Menelaah Konstelasi Antar Organisasi Ekstra | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Menelaah Konstelasi Antar Organisasi Ekstra

23 September 2017
PMII NEWS Online - Konstelasi persaingan antara PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) di lingkungan IAI Al-Qolam tidak lagi memanas. Pergelutan saling memperjuangkan ideologi kedua organisasi ekstra kampus itu benar-benar tak berimbang. Kini, gerakan mahasiswa yang lahir pada tahun 1954 itu bak macan ompong yang mulai lesu, sedangkan pergerakan mahasiswa yang berdiri tahun 1960 itu sungguh-sungguh tampil bagai si raja hutan yang sanggup mencakar setiap lawan.

Nasib organisasi mahasiswa yang mengusung ajaran Soekarno itu menjadi terkatung-katung akibat beberapa aktivis utamanya yang mulai berhamburan. Antara lain, Bung Ahmad Rudi ibnu Sudi; si anak “nakal” yang mulai berjibaku dengan urusan-urusan pribadi dalam studinya sehingga kedua tangannya tak mampu lagi mengibarkan bendera organisasi yang digelutinya. Apalagi bung Roby Kemal; sang jejaka ganteng yang sedang asyik masuk dengan dunianya sendiri di seberang lautan sana, sehingga dinamika kehidupan kampus telah terhapus dalam memori otaknya.

Kini, keberadaan Omek yang diprakarsai oleh Mahbub Djunaidi itu benar-benar merajai kampus hijau. Fakta bahwa seluruh kader direkrut dan nyaris tanpa sisa bukan isapan jempol belaka. Oleh karenanya, tidak heran jika bendera kuning berkibar-kibar di halaman Al-Qolam, sementara bendera merah hanya bisa dikibarkan setengah tiang. Eksistensi PMII yang semakin tak tertandingi di tengah alam perguruan tinggi berbasis pesantren itu, membuat kue kekuasaan di dalam organisasi intra kampus hanya diperebutkan oleh anak-anak pergerakan di tingkat rayon. Tentu kondisi ini menjadikan situasi persaingan menguasai Presma (Presiden Mahasiswa) dan Wakil Presma serta kursi pimpinan DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa)tidak begitu membara dibandingkan saat GMNI menjadi rival PMII.

Walau hanya melingkar antar rayon, jika ditilik lebih cermat perseteruan yang mencuat tetap saja merupakan pengalaman berorganisasi yang bernilai pendidikan bagi para aktivis kampus. Sebab itulah, telaah terhadap dinamika organisasi mahasiswa internal kampus yang baru-baru ini terjadi masih perlu dilakukan.

Persaiangan Antar Rayon
Sebagaimana diketahui, rayon yang telah eksis di lingkungan Al-Qolam ini ada tiga, yakni: pertama Rayon Pejuang Ulil Albab, kedua Rayon Pembaharuan Al-Ghazali, dan ketiga Rayon Liberalis Averrous. Ketiga rayon inilah jenjang paling rendah dari PMII yang mewarnai perubahan kepemimpinan DPM dan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa).

Keberhasilan Wadudullah menduduki kursi Presma BEM IAI Al-Qolam menggambarkan bahwa Rayon Liberalis Averrous mulai menunjukkan taringnya. Walaupun santri PP Raudlatul Ulum 2 Putukrejo itu bersandingan dengan Fitriyah Mahdaly yang bukan berasal dari rayon, tetapi tetap saja rayon yang menjadi pilihan organisasi esktranya mencuat sebagai representasi kesuksesannya menjadi pelajar kampus yang akan sering disebut namanya. Kehadiran Averrous merupakan sebuah rayon yang terbilang baru di kampus ini bila dibandingkan Ulil Albab, apalagi diukur dari usia Pembaharuan Al-Ghazali. Jika dicermati dari sejarah Presma BEM, hanya melingkar pada Ulil Albab dan Al-Ghazali saja yang mengantarkan kadernya ke dalam lingkaran organisasi mahasiswa intra kampus seperti tercermin komposisi Presma lima tahun ke belakang:

Sejarah Profil Presma BEM IAI Al-Qolam
Nama : Humaidi Alwi
Asal Rayon : "Pembaharuan" Al-Ghazali
Periode : 2013-1014

Nama : M. Farih Fauzi
Asal Rayon : "Pembaharuan" Al-Ghazali
Periode : 2014-2015

Nama : M. Amin Taufiqillah
Rayon : "Pejuang" Ulil Albab
Periode : 2015-2016

Nama : M. Yusron
Asal Rayon : "Pejuang" Ulil Albab
Periode : 2016-2017

Nama : M. Wadudullah
Asal Rayon : "Liberalis" Averrous
Periode : 2017-2018

Merunut dari jejak Presma sejak tahun 2013 sampai tahun 2016, perputaran Presma hanya berkutat pada dua rayon. Dalam konteks perebutan organisasi intra, rentangan periode 2015-2016 merupakan masa-masa yang benar-benar pengap, karena pergolakan rivalitas justeru terjadi antara PMII dan GMNI yang mengusung masing-masing jago. Memang sejak awal dua organisasi ekstra tersebut sudah saling berseteru dalam berbagai even. Tetapi dengan segala upaya, ternyata kader dari Rayon Pejuang Ulil Albab mampu keluar sebagai pemenang dan bertengger di atas kursi Presma BEM IAI Al-Qolam

Panggung Sepi Tetapi Berkah  
Tahun ini Rayon "Liberalis" Averrous berhasil memajang foto kandidatnya di dinding kantor BEM. Tak dapat dipungkiri, kemenangan Wadud sebagai Presma dinilai dingin oleh banyak kawannya sesama mahasiswa, pasalnya pertarungan yang dihadapi hanya melawan kotak kosong. Keadaan aman terkendali ini, membuat animo mayoritas mahasiswa untuk mengatur strategi, menghitung langkah dan menata taktik menjadi mengecil. Akhirnya, terpilihnya anak asal Madura itu dianggap sebuah “Kemenangan tanpa tepuk tangan”.

Namun bagaimanapun, terangkatnya anak Prodi HES (Hukum Ekonomi Syari'ah) itu di atas pentas organisasi intra, sebuah awal Averrous telah siap memasang kuda-kuda di hadapan rayon Ulil Albab dan Al-Ghazali pada masa-masa yang akan datang. Persaingan antar rayon ini akan terus berlanjut selama GMNI masih nyenyak dalam tidur panjangnya.

Secara pribadi, status Wadud sebagai Presma merupakan keuntungan tanpa berdagang. Sebab jabatan barunya ini, akan menjadikan sosoknya tidak hanya dikenal di kalangan kampus, tetapi juga bakal masyhur di tengah-tengah aktivis kampus lain. Keterkenalan ini menjadi modal baginya meneruskan jenjang kariernya pada jenjang-jenjang berikutnya dalam PMII.

Sebagaimana dimaklumi, BPH (Badan Pengurus Harian) Rayon merupakan batu loncatan melenggang  dengan mudah ke Komisariat. Jika semangat berorganisasi terus di pupuk, tangga menuju PC (Pengurus Cabang) tinggal selangkah lagi, baru kemudian pintu PKC (Pengurus Koordinator Cabang) akan menganga. Dari titik ini, jalan menggapai jendela PB (Pengurus Besar) PMII sangat mulus untuk ditelusuri. Uraian ini bisa diabstraksikan dalam skema berikut ini:

Melihat dari skema di atas, dapat disimpulkan bahwa aktivis PMII yang menghendaki kematangan dalam berorganisasi bisa melanglang ke jenjang lebih tinggi di mulai dari rayon. Dari sini, Wadudullah telah memiliki peluang besar merebut Komisariat dengan berbekal jaringan di BEM dan selanjutnya terserah dia. Wallahu a’lam.

Oleh: Muhammad Madarik(*)
*Penulis Merupakan Wakil Rektor III di Kampus IAI Al-Qolam Malang