MERAWAT KEMERDEKAAN | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

MERAWAT KEMERDEKAAN

23 September 2017
PMII NEWS Online - “Intinya kita harus merdeka secepatnya Bung, untuk apa kita menunggu janji jepang memberikan kemerdekaan buat bangsa kita. Kita harus merdeka dan berhak menentukan pandangan hidup untuk bangsa kita sendiri tanpa ada campur tangan bangsa lain. Kita harus bebas dari belenggu penjajahan yang telah menyakiti bangsa ini. Berapa banyak penderitaan yang dialami rakyat kita selama penjajahan berkuasa. Kita harus yakin dengan kekuatan Bangsa kita sendiri". Kata golongan muda saat menemui Bung Karno dan beberapa golongan tua pada  peristiwa rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945.
Oleh: Sahabat Parizal
Akhirnya melalui proses perdebatan atau pertimbangan yang panjang maka sepakatlah golongan tua dan golongan muda menyatakan sikap untuk memproklamasikan kemerdekaan Bangsa Indonesia keesokan harinya.

Dalam sebuah momentum besar telah tercipta di alam semesta ini. Tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10:00 WIB  di Jalan Pegangsaan timur nomor 56 Presiden Pertama kita Bapak Ir. Soekarno didampingi Mohammad Hatta. Menyampaikan pidato yang membakar semangat rakyat Indonesia. Dalam penggalan pidatonya beliau berucap:

“Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun! Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam zaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak ada henti-hentinya. Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya".

Sesudah pidato itu akhirnya Proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangnya. Dengan momentum besar ini maka sudah jelas Indonesia telah merdeka, ditambah lagi dengan pengakuan Negara Mesir dan Mufti Palestina akan kemerdekaan Indonesia kala itu maka secara “de jure" kita sah menjadi sebuah Negara. Menentukan jalan hidup dan kedaulatan sendiri tanpa ada campur tangan Bangsa lain.

Dari rentetan proses perjalanan yang panjang mulai dari merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan sampailah kita hari ini pada 72 tahun perjalanan Bangsa Indonesia, menjadi keberkahan yang tak bisa ternilai harganya jika diingat dan dihayati perjuangan para pahlawan. Sebab kemerdekaan Bangsa ini mutlak atas keinginan dan perjuangan rakyat Indonesia tanpa ada istilah pemberian bahkan persemakmuran dari Negara lain.

Maka kita sebagai anak bangsa patutlah berbangga dan bersyukur akan bangsa yang hebat ini. Habib Lutfhi mengatakan Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah SWT. Hormat pada merah putih bukan syirik tapi ungkapan rasa syukur pada Allah SWT untuk memiliki bangsa Indonesia.

Sebagai anak bangsa yang lahir dari rahim pejuang-pejuang yang tangguh. Kita harus bangga dengan bangsa yang hebat ini dan tugas kita adalah merawat kemerdekaan Indonesia adalah hal wajib yang mesti kita lakukan. Tugas merawat kemerdekaan kita hari ini tidaklah sesulit masa yang dulu, barangkali hal yang paling mendasar yang kita tanamkan adalah menumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi.

Rasa kecintaan akan negara terus kita tumbuhkan dan dibina secara lahir maupun batin. Seperti semangat kebangsaan atau jihad kebangsaan yang pernah dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada masa pra-kemerdekaan tahun 1937. Saat itu Sang Kiai menolak tanda bintang kehormatan dari Ratu Wilhelmina karena takut ada motif yang tidak baik dari pihak Belanda. Beliau menyampaikan kepada para santrinya untuk tidak tergiur dengan godaan penjajah dan tetap komitmen kepada Indonesia. Maka dari catatan sejarah tersebut kita jadikan sebagai keteguhan hati mencintai bangsa ini.

Hal yang harus kita rawat adalah keberagaman yang ada di bumi pertiwi ini. Kita adalah salah satu negara di dunia yang memiliki banyak suku, banyak bahasa serta etnis tapi disatukan dalam semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika. Inilah yang membuat Negara-negara dunia terkagum-kagum dengan Indonesia. Presiden Prancis Francais Hollande dan Presiden Afghanistan pernah berkata bahwa mereka bangga dengan Indonesia yang rukun dan damai serta mampu merawat toleransi dengan baik meski dengan keberagaman.

Maka berbanggalah kita lahir sebagai anak Indonesia karena yang merumuskan Negara ini adalah orang-orang yang peduli dengan Indonesia. Sejalan dengan apa yang pernah dituturkan oleh Mohammad Hatta ketika merumuskan Pancasila dalam memorinya.

“Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu tanda bahwa pemimpin-pemimpin tersebut diwaktu itu benar-benar mementingkan nasib dan persatuan bangsa", - ( Hatta, Mohammad, 1979).

Semangat kebersamaan terus digaungkan sebab kita mungkin tidak mau bangsa ini nasibnya sama seperti Negara-negara Timur Tengah sana. Yang mana setiap saatnya memakan korban jiwa, bencana kelaparan, tingginya angka kemiskinan itu semua efek perang saudara yang tak berkesudahan, coba bayangkan seandainya hal itu terjadi di negara kita mungkin pembaca tidak akan bisa membaca tulisan saya sekarang karena harus berlindung ditempat yang aman dari ancaman rudal mematikan atau bahkan penulis sendiri pun tidak akan bisa menulis ungkapan rasa syukur akan Bangsa Indonesia hari ini sebab sudah bergumal dengan darah disekujur tubuh. Itulah mengapa rasa kebersamaan, sebangsa dan setanah air itu terus digaungkan sejak zaman pergerakan nasional sampai saat ini, semua karena pendiri Bangsa ini cinta pada Indonesia agar semua menjadi satu kesatuan.

Sesuai dengan penggalan pidato Soekarno pada tanggal 1 juni 1945 yang berbunyi:

“Pendek kata, bangsa Indonesia –natie Indonesia- bukanlah sekedar contoh satu golongan yang hidup dengan (le Desir d’etre ensemble) diatas daerah yang kecil seperti minangkabau, atau Madura, atau jogja, atau sunda, atau bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh manusia-manusia yang menurut geopolitik, yang telah ditentukan Allah SWT, tinggal dikesatuannya pulau-pulau Indonesia dari ujung utara sumatera sampai keirian! Seluruhnya! Karena antara 70.000.000 ini sudah ada le desird’etre ensemble, sudah terjadi charaktergemeinschaft! Natie Indonesia, bangsa Indonesia, Umat Indonesia jumlah orangnya 70.000.000, tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!".

Dulu bangsa Indonesia adalah bangsa yang disegani oleh bangsa diseluruh dunia. Coba bayangkan saudaraku sebangsa dan setanah air, ketika beberapa tahun Negara kita merdeka kita langsung menjadi perhatian dunia Internasional. Tatkala dunia disibukkan dengan kekuatan blok barat dengan paham liberal dan blok timur dengan paham komunis.

Maka dengan lantangnya Indonesia mengatakan Gerakan Non Blok (GNB) bersama dengan rekan-rekan Negara lainnya agar tidak terpengaruh dengan dua kekuatan dunia saat itu. Lalu ketika kekuatan kolonialisme dan Imperialisme tidak berperikemanusiaan menjajah bangsa Asia dan Afrika maka lagi-lagi Indonesia mengatakan bahwa bangsa asia-afrika harus bersatu maka terbentuklah Konferensi Asia Afrika (KAA).

Ini juga bisa menjadi pelajaran buat kita semua agar Negara kita semakin disegani dengan dunia internasional. Terus menjaga kedaulatan Negara baik itu dari sikap politik maupun sikap dalam menciptakan perdamaian dunia. Yang telah termaktub dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat bahwasanya bangsa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Oleh sebab itulah kita harus memaknai dan mensyukuri kemerdekaan yang telah kita dapatkan hingga 72 tahun ini. Berusaha menunjukkan eksistensi atau prestasi buat kepentingan bangsa. Saling bergotong-royong demi melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya. Yaitu masyarakat sejahtera, adil dan makmur. Segala kekurangan kita perbaiki dan atasi secara bersama-sama dengan kepala yang dingin. Semangat persatuan dan kesatuan terus dikobarkan demi Negara Indonesia.

"Selamat HUT (Hari Ulang Tahun) Republik Indonesia Ke-72".