Nasib Bangsa dalam Lingkaran Berita Hoax | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Nasib Bangsa dalam Lingkaran Berita Hoax

23 September 2017
PMII NEWS Online - Tesis Alvin Toffler tentang tiga gelombang (The Third Wave) peradaban betul-betul mengubah mental manusia menjadi shock. Toffler melihatnya dalam gelombang ketiga tersebut manusia mengalami semacam kekagetan luar biasa dengan arus informasi yang begitu deras. Di mana inklusivitas lebih terbuka lebar dalam segmen kehidupan saat ini. Terlebih yang  hangat belakangan ini mengenai berita palsu yang sedang subur diviralkan di beberapa media, yang kita sebut hoax.
Foto: Sahabat Adnan Faqih (Ketua Rayon "Pemberontak" Pandawa)
Hal itu banyak mengundang beberapa tanggapan, ada yang simpatik, geram,  lucu bercampur aduk dan lain sebagainya. Apalagi melihat kacaunya situasi sosial belakangan ini, selintas terlihat diplintir oleh berita-berita israiliyah (berita yang tidak diketahui sumbernya) dengan maksud ingin mengadu domba dan memecah belah bangsa.

Melihat fenomena ini, penulis teringat sebuah film berjudul "Inception" (2010) yang disutradarai oleh Christopher Nolan, dengan pemeran utamanya Leonardo DiCaprio. Film ini mengisahkan tentang Dom Cobb—diperani oleh Leonardo DiCaprio—yang berusaha mengambil informasi dari korbannya dengan cara masuk ke dalam mimpi mereka dan menginsepsi pikiran para korbannya. Mimpi tersebut menjadi ruang bagi keseluruhan tim untuk menanamkan pemikiran tertentu ke dalam otak para korban.

Insepsi, atau "gagasan yang ditanamkan ke pikiran" ini nantinya bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif, tergantung tujuan penanaman ispespi tersebut. Seseorang yang sudah tertanam insepsi, nantinya akan mencari pembenaran-pembenaran atas berita yang ia dapat.

Jika  film ini diseret kepada realitas sekarang, insepsi ini persis seperti berita-berita yang kita dapatkan—baik dari orang langsung atau dari media sosial—bedanya proses insepsi dalam film "inception" dilakukan via mimpi, sedangkan realitas yang kita alami proses insepsi dilakukan via oral (mulut ke mulut) dan via media sosial.

Berita hoax bisa menjadi insepsi yang berdampak negatif, karena memang tujuannya yang negatif. Dan di sisi lain insepsi bisa berdampak positif seperti gerakan "Turn Back Hoax" yang dilakukan oleh Netizen NU untuk meluruskan berita hoax. Bahkan Gus Mus mempertegas kepada pemerintah untuk segera menangani masalah peredaran berita hoax tersebut. Oleh karenanya, Gus Mus setuju jika pemerintah memblokir situs-situs yang menebarkan informasi yang tidak benar.

Membincang hal ini dalam sejarah manusia sebenarnya bukanlah barang baru, bangsa-bangsa lain juga pernah mengalaminya. Contoh di Perancis, kira-kira pada abad ke-17 berita hoax menjadi sesuatu yang ironi, sebab berita hoax pada umumnya menghancurkan yang di bawah (tatanan sosial). Tetapi di Perancis sebaliknya, berita hoax dimunculkan dalam rangka ingin menghapus feodalisme yang bergerak dari bawah ke atas (kaum elite) yang melahirkan sejarah revolusi ekonomi (Georges Lefebvre: The Great Fear of 1789; Rural Panic Revolutionary  France).  Lantas apakah kemudian berita hoax di Indonesia kali ini berdampak sama seperti di Prancis atau malah sebaliknya?

Oleh: Adnan Faqih
(Tulisan ini pernah dimuat dalam media online www.TIMESIndonesia.co.id)