PMII: Bogor Kota Pusaka Yang Lupa Sama Sejarah | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

PMII: Bogor Kota Pusaka Yang Lupa Sama Sejarah

23 September 2017
PMII NEWS Online - Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Bogor, menggelar aksi guna mempertanyakan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor yang dinilai lupa dengan jargon Kota Pusaka.

Aksi tersebut dilakukan di depan pintu masuk Kantor Balaikota, Jalan Ir. H. Juanda, Bogor Tengah, Kota Bogor. Selasa (18/04/17).

PMII menilai, bahwa selain tidak menghargai sejarah, pemerintah juga dianggap tidak mencermikan sikap pribadi Siliwangi dan ajaran Sunda.

Bahkan, menurut PMII, banyak kejanggalan yang terjadi karena masih banyaknya kegiatan pelestarian kawasan cagar Budaya di Kota Bogor yang belum efektif, seperti tidak meratanya bangunan-bangunan bersejarah.

Selain itu, sebagian bangunan bersejarah tersebut juga terkesan terbengkalai, bahkan terancam beralih fungsi.

Koordinator Aksi, Syahrul Mubarok mengatakan, Kota Bogor merupakan kota yang dinobatkan sebagai Kota Pusaka. Namun, PMII merasa, Bima Arya lupa dengan kota sejarah. Menurutnya, benda pusaka peninggalan bersejarah Kota Bogor banyak yang diabaikan oleh Pemkot Bogor.

“Saya rasa kurang pas dengan sebutan Kota Pusaka tapi Wali Kotanya lupa akan sejarah. Pusaka-Pusaka di Kota Bogor ini diabaikan, seperti Prasasti Batu Tulis dan Batu Dalkon. Padahal kaya akan sejarah," ujarnya.

"Bahkan, Vihara Mahabrahma yang tertua di Kota Bogor dengan perkiraan sudah ada pada 1400 Masehi yang banyak petilasan Siliwangi dan Suryakencana memiliki banyak sejarah. Tapi kenapa Bima tidak mengangkat budaya-budaya lokalnya tapi malah lebih cenderung mengangkat budaya-budaya internasional,” tambahnya.

Menanggapi pembangunan bersejarah yang dibuat Pemkot Bogor, Ia menuturkan, Tepas Salapan Lawang Dasa Kerta (TSLD) hanyalah sebatas pencitraan belaka. Jika TSLD penguat sejarah, ia pun mempertanyakan di mana letak esensi sejarahnya.

“Bangunannya lebih condong ke budaya Italia. Kami menuntut Wali Kota untuk membangun kampung budaya atau bikin museum budaya, dan yang lebih penting, esensi ajaran Sunda itu harus diterapkan di Kota Bogor,” tuturnya.

Pewarta: Raden Fauzi