Petaniku Sang Pahlawan, Buruhku dan Petaniku Sang Pahlawan Bangsa Dan Negara | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Petaniku Sang Pahlawan, Buruhku dan Petaniku Sang Pahlawan Bangsa Dan Negara

PMII News
25 September 2017
PMII NEWS Online - Fenomena realitas sosial kaum Indonesia representatif 75% adalah kaum petani dan kaum buruh yang artinya ketahan ekonomi dari hasil petani dan buruh sebenarnya adalah ketahanan sumber daya kehidupan mereka sekaligus sumber daya masyarakat atau bahan pokok indonesia, dan pemerintah arus memberikan apresiasi serta respond kompetibel kalkulasi yang sesuai dengan harga serta keadaan sosial, dan pula pemerintah sebenarnya harus memihak terhadap kaum petani ycng tertindas, tanpa dipungkiri sosok kaum petani dan buruh ini adalah figur tongkat estafet pahlawan bangsa dan negara.
Foto: Sahal Mahfud
Mengapa petani dan buruh perlu dibela? Beberapa hari yang lalu, netizen ramai saling berlomba mengeluarkan tak ada maupun opininya dalam menanggapi aksi 9 ibu dari pegunungan kendeng yang menyemen kakinya. Aksi "sembilan kartini Kendeng" ini cukup menyita perhatian publik terkait cara mereka dalam memprotes pembangunan pabrik semen di wilayah mereka. Aksi solidaritas terkait aksi ibu-ibu ini pun datang dari berbagai penjuru tanah air. Perjuangan mereka memperjuangkan hak atas tanah dimana mereka mencari penghidupan memang sangat berat dan keras.

Konflik agraria yang menjadi antara warga melawan industrialisasi, militer maupun pemerintah memang cukup banyak ditemui. Sehingga lambat laun kesadaran akan pendampingan hukum dari berbagai elemen-baik dari organisasi sosial, LSM maupun lembaga bantuan hukum mulai menggeliat kembali. Saya sendiri tergolong masih buta informasi mengenai perjuangan dan pendampingan hukum pada para petani kecil terkait konflik agraria. Hanya beberapa yang saya tahu, seperti di Malang sendiri dan beberapa daerah lain di pelosok-pelosok nusantara. Akan tetapi perjuangan di pelosok nusantara termasuk Malang sendiri inilah yang luar biasa dan banyak saya ikuti dari informasi maupun tulisan, beberapa teman aktivis di dunia maya. Setelah mengikuti berita-berita yang berkaitan dengan perjuangan warga pergerakan Malang maupun pedesaan dan para aktivis yang mendampinginya, saya pun tersenyum kecut.

Sebenarnya dalam hati juga ingin misuh-misuh (mengumpat). Minimal saya berbica kotor lah. Bagaimana tidak, kota pendidikan yang saya huni ini adalah gudangnya para aktivis dan intelektual. Paradoks sekali kondisinya, kota Malang adalah salah satu kota pendidikan dengan berjubelnya beberapa kampus di kota ini, sehingga tidak sulit bagi kita menemukan manusia-manusia yang duduk di bangku kuliah dengan mudahnya mengaku aktivis. Saya pun pernah hidup di beberapa organisasi bersama mereka-mereka yang mengaku aktivis ini. Namun hingga detik ini tak satupun ada pembahasan dari kalangan intelektual ini yang mau, minimal dekat dengan para petani. Atau saya saja yang kuper hingga tidak tahu.

Sekilas yang saya tahu ada komunitas kritis di tengah kota Malang yang dinahkodai Budayawan Aji Prasetyo yang aktif mengadvokasi perihal beberapa isu pertanahan di Kota Malang. Selain itu sepertinya tidak ada. Padahal ada sekian puluh gesekan yang kemungkinan besar akan merembet ke wilayah konflik agraria. Beberapa saat yang lalu saya sempat mengadakan diskusi kecil dengan mereka yang mengaku aktivis ini. Hanya ada beberapa yang tertarik dengan masalah isu maupun bibit konflik agraria, itupun masih sekilas problem di daerah kami sendiri. Lebih dari itu tak dinyana jawaban yang cukup luar biasa keluar dari bibir sebagian besar mereka.

Mereka malas menanggapi ataupun ikut sedikit berkontribusi aktif sekalipun hanya sebatas ide pemikiran karena tidak memahami "seluk beluk" pertanian. Saya menekankan maksud seluk beluk adalah tata cara bertanam ataupun mengenai pupuk. Ingin sekali kupingnya saya teriaki, "Heh asu yang saya maksud ikut berkontribusi aktif sekalipun secara pemikiran adalah merumuskan beberapa solusi dan dekat dengan para petani sehingga kita tahu permasalahan mereka. Hanya itu. Bahwa benar diantara mereka hanya saya yang memiliki profesi sebagai petani.

Namun lebih dari itu petani juga buruh adalah golongan yang rentan tertindas oleh para pemodal, militer maupun pemilik kebijakan. Mereka hanya mampu bersuara dalam hati dan melawan dengan semampu yangg mereka bisa. Tapi hukum dan kebijakan terlalu tuli untuk mendengarnya, sehingga mereka membutuhkan bantuan dari manusia berpendidikan yang masih memiliki nurani. Hingga saat ini saya malu jika ada yang menyebut saya adalah aktivis, karena saya tak pernah bergerak aktif bersama orang-orang yang lemah dan tertindas di hadapan hukum.

Idealnya yang patut kita sebut aktivis adalah mereka yang mampu mencarikan solusi pada segenap permasalahan sosial mereka yang tertindas, juga ikut mendampinginya.Bukan terjebak pada istilah mentereng "aktivis" tapi terpenjara di menara gading yang bernama universitas. Menara gading inilah yang memisahkan seorang intelektual dari masyarakatnya. Saya melihat dari sekian organisasi para manusia yang mengaku "aktivis cuman intelektual palsu" ini lebih tertarik pada isu politik di kalangan pemerintahan. Kadang dengan bahasa yang "ndakik-ndakik" tapi nir-fungsi kerap menjadi tema bahasan sebuah diskusi. Seakan negara ini akan roboh tanpa adanya obrolan tema tentang hal tersebut.

Alangkah eloknya sebuah kajian kritis dimulai dari hal yang paling dekat, sehingga bisa lebih bergerak aktif dan memiliki nilai kemanfaatan. Lebih dari itu, kadang organisasi hanya berfungsi sebagai "event organiser". Lah, terus apa manfaatnya? Entah mengapa saya teringat status Luthfi Assyaukanie dan Goenawan Moehammad yang mengetweet sebuah judul esai karya Gayatri Spivak "Can Subaltern Speak"? Korupsi intelektual mana lagi yang engkau dustakan?

Oleh: Ahmad Sahal Mahfudh