Pola Kaderisasi Kita, Dalam Prespektif Saya | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Pola Kaderisasi Kita, Dalam Prespektif Saya

23 September 2017
PMII NEWS Online - Semacam Pendahuluan Yang Penuh Emosi, Sebelum Berselancar sekehendak hati dan sesuka jemari menari-nari diatas keyboard, tanpa mengindahkan pakem EYD (Ejaan Yang Disempurnakan). Mari sejenak mengingat kembali tujuan organisasi pergerakan ini yang termaktub dalam pasal IV AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berikut ini.
Oleh: Aris Indra F* (Urutan foto keempat dari kanan)
“Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmnen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”.

Begini! Entah mengapa saya kurang yakin bahwa alumni PMII yang sudah menjadi tokoh nasional, maupun yang menjadi tokoh daerah, atau apalagi yang hanya ditokohkan oleh kader-kader karena sebab praktis, mereka semua itu adalah benar-benar produk kaderisasi PMII.

Sependek akal saya membaca kebelakang dan sekarang, PMII hanya menjadi sekedar sebagai ‘wadah’ dari dulu sampai sekarang, yang tak ubahnya sebuah kendi yang berada tepat di bawah pancuran air. Dalam batas tertentu kendi itu akan mengeluarkan air dari lubang yang lainnya karena sudah terpenuhi, begitulah pengibaratan saya mengenai PMII yang hanya menjadi batu loncatan untuk berkarir, baik di partai politik maupun profesionalis.

Mahasiswa baru, datang lalu masuk PMII, kemudian tahun-tahun selanjutnya tertimbun dengan mahasiswa-mahasiswa baru yang datang juga lantas masuk PMII, dan ketika sudah penuh (plus: beban SKS selesai + Puskom & Pusbas lulus + pita toga sudah dipindah) maka keluar mengalir, dan menjadi manusia baru yang semuanya berproses  dari titik awal, seperti tidak pernah belajar tentang manhajul fikr PMII dan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) PMII .

Beruntung yang masih beraktifitas di jejaring PMII, minimal ia punya teman cerita tentang kenangan di PMII. Yaa! Hanya kenangan, kenangan. Bagaimana dengan yang tidak? Sudah tidak bisa lagi berbagi kenangan dan jauh dari idealism PMII. Karena di PMII ia hanya sebagai air yang mengalir, penuh lalu tumpah.

Kemudian dalam berbagai kasus yang ada, saya kurang meyakini bahwa ungkapan kebanggaan para tokoh-tokoh yang dulu pernah berproses di PMII terhadap kondisi PMII terkini, murni dari rasa cintanya kepada organisasi yang membesarkan namanya sekarang. Andai saya dipaksa untuk su’udzon mungkin yang keluar dari fikiran saya adalah mereka ada maksud tersembunyi dengan jaringan PMII hari ini dan yang akan datang, lihat saja peta jaringan PMII di sekitar anda sekarang, siapa yang mendukung konsepsi dan turut mengawal pembaruan kaderisasi di tingkat cabang masing-masing, dan siapa yang memiliki tendensi lain yang mengorbankan para kader yang masih aktif?.

Apakah ini murni salah individu yang hanya mengalir saja? Tidak! Tapi! Bisa jadi ‘kata’ pertama tujuan PMII yang tercantum dalam pasal IV AD/ART Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang berbunyi “Terbentuknya pribadi…” Adalah sebuah identitas kutukan yang tersembunyi dibalik sarung eksistensi para kader PMII. Sehingga apapun bentuk sistem kaderisasi yang disusun oleh pengurus besar, produknya adalah masih digantungkan pada karakter bawaan atau potensi atau bakat per-individu para kader PMII. Lantas jika nyatanya seperti itu, produk kader murni PMII itu sebelah mana?.

Rasa-rasanya kata ‘Terbentuknya’ memang berkonotasi pasif dalam pemaknaannya, seakan-akan “…pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmnen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia” terbentuk tidak melalui suatu sistem yang terencana lagi terstruktur, melainkan terbentuk melalui “kondisi alam”, alias terbentuk dengan sendirinya.

Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus-terusan menjadi lestari, kita tidak boleh membenarkan kondisi alam bawah sadar kita terpengaruh dengan kenyataan, sedangkan kenyataan itu sendiri hanyalah buah dari prespektif dan ilusi. Bagaimana jadinya jika kita tidak segera mengambil tindakan, untuk segera mengambil kuasa atas kenyataan yang ada. Bukankah materi anakoling dan rekayasa sosial sesungguhnya adalah trik yang diberikan oleh senior-senior mengambil kuasa atas kenyataan itu.

Bagaimana Dengan Kesadaran Alternatif? Mungkin Saja!
Memang sih apa yang kita lakukan semuanya pasti ada nilai pembelajarannya minimal  dapat hikmah, namun akan menjadi lebih baik dan segera terwujud sebuah gugatan dari diri yang ingin merdeka atas segala bentuk belenggu, yang semua tergambar dalam manifesto berlingkungan intelektual organik (intelektual yang terlahir dari rahim perguruan tinggi) yang dibina PMII. Sebagaimana slogan-slogan kemerdekaan dan kemandirian berfikir yang selama ini diperdengungkan pada setiap lorong dan ruang kaderisasi.

Beruntunglah mereka yang sudah terbentuk pola pragmatis di alam fikirnya, akan lebih mudah untuk melalui masa-masa kritisnya sebagai kader aktif. Namun nasib sial akan menghampiri mereka yang alam fikirnya sudah terbentuk, karena mereka harus jeli dalam berjalin sesama untuk menggali dan melahirkan formula yang terbaik untuk zamannya dan selanjutnya.

Suatu ketika, kita pasti akan bertemu dengan bermacam-macam orang dan pemikiran, untuk perlu kita sadari dengan penuh prasangka baik, adalah orang yang kita temui pasti memiliki ritme jalan pemikirannya sendiri-sendiri. Bahwa setiap orang yang kita temui akan membawa ritme itu dan mampu mempengaruhi ritme kita.

Jadi, jangan sampai kita kehilangan kendali ritme kita, tanpa memperadukannya dengan ritme orang lain. Dengan demikian sebuah proses dialektika yang menguntungkan kedua belah pihak akan terwujud. Tentunya tawaran ini akan ditolak mentah-mentah oleh mereka yang masih tertanam sifat feodalis di otaknya, yang dalam konteks koai-santri guru-murid tetap harus ada. Dan tulisan ini berada pada konteks senior-junior.

Sesederhana itulah melihat suatu kenyataan hari ini yang dikemudian hari pasti akan kita rindukan, dan yang hari ini sedang kita lalui dengan derai air mata dan kucuran keringat, mungkin juga darah. Bukankah telah kita ketahui bersama ‘siapa yang berfikir maka dia ada’ yakni sebuah keberlanjutan dari ruang yang sedikit lebih kecil dari pergaulan ini. Ruang pendewasaan diri.

Saat-saat yang paling menentukan seseorang dalam sebuah pencariannya adalah ketika ia menemukan sebuah hal baru, yang menarik dengan berbagai latar belakang penyebabnya, lalu dirasanya pas pada tujuan dan harapan pada kehidupannya.

Manusia sebagai makhluk sosial, dengan akal yang menempel padanya, ia akan membangun, merawat, mempertahankan dan mengembangkan komunitasnya, mulai komunitas yang berdasarkan kesamaan hobi, agama, suku  hingga komunitas dalam bentuk negara dengan satu ideologi. Sebagai tujuannya adalah terciptanya persatuan untuk meraih cita-cita bersama dalam segala bentuk perbedaan yang dibawa setiap individu didalamnya.

Satu Tawaran “Kacamata”, Diterima Atau Tidak, Terserah!
Akhir-akhir ini saya agak risih sejak mendekati peringatan Harlah PMII yang ke-57, banyak beredarnya quotedari ulama besar NU (Nahdlatul Ulama) KH Idham Cholid, yang mengatakan dalam perbandingannya bahwa “Anshor-Fatayat merupakan tangan kanan NU, IPNU-IPPNU adalah tangan kiri NU, dan ketahuilah bahwa PMII merupakan kepalanya atau pemikir NU”. Sekilas saya merasa bangga saat pertama kali melihat sahabat-sahabat menyebarkan quote tersebut melalui media sosial, namun beberapa detik kemudian saya baru menyadari, perkataan beliau benar, tapi jika difahami oleh kader-kader sekarang saya rasa kurang pas dan salah besar baginya. Mengapa?.

Ada banyak elemen yang harus diperhatikan dalam membangun kembali mitos tentang “keangkeran” ruang kaderisasi PMII. Adalah memiliki pandangan yang luas dan memahami keluasan yang ada dalam pandangan mata, sebagai modal pertama dalam membaca elemen-elemen tersebut, tentunya ketajaman pandangannya tergantung kecakapannya dalam memandang. Kemudian konsekuensi sebagai golongan yang meyakini Aswaja An-nahdhiyah sebagai kebenaran jalan dan manhajulfikr-nya adalah menyadari bahwa masa depan organisasi tetaplah menjadi keadaan yang dinamis dan penuh dialektika.

Secara formalitas PMII sudah memenuhi kriteria sebagai organisasi kaderisasi, yang dibuktikan dengan kewajiban menjalankan kegiatan-kegiatan formal kaderisasi setiap periodenya. Namun banyak yang sudah sadar bahwa kegiatan formalitas hanya sebatas pengguguran kewajiban, maka dengan beredarnya buku yang ditulis oleh sahabat munandar dengan judul “Cuma catatan kaderisasi” Menjadi renungan banyak pengurus PMII di daerah-daerah, dan yang sudah memiliki kesadaran seperti sahabat Munandar sejak sebelum buku tersebut terbit, semakin memiliki legitimasi ilmiah dari karya tulis beliau.

Didalam buku tersebut, banyak sekali kenyataan-kenyataan di PMII yang selama ini tertutupi, sehingga sahabat Munandar menerbitkannya dalam bentuk tulisan bebas, yang bahkan kader yang jijik dengan buku dan berorientasi belajar itu hanya demonstrasi saja, dengan mudah akan mengatakan buku sahabat Munandar sangat tidak objektif. Sahabat Munandar dalam menerjemahkan kenyataan PMII sekarang mengambil resiko terkecil dari kemungkinan respon negatif yang muncul, semua fenomena yang ada di PMII salah satunya saya simpulkan di pengantar tulisan ini.

Catatan penting bagi saya dalam buku tersebut yang saya garis bawahi dan stabilo tebal adalah persoalan orientasi kader-kader di dalam kampus dan persoalan distribusi kader yang tidak merata. Distribusi kader yang tidak merata selanjutnya dapat menyebabkan pengaruh pada proses para kader yang masih aktif. Bayangkan sendiri, ketika sosialisasi MAPABA seorang pengurus komisariat menceritakan kepada para calon “korban”nya tentang kedekatannya dengan kepala dinas pemuda dan olahraga, dengan tokoh parpol, dan bahkan pamer nomor hand phone MENPORA (Menteri Pemuda dan Olahraga). Nyata adanya dan sangat menunjukkan kualitasnya selama prosesnya di PMII. Apa dia salah? Tidak. Tapi kasihan saja dengan anggota baru yang masuk melalui tawaran semacam itu.

Maka jika proses kita hanya sedangkal ini, selembek ini, se-picek ini, apa masih pantas kita menyandang dan membanggakan quote yang menyatakan bahwa PMII adalah kepala/pemikir dari tubuh utuh NU.

Kalau berbicara hanya dari apa yang didengar, itu hanya pantas dilakukan kaum sumbu pendek.

Jika hanya berbicara dari asumsi-asumsi belaka, ngapain susah-susah masuk kuliah dan berilmiah.

Jika hanya berbicara saya juga bisa.

*Ketua Lembaga Pengembangan Kaderisasi PKC (Pengurus Koordinator Cabang) PMII Jawa Timur.

Tulisan ini turut mengisi buletin ME yang terbit semaunya sendiri.