Memungut Berkah Dari Sapu | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Memungut Berkah Dari Sapu

23 September 2017
PMII NEWS Online - Jika Anda mendatangi pondok pesantren Raudhatul Ulum 2 Putukrejo Gondanglegi Malang pada pagi hari seusai shalat subuh, maka Anda akan mendengar lamat-lamat suara sapu dan samar-samar terlihat beberapa sosok yang sedang menyapu halaman rumah KH Qosim Bukhori dan sekitarnya.

Kejadian ini cukup berbeda dari kebiasaan. Karena bayang-bayang anak manusia itu merupakan santri senior dan termasuk jajaran pengurus pesantren.

Tidak seperti lumrahnya, santri senior rela merunduk dan menggenggam gagang sapu demi kebersihan lokasi yang selayaknya dikerjakan oleh santri yunior atas perintah dan pengawasan kakak-kakaknya, sebagai santri yang berstatus senior.

Meskipun mereka masuk dalam struktur kepengurusan tetapi tampak sekali strata sosial bagi mereka benar-benar tidak menjadi alat mengunggulkan diri, sehingga sekalipun pekerjaan yang seringkali dianggap remeh itu di luar tupoksi dalam organisasi masih dilakukan. Padahal dalam banyak organisasi di luar pesantren, aktifitas selain tugasnya acapkali dijauhi.

Itulah dunia pesantren. Terkadang tatalaksana administratif dalam berorganisasi bisa roboh oleh nilai-nilai agung yang hingga kini masih ditakdiskan oleh kalangan santri. Salah satu nilai-nilai yang tetap dipertahankan tersebut adalah berkah.

Berkaitan dengan fenomena ini, sebuah cerita tentang syaikhana Kholil Bangkalan tentu melengkapi kuatnya tradisi di dalam lingkungan pesantren.

Saat melakukan pengembaraan ilmiah di Pondok Pesantren Cangaan, Bangil, Jawa Timur, Kholil muda diantar seorang familinya untuk dipasrahkan kepada kiai.

Sayangnya kiai pengasuh pesantren Cangaan ketika itu sedang bepergian. Sebelum keluar rumah, kiai berpesan kepada anggota keluarganya bahwa siapapun yang bertamu tidak boleh dipersilahkan masuk ke rumah beliau.

Akhirnya Kholil muda hanya berada di sekitar lingkungan pesantren. Beberapa waktu kemudian, seorang putri kiai memanggil-manggil santri. Ternyata Kholil muda inilah yang bergegas menghampiri panggilan tersebut. Sesampai di sumber suara, Kholil muda disuruh menyapu halaman belakang rumah kiai.

Tanpa ba-bi-bu, Kholil muda langsung saja melaksanakan perintah anggota keluarga ndalem. Setiap hari, santri baru ini membersihkan pekarangan belakang rumah yang nyaris dipenuhi pepohonan. Konon, tidak terdapat selembar dedaunan jatuh lokasi yang diperintahkan untuk dibersihkan tersebut kecuali senantiasa ia pungut. Alhasil, tempat itu menjadi terjaga kebersihannya.

Baru kemudian beberapa bulan setelah kiai Cangaan itu datang, Kholil muda diberikan kamar layaknya santri yang lain. Ruang milik syaikhana Kholil itu hingga kini masih dirawat dengan rapi. Kendati dilakukan renovasi untuk menjaga keutuhan, namun keaslian bangunan tetap dilestarikan.

Menilik sepintas sejarah syaikhana Kholil di dalam mencari ilmu, didapat pemahaman bahwa cara beliau menimba tidak luput dari tatakrama yang sudah diajarkan para ulama pesantren.

Sebagaimana dimaklumi, tatacara mencari ilmu telah dituntunkan oleh para ulama dalam berbagai referensi kitab kuning. Ada banyak rujukan yang bisa dijadikan acuan landasan mencari dan mendalami ilmu pengetahuan yang bertatakrama. Salah satu kitab yang dibuat pegangan para kiai pesantren, termasuk KH Qosim Bukhori di PP Raudlatul Ulum 2, ialah kitab "Ta'limul Muta'allim karya imam Az-Zarnuji".

Dalam hal tata cara belajar, imam Az-Zarnuji lebih mengaktualisasikan pada kepribadian yang memantulkan moral mulia para pelajar. Hal terpenting dari kepribadian yang dimaksud, menurut ulama asal Zurnuj di wilayah Turki itu, adalah sifat "tawadlu’"(التوضع); sikap rendah hati, sebagaimana dijelaskan:

ويكون متواضعا. والتواضع بين التكبر والذلة.

Artinya: 
"Seorang pelajar seharusnya berperilaku rendah hati. Rendah hati merupakan sikap tengah-tengah antara sombong dan  rendah hati."

Sifat "tawadlu’" (التوضع) merupakan puncak kesadaran atas kelemahan diri yang memungkinkan ketabahan dengan mudah dapat terlahir. Rendah hati membuka peluang menerima segala resiko yang dihadapi sekalipun dirasa berat, termasuk di antaranya pelbagai perintah guru pada muridnya dalam konteks menuntut ilmu.

Tetapi ketika keengganan masih menyergap jiwa seorang pelajar, maka keberadaannya terbukti dihinggapi kesombongan kendati sekecil titik. Kemungkinan menerima segala hal yang dirasa menabrak kepongahan dirinya menjadi tertutup. Oleh karenanya, Kesalahan iblis yang mendasar disebabkan sikap congkak, seperti dikisahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an:

وإذ قلنا للملآئكة اسجدوا لآدم فسجدوا إلا إبليس أبى واستكبر وكان من الكافرين.

Artinya:
"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." [QS. 02:34]

Kaitan dengan ayat ini, ibn Katsir menguraikan bahwa:

وكان بدء الذنوب الكبر استكبر عدو الله أن يسجد لآدم عليه السلام.

Artinya:
"Permulaan dosa-dosa ialah kesombongan; musuh Allah SWT (iblis) merasakan angkuh untuk bersujud kepada nabi Adam AS."

Sehubungan dengan fenomena beberapa santri PP Raudlatul Ulum 2 dan kisah syaikhana Kholil Bangkalan Madura saat mondok di pesantren Cangaan merupakan cerminan sikap "tawadlu’" (التوضع) yang dilakoni. Perilaku ini jelas berlawanan dengan tingkah iblis yang digambarkan firman-Nya.
Pada sisi lain, imam penganut madzhab Hanafi itu menguraikan:

اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره.

Artinya:
"Ketahui bahwa seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, kecuali jika ia mau mengagungkan ilmu, orang berilmu dan menghormati keagungan gurunya."

Sikap rendah hati dan penghormatan terhadap pengajar, bagi penuntut ilmu merupakan dua hal berbeda. Tetapi di dalam kegunaan ilmu yang dipelajari memiliki kaitan sangat erat. Penghormatan pelajar terhadap gurunya akan direalisasikan apabila ia mempunyai kerendahan hati untuk bersikap tunduk kepadanya. Namun menampik segala kepatuhan bisa saja timbul, jika jiwa seorang pelajar masih diwarnai rasa tinggi hati.

Bila dikembalikan kepada kisah syaikhana Kholil atau beberapa santri PP Raudlatul Ulum 2 tersebut bisa diambil intisari cerita itu bahwa tidak akan pernah mungkin mereka melakukan [lebih-lebih cuma aktifitas yang dipandang nyaris-nyaris tak bernilai bagi sebagian besar orang], jika dalam diri mereka masih tertanam kecongkakan. Sebab pada dimensi sosial, pekerjaan itu menagih harga diri untuk digadaikan.

Tentu kesimpulan yang dapat dipetik adalah tekad menuai berkah sang guru merupakan motivator untuk menghempaskan rasa pongah dari dalam jiwa lalu kemusian mengisinya dengan rasa rendah hati.

Poin ini menjadi pelajaran berharga yang terkadang sulit ditemukan dalam lembaga pendidikan selain pesantren.

Wallahu a'lam.

Oleh: Muhammad Madarik