Menyikapi Geliat Radikalisme Di Indonesia | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Menyikapi Geliat Radikalisme Di Indonesia

23 September 2017
PMII NEWS Online - Cukup banyak negara besar di dunia ini, namun sangat sedikit yang sanggup bertahan mengelola perbedaan dan keragaman. Indonesia adalah satu dari sedikit negara besar di dunia yang sanggup bertahan, cukup baik mengelola perbedaan, dan relatif masih cukup bagus merawat kebinekaan.
Foto : Ilustrasi
Uni Republik Sosialis Sovyet, atau kita mengenalnya sebagai Uni Sovyet, hanya berumur kurang dari 70 tahun. Berdiri pada 1922, republik yang didirikan oleh Vladimir Lenin ini bangkrut pada 1991. Republik itu kini menjadi Rusia, namun banyak negara bagian di dalamnya bubar jalan dan berdiri sendiri. Dari Moldova, Latvia, Uzbekistan, Ukraina, hingga Lithuania.

Republik Rakyat Federal Yugolsavia, berdiri pada 1946 di bawah kepemimpinan Joseph Broz Tito, hanya sanggup bertahan kurang dari 50 tahun. Negara besar yang terdiri dari beragam suku dan etnis ini, pada 1990, sudah pecah berkeping-keping seiring kepergian Presiden Tito. Kini kita hanya mengenal Bosnia, Serbia, Montenegro, Kroasia, Ceko, hingga Makedonia. Kebesaran itu telah raib menjadi konflik yang berkepanjangan.

India juga adalah negara besar. Punya sejarah hebat, punya kebudayaan dan peradaban yang agung, India merdeka dari Inggris Raya pada 1947. Namun negara hebat dari Asia Selatan itu gagal mengelola keberagaman etnis, agama dan bahasa  di dalam tubuh mereka sendiri. Perang saudara meledak dan berkelanjutan pasca kemerdekaan. Perang saudara antara India-Pakistan karena irisan ras dan agama memakan korban. Lanjutannya tidak kalah mengerikan. Pakistan yang mayoritas muslim menghadapi disintegrasi karena perlawanan dari rakyat Bangladesh yang berakhir dengan kemerdekaan Bangladesh.

Indonesia tidak kalah beragam, bahkan sebenarnya lebih kaya dengan keragaman, dibandingkan Sovyet, Yugoslavia, India atau Pakistan. Kita bukan hanya beragam dalam suku, tapi juga dalam etnis, ras, agama dan bahkan bahasa. Indonesia bahkan punya tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dari negara-negara tadi karena bentuk kepulauan yang membuat pulau yang satu terpisah dengan pulau yang lain. Negara kepulauan besar yang jika direntangkan nyaris sepanjang London di sisi barat Eropa hingga Istanbul di sisi timur.

Namun Republik Indonesia masih tetap berdiri tegar. Konflik-konflik datang silih berganti, perselisihan kadang kala muncul secara berkala. Namun Indonesia sebagai republik toh masih belum bubar, tetap berdiri dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Usia republik ini, yang ikut didirikan dan dipertahankan oleh warga dan para pemimpin NU serta eksistensi perjuangan kaum mahasiswa khususnya PMII di masa lalu, bahkan lebih panjang dibandingkan usia Sovyet.

Ini jelas sesuatu yang membanggakan. Namun kebanggaan ini tidak boleh membuat kita lupa pada potensi perpecahan dan disintegrasi. Tidak ada satu pun negara di muka bumi ini, apalagi itu negara-negara pasca-kolonial, yang tidak berhadapan dengan potensi konflik dan perpecahan. Termasuk Indonesia.

Kini potensi perpecahan itu datang dari merebaknya ujaran-ujaran kebencian berbau SARA yang berpotensi meretakkan kehidupan bersama sebagai sebuah republik yang satu.

Media massa, media sosial, percakapan dan obrolan sehari-hari, mulai diwarnai ujaran-ujaran kebencian yang berbahaya. Sudah cukup banyak penelitian, laporan-laporan jurnalistik hingga penyelidikan aparat keamanan yang menyebutkan bahwa generasi muda menjadi sasaran propaganda ideologi garis keras ini. Media massa dan media sosial menjadi saluran untuk mempropagandakan kebencian kepada yang berbeda.

Kita tahu persis bagaimana ideologi garis keras ini sudah muncul bukan hanya dalam aksi-aksi teror yang tak ada habis-habisnya bermunculan. Namun, jangan pernah lupakan bagaimana propaganda yang dilakukan berlangsung begitu massif. Saya tidak ragu sama sekali kepada keberanian sahabat-sahabat PMII dalam berhadapan dengan mereka di berbagai kesempatan. Namun sudah saatnya pula PMII mulai lebih serius dengan “pertempuran ide dan gagasan” untuk menghadapi perang propaganda ini.

Bukan hanya kampus-kampus di perguruan tinggi, bahkan sekolah-sekolah menengah pun sudah mulai diincar. Menjadi sangat penting bagi PMII, juga pemuda Indonesia lainnya yang peduli dengan masa depan negeri ini, menyingsingkan lengan baju, mengepalkan tangan kemuka dan turun langsung menyebarkan semangat perdamaian, nilai-nilai ke-Indonesia-an, dan spirit Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah sebagai agama yang menjadi rahmat bagi alam semesta ke berbagai tempat, ke berbagai arena, ke berbagai level dan tingkatan.

Indonesia diberi keberagaman yang sangat amat berlimpah oleh Allah Swt. Keberagaman itu bisa menjadi anugerah tak ternilai namun juga bisa menjadi kutukan ketika kita khsusunya para pemuda tidak mampu mengelolanya dan gagal merawatnya. Jika bangsa ini tidak bisa mengelola dan merawat keberagaman, maka disintegrasi akan menjadi hukumannya.

PMII mau tidak mau akan, harus, dan bahkan telah, menjadi garda depan untuk mengelola dan merawat keberagaman dan kebhinekaan Indonesia. Karena PMII pula yang dulu dan kini istiqomah mempertahankan kemerdekaan republik ini. Memastikan keberagaman dan kebhinekaan itu terkelola dan terawat dengan baik, memastikan republik ini terus bernafas, adalah jihad kita semua. Jihadnya PMII Jihadnya semua anak bangsa yang ingin melihat Indonesia terus bersatu padu menuju masa depan yang bukan hanya damai namun juga sejahtera dan berkeadilan.

Oleh: Iden Robert Ulum