosen, mahasiswa tersebut hanya menunduk diam dan tidak berani berbicara. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, sudah sepatutnya untuk saling mengingatkan dengan cara-cara yang beretika dan tidak melanggar norma.

Bagaimana mahasiswa hari ini bisa berbicara dan mengahadapi berbagai macam persoalan bangsa, bila tidak adanya kemauan untuk mengasah mental dalam diri mahasiswa tersebut.

Padahal, menurut Kartono (dalam Ulfah, 2010) mahasiswa merupakan anggota masyarakat yang mempunyai ciri-ciri tertentu, antara lain; Mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi, sehingga dapat digolongkan sebagai kaum intelegensia. Karena kesempatan yang ada, mahasiswa diharapkan nantinya dapat bertindak sebagai pemimpin yang mampu dan terampil, baik sebagai pemimpin masyarakat ataupun dalam dunia kerja. Diharapkan dapat menjadi daya penggerak yang dinamis bagi proses modernisasi. Diharapkan dapat memasuki dunia kerja sebagai tenaga yang berkualitas dan profesional. 

Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno dalam pidatonya berkata “beri aku 10 pemuda, maka niscaya akan kugancangkan dunia”.

Revolusi mental mahasiswa sangat diharapakan, karena telah terbukti peran gerakan mahasiswa bisa mengubah keadaan dan kondisi bangsa. Mahasiswa dengan keilmuan yang dimiliki dan nalar kritisnya diharap mampu untuk menjawab berbagai tantangan zaman, baik dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, maupun politik.

Revolusi mental mahasiswa juga bisa didapatkan melalui organisasi, pelatihan kemimpinan, dan gerakan-gerakan lainnya. Jangan sampai mahasiswa Indonesia, khusunya mahasiswa Universitas Islam Malang, menjadi mahasiswa yang tidak peka terhadap berbagai persoalan baik di dalam kampus, maupun persoalan bangsa ini. Mahasiswa harus mampu melahirkan sebuah solusi, sebuah jawaban atas berbagai macam persoalan.

Organisasi kemahasiswaan merupakan salah satu wadah yang bisa digunakan untuk melatih dan mengasah mental mahasiswa, karena di dalam organisasi, mahasiswa akan banyak berdiskusi, berdialektika, menjalin komunikasi, belajar bagaimana membuat sebuah agenda, turun ke masyarakat, melakukan advokasi, lobying, belajar bersama dan aksi-aksi nyata lainnya. Karena disadari atau tidak, hanya sedikit ilmu yang mahasiswa dapatkan di bangku perkuliahan, maka mahasiswa harus aktif mencari ilmu di luar bangku perkuliahan. 

Life without experience is nothing (hidup tanpa pengalaman sama halnya tidak melakukan apa-apa). Oleh karena itu revolusi mental mahasiswa sangat diharapkan agar mahasiswa-mahasiswa Indonesia menjadi mahasiswa yang cerdas, kritis, dan mampu menjawab tantangan zaman. Jangan sia-siakan masa-masa menjadi mahasiswa hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Bangsa ini sangat mengharapkan mahasiswa menjadi garda terdepan dalam membangun tatanan berbangsa dan bernegara. 

Sekali bendera dikibarkan hentikan ratapan dan tangisan, karena tidak melakukan apa-apa adalah sebuah kedzholiman terhadap masyarakat, bangsa, agama dan negara. 

Penulis: Andreansyah Ahmad (Ketua PMII Komisariat Universitas Islam Malang)