Masjid Yang Tak Lagi Toleran | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Masjid Yang Tak Lagi Toleran

23 September 2017
PMII NEWS Online - Masjid adalah tempat beribadah bagi kaum muslim, dikenal sebagai tempat yang suci untuk memanjatkan sujud kepada Sang pencipta. Sebagai simbol peribadatan, menjadikannya sebagai tempat yang begitu dihargai dan terus dilestarikan untuk menjaga kesucian dan kebersihannya.Selain peribadatan, kerap kali digunakan sebagai tempat menimbah ilmu pengetahuan lewat kajian dan ceramah keagamaan. Coraknya pun tidak mengharuskan ilmu agama to saja, melainkan seluruh aspek keilmuan yang ada.

Mulai dari sosiologi kemasyarakatan, kebangsaan, kesehatan, hukum dan juga ilmu-ilmu lainnya dalam pengetahuan. Sejarah juga mencatat bahwa diskusi lewat masjid menjadi bagian yang memiliki konstribusi dalam sebuah perubahan suatu negara. Termasuk dalam merumuskan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Tidak hanya itu, di masjidlah yang menjadikan semua orang setara dengan yang lain. Di masjid mengharuskan sebuah penghargaan antar sesama ummat yang akan melakukan peribadatan.

Baik golongan A-B, kaya-miskin, pejabat dan rakyat biasa sama-sama bisa menempati shof yang paling depan. Tidak ada pengecualian atas tempat untuk berdiri melaksakan ibadah. Hanya di masjid pulalah semua kalangan wajib membuka alas kaki sebelum masuk.

Hal ini tentu mencerminkan sikap toleransi dan sebuah kesetaraan antar ummat. Tidak ada diskriminasi antara satu dengan yang lain, masing-masing menempati kedudukan yang sama.

Praktek tersebut adalah sebuah norma dan nilai etika yang harus dipedomani setiap orang, apa yang menjadi perilaku dalam masjid tentunya harus diamalkan juga di luar masjid. Guna membangun sebuah keteraturan dan sikap saling menghargai antar manusia. Bukan hanya dengan satu keyakinan, tapi seluruh elemen masyarakat.

Tapi yang menjadi prihatin sekarang, ketika tempat toleran tersebut berubah sikap menjadi sebuah tempat yang inklusif, dimana mempertontonkan sebuah sikap sensitivitas antar satu dengan yang lain.

Bukannya mengedepankan persamaan, justru memperuncing perbedaan, sehingga terjadi jarak antara satu dengan yang lain. Cara pengamalan peribadatan, mazhab dan pimpinan organisasi keagamaan yang berbeda menjadi salah satu sebab yang melunturkan nilai toleransi dalam masjid.

Fanatisme yang berlebihan oleh kelompok tertentu meruntuhkan sikap toleransi dalam sebuah masjid.  Membid'ahkan, menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan praktek ibadah kelompok lain adalah bagian yang sering kali mewarnai perilaku intoleran dalam sebuah masjid.

Masih segar dalam ingatan kasus yang terjadi di jakarta pada saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) berlangsung, seorang yang meninggal ditolak untuk dishalatkan di masjid tertentu akibat perbedaan pilihan dalam pilkada. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, karena masjid yang dikenal sebagian tempat yang paling toleran ternyata sudah memiliki persyaratan untuk masuk ke dalam.

Bukannya syarat tersebut meningkatkan toleransi, justru menciderai nilai-nilai toleransi seperti yang dikatakan penulis. Syarat yang ditentukan oleh kelompok tertentu dan merasa merekalah satu-satunya yang berhak atas masjid tertentu menjadikan masjid tidak lagi bisa menjadi tempat pelabuhan semua kalangan.

Penyebab yang lain, praktek peribadatan yang berbeda melahirkan sebuah fanatisme yang berujung pada klaim kebenaran atas praktek tertentu dan yang lain salah. Sehingga terkadang melahirkan dua kelompok shaf yang berbeda dalam shalat berjama'ah dalam masjid dan waktu yang bersamaan. Kefanatikan tersebut juga telah memecah toleransi dalam masjid.

Sikap fanatik dan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu sudah jelas merusak sikap toleransi dalam masjid, kedua sikap tersebut harus diminimalisir dengan sikap berbesar hati dan saling menghargai dengan sesama ummat. Kesadaran setiap orang sangat dibutuhkan untuk menjaga sikap toleransi dalam masjid

Dalam konteks Indonesia, heterogen masyarakat harus diperhatikan, bukan untuk membatasi praktek peribadatan, tapi toleran dan menjaga ukhuwah kebangsaan merupakan tujuan utama. Dan masjidlah yang harus digunakan untuk menjaga dan melestarikan hal tersebut.

"Arogansi harus ditanggalkan guna menjaga wajah masjid untuk tetap toleransi tanpa melihat melihat perbedaan, tapi mengedepankan sikap saling menghargai antar sesama".

Oleh: Muhammad Aras Prabowo*
*Alumni PMII RE UMI Makassar
Mahasiswa Pascasarjana Univ. Mercu Buana