Menjaga Tradisi: Membaca, Menulis dan Berbicara | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Menjaga Tradisi: Membaca, Menulis dan Berbicara

PMII News
23 September 2017
Opini, PMII NEWS Online

    المحُاَفَظَةُ عَلَى القَدِيْمِ الصَالِحِ وَالأَخْذُ باِلجَدِيْدِ  الأَصْلَحِ
Foto: Dok/pribadi

Kaidah fiqh ini Menjadi Kajian menarik bagi kaum intelektual (mahasiswa) NU, bahwa dianjurkan bagi mereka untuk senantiasa menjaga tradisi baik dan melakukan pembaharuan yang lebih baik.


Pada kesempatan ini penulis tidak membahas kaidah ini secara luas melainkan lebih dikhususkan pada tradisi kaum intelektual (Mahasiswa) yang belakangan ini mulai ditinggalkan yaitu membaca, menulis dan berbicara.

Padahal tiga kegiatan ini adalah komponen atau tradisi kaum intelektual yang seharusnya memang tidak boleh ditinggalkan, karena ketiganya adalah serangkaian yang mencerminkan kaum intelektual (mahasiswa).

Kenapa harus membaca, menulis dan berbicara?, Berikut adalah beberapa argumentasi penulis tentang pentingnya kesadaran membaca, menulis dan berbicara bagi kaum intelektual (mahasiswa).

A. Membaca

Mengapa membaca itu penting, karena dengan membaca kita dapat mengetahui hal-hal penting yang terjadi di lingkungan kita, atau bahkan dengan membaca kita dapat  mengetahui hal-hal yang ada di belahan dunia yang berbeda, sehingga dapat menjadi bahan pembelajaran Penting untuk melakukan kehidupan, seperti yang kita ketahui bahwa Allah mewahyukan IQRO' pada Wahyu yang pertama maka barangkali itu menandakan urgensitas membaca.

Selain dari itu membaca berarti melatih kemampuan berpikir, meningkatkan pemahaman serta dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan baru.

Ada ungkapan yang tidak kalah menarik yaitu kemajuan ilmu pengetahuan berbanding lurus dengan perhatian dan pengamalan perintah membaca dan menulis. Itu artinya, semakin banyak kegemaran membaca, kian tinggi peradaban, begitu pula sebaliknya.

B. Menulis

Tentu kita tidak pernah membayangkan jika Al-Qur'an hadits dan Ilmu pengetahuan tidak tertulis, bagaimana susahnya kita belajar tanpa adanya tulisan, maka dari itu dapat kita simpulkan bagaimana pentingnya menulis bagi kaum intelektual (mahasiswa).

Rosulullah memperintahkan kepada kita agar mengikat ilmu dengan menulis, begitu juga imam Syafii mengatakan ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya, ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat, termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja.

Sedang imam Al-Ghazali berkata; Kalau engkau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.

Menulis berarti menyampaikan gagasan dan ide dalam pikiran yang berarti membuka wacana baru untuk disampaikan dan didiskusikan sehingga dapat dinikmati dikemudian hari.

Maka sudah sepatutnya para intelektual (mahasiswa) senantiasa menuliskan ide-ide dan gagasan baru dari ilmu-ilmu yang diperoleh serta hasil pembacaan situasi dan kondisi saat ini.

C. Berbicara

"Sampaikanlah ilmu dariku meski satu ayat", - HR. Bukhori

Berbicara menjadi hal penting untuk kaum intelektual (mahasiswa) sehingga ilmu dan apa-apa yang di pelajari tersampaikan dan dapat didiskusikan.

Dengan berdiskusi dan apa yang disebut batshul-masail akan dapat melahirkan gagasan-gagasan baru yang dapat memberikan kemaslahatan. Berdiskusi berarti menemukan antara gagasan-gagasan sehingga memunculkan sebuah kesimpulan yang disebut dengan kebenaran sementara.

Maka dari itu sudah sepatutnyalah kaum intelektual (mahasiswa) senantiasa menjaga tradisinya dalam membaca, menulis dan berbicara, sehingga mahasiswa mencerminkan kaum intelektual yang dapat memberikan pencerahan dalam kebuntuan-kebuntuan problematika yang ada.

Penulis: Agus Riyanto (Kader PMII Komisariat Wahab Hasbullah Jombang)