PMII Surabaya Aksi Menolak Keras FDS Berujung Ricuh | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PMII Surabaya Aksi Menolak Keras FDS Berujung Ricuh

23 September 2017
PMII NEWS Online - Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Surabaya gelar aksi Jilid 2 di depan Gedung DPRD kota Surabaya untuk Menolak Full Day School (FDS) atau Sekolah Lima hari yang diluncurkan oleh Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Budaya) sekitar dua bulan yang lalu.

Aksi kali ini sedikit lebih ekstrim dengan tajuk yang dibawa "Kami bukan tawanan Pendidikan". Tarik menarik antara massa aksi dengan  polisi pun tak bisa dihindari, hingga sedikit menuai ricuh sampai salah satu peserta aksi ada yang terluka dibagian lehernya (Ghazi: Mahasiswa Uinsa). Rabu (09/08/2017).

"Komitmen kami untuk mengawal Pendidikan akan terus kami suarakan walau aksi pertama di disdik kota Surabaya menghasilkan kekecewaan mendalam dimana kadisnya ternyata tidak tau menahu teknis maupun konsepnya, maka kami minta untuk mengganti kadisdik kota Surabaya sekarang juga" Ujar koordinator lapangan aksi sahabat Hefniyanto dengan nada menggelora di depan massa aksi lainnya.

Andil  berorasi juga ketua PMII kampus UNESA, sahabat Basuseh. Pihaknya mengatakan bahwa bahwa permendikbud itu akan mengancam keberadaan pondok pesantren dan madrasah diniyah yang sudah menjadi budaya lokal sebagai wadah tumbuh kembangnya bibit tokoh-tokoh besar Indonesia dan yang paling penting bahwa peran kyai dan ulama dalam perjalanan penjajahan hingga kemerdekaan sudah tak terbantahkan.

Rosi sebagai ketua umum cabang PMII Surabaya juga menyebutkan bahwa permendikbud itu masih terlihat terlalu berambisi dan seakan dipaksanakan untuk segera diberlakukan.

"Statemen konyol yang dilontarkan di media oleh bapak Muhajir, bahwa permendikbud ini akan tetap dilaksanakan sambil menunggu keputusan Presiden meskipun hanya beberapa sekolah yang siap. Maka inilah akan berdampak ketidakmerataan sistem diberbagai kota", tegasnya.

Rosi menambahkan, bahwa ketika disandingkan dengan kondisi era hari ini maka bukan pendidikan karakter yang terjadi tetapi kebobrokan mindset, moral dan etika siswa yang semakin tak terawasi oleh guru dan peran orangnya karena gadget sedah standby terus di tangannya. Apabila beban guru dan peran guru juga akan bertambah maka tidak mungkin kalau guru akan semakin stres dampak dari muridnya pun akan begitu juga.

"Maka dari itu kami meminta dengan tegas untuk mencabut permendikbud No 23 tahun 2017 itu dan kami juga meminta agar bapak Muhajir segera dipulangkan ke kampungnya karena dia lah penyebab kericuhan diseluruh negeri dan membuat masyarakat ketakutan olehnya", imbuh Sahabat Rosi yang sudah menjadi sarjana kesehatan di kampus UNMER Surabaya itu.

Ironisnya, pimpinan DPRD dan jajaran khususnya komisi D tak ada di tempat lagi ada dinas diluar kota, Kata sekretaris yang menemui massa aksi tanpa mau menyebutkan tentang tugas apa dan dimana. Kemudia dirinya mengatakan bahwa tidak ada hak untuk menyampaikan apapun mewakili ketua DPRD kota Surabaya. Massa aksi disuruh balik hari Jum'at mendatang karena ketua dan jajarannya sudah kembali ke Surabaya. Maka kekecewaan dan kemarahan pun muncul kembali dari massa aksi sehingga bakar ban dan bakar keranda yang ditempeli foto bapak Muhajir. Namun akhirnya polisi berhasil meredamnya. (AFI)