Masihkah Idealisme Tertancap Suci Dalam Diri Manusia? | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Masihkah Idealisme Tertancap Suci Dalam Diri Manusia?

23 September 2017
Socrates berkata: "Plato harus Melanjutkan Tradisi" mereka bisa membunuh socrates, tetapi mereka tidak bisa mematikan semua pemikir kritis.

Lebih baik menderita secara keliru dibandingkan bertindak secara keliru. Ia yang bertindak keliru, berarti merusak dirinya. Menunjukkan bahwa jiwanya tidak jernih (socrates).

Ungkapan diatas disampaikan oleh socrates pada saat menjalani hukuman yang dituduhkan oleh miletus tentang dirinya yang dianggap membuat orang lain yang hidup pada masa athena kuno (yunani kuno) dan melahirkan sebuah Tuhan baru dan meracuni pikiran anak muda pada pada tahun 399 SM (persidangan socrates).

Para cendikiawan dunia tau bahwa socrates adalah pemikir hebat dan mengukir sejarah dalam peradaban dunia. Pemikirannya banyak diadopsi oleh murid-muridnya seperti plato, ariestoteles dan lain lain dalam mencari sebuah kebenaran, kebijaksanaan dan kecintaan yang sesungguhnya terhadap apa yang ada pada diri kita, gagasan kita, dan tindakan kita dalam memahami alam semesta.

Kata-kata atau kalimat yang disampaikan oleh socrates di atas oleh penulis ingin ditarik terhadap sebuah perjuangan yang dilakukan oleh berbagai kalangan yang menjungjung tinggi yang namanya kebenaran, kebijaksanaan, keadilan dan hal-hal positif yang bisa mengarahkan terhadap kesejahteraan dan ketentraman.
Idealis, itulah sebuah kata-kata yang sering diteriakkan oleh berbagai kalangan yang mengatasnamakan rakyat dalam melakukan sebuah gerakan. Mahasiswa adalah kaum terdidik, terlatih, kritis, pembaca, wawasan luas dan banyak lagi sebuah anugerah yang diberikan kepada mahasiswa dalam menyandang sebuah hadiah dari masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bicara mahasiswa yang sering dikatakan sebagai penyampai atau penyalur  perubahan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri dan apresiasi luar biasa dari manusia yang ada disekitarnya. terlebih mahasiswa semangat dan jiwa juangnya sangat menggebu-gebu dan sulit dibendung oleh siapapun untuk selalu bergerak membela rakyat yang dianggap tertindas dan dirampas haknya oleh oknum-oknum penjilat dan pengeruk.

Sejarah indonesia telah membuktikan bahwa gerakan pemuda yang dibangun mampu membawa bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan berdiri tegak mengibarkan bendera merah putih sebagai bendera pusaka. Pantas saja dalam sebuah kalimat yang begitu indah dikagakan, pemuda masa kini adalah pemimpin masa depan. Max Weber pun pernah berkata, apakah kita sebagai generasi muda hanya bangga menjadi epigon leluhur? Entahlah, yang jelas pemuda harus mampu menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang bisa bergerak membawa perubahan. Walaupun perang dunia II tidak bisa dibendung dan membawa Jerman terjerumus dalam peperangan tersebut. dan Sayyidina Ali R.A pernah mengatakan tentang pemuda yang sejati. Ia menggambarkan  inilah pemuda, bukan yang mengandalkan bapak atau nenek moyang,  namun pemuda adalah apa yang bisa ditunjukkan oleh dirinya sendiri tanpa mengandalkan orang lain.
Banyak dalam sejarah bangsa ini yang bisa dijadikan sebuah contoh bagi kita akan perjuangan yang dilakukan oleh pemuda atau kaum terpelajar. mulai dari tahun 1908-1945, reformasi dan saat ini. Siapa yang tidak mengenal Soe Ho Gie, salah satu pemuda yang hidup pada masa orde lama. Ia ikut andil dalam melakukan sebuah gerakan-gerakan membela hak rakyat yang dianggap tertindas oleh para penguasa. Namun akhirnya ia termarjinalkan dan terasingkan, ungkapan yang sangat terkenal dari Soe Ho Gie adalah "Lebih baik saya diasingkan atau terasingkan dari pada bergelut dalam kemunafikan".

Tan Malaka, salah seorang pemuda yang jenius dan cerdas serta perannya juga luar biasa dalam melakukan prmbelaan terhadap tanah air dan bangsa indonesia dari kaum imperialis dan kolonialis, namun akhirnya ia harus menebus perjuangannya membela hak pribumi dan bangsa ini dengan menjadi buronan dan keluar masuk penjara hingga akhirnya meninggal dunia. Masih banyak pemuda pemuda yang sangat spektakuler dan multi-talenta dalam melakukan sebuah gerakan yang masif demi kesejahteraan rakyat dan semacamnya.

Pikiran dan tindakan di atas oleh pemuda dan kalangan mahasiswa dianggap sebagai jiwa idealis yang harus dijunjung tinggi dan dipertahankan sampai mati. Jikalau tolak ukur idelisme adalah seperti yang diungkapkan oleh Socrates, Soe Hoe Gie, Tan Malaka dan para pemikir dan pejuang bangsa yang telah direnggut jiwa dan raganya demi kesejahteraan rakyat, maka dapat dikatakan orang-orang yang menjunjung tinggi yang namanya idealis nasibnya tidak akan berbeda jauj dari tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, atau hampir sama dari apa yang dialami oleh segelintir orang yang dijadikan contoh dalam tulisan ini.

Namun terkadang menjadi pertanyaan besar bagi orang-orang apabila menyaksikan kondisi dan situasi yang ada pada saat ini. bangsa yang sekian hari semakin bergejolak dengan problematika yang berkaitan dengan hak rakyat dan kesejahteraan rakyat, di mana dulu pemuda yang bersuara dan mahasiswa yang menyebut rakyat sebagai alasan utama dalam melakukan sebuah gerakan ketika sudah masuk dalam lingkaran birokrasi atau mendapatkan posisi strategi dalam kehidupan sosial kemasyarakata.

Diam, membungkam, tidak melihat apa, pura-pura tidak melihat dan lain sebagainya apabila di sekitarnya rakyat menangis dan kelaparan akibat hak-haknya tidak diraih? Apakah rakyat hanya menjadi alat ketika mereka berproses menuju kesuksesan atau mereka lupa akan sejarah kelamnya? Apakah jiwa idealis yang di agung-agungkan masih tertancap suci dan tertata rapi dalam hati nuraninya? Atau sudah terbawa arus kerasnya badai ombak yang menghantam kehidupan atau sudah ditutup dengan kenyamanan dan kenikmatan harta yang melimpah yang mereka rasakan?

Lagi-lagi hanya sebuah pertanyaan dan tidak menemukan sebuah kepastian dalam menemukan sebuah jawaban yang tepat.

Saat ini mahasiswa dan pemuda masih masif dalam melakukan sebuah gerakan gerakan atas nama rakyat. Perguruan tinggi hampir merata berdiri dari sabang sampai merauke, ribuan mahasiswa dan sarjana bertebaran dan para pakar ilmu pengetahuan banyak, namun masihkah jiwa idelis yang diyakini oleh para pemikir di atas masih menetes terhadap generasi pemuda saat ini?  memang hati nurani manusia tidak bisa ditebak, namun tri-daharma perguruan tinggi sudah jelas, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian. Tapi kenapa mereka setelah menempuh pendidikan dan mendapat gelar sarjana malah kebingungan dalam mengaplikasikan sebuah ilmunya dan diterapkan dalam sosial masyarakat.

Rakyat dan rakyat, yang selalu disebut dan dibela oleh para kaum terdidik baik yang jadi pejabat atau kalangan  yang dikenal aktifis mahasiswa dan kepemudaan. Rakyat mana yang dibela?

Bukan rahasia lagi bahwa kekayaan alam bangsa Indonesia yang seharusnya dirasakan dan dinikmati oleh rakyat kita sendiri, yaitu rakyat Indonesia saat ini kebanyakan dinikmati oleh para petinggi negara dan kau imperialis. Rakyat menangis, terlantar dan kelaparan dianggap biasa, kesenjangan sosial terjadi dimana-mana, korupsi semakin menebar virus, tapi yang mengherankan bagi masyarakat pedesaan dan bawah adalah mereka yang dulunya menjadi pembela rakyat, tapi saat ini menjadi penikmat hak rakyat. Buktinya paling banyak yang korupsi adalah kaum terdidik dan terpelajar, dan dia juga membawa rakyat dalam mengemban amanah jabatannya.

Apakah jiwa idealisnya sudah luntur? atau ada sebuah revitalisasi tentang pengertian idealis itu sendiri saat ini?

Mahasiswa, pemuda dan para calon pemimpin yang mengatasnamakan rakyat dalam melakukan gerakan dan perjuangan saat ini hanya satu pertanyaan, yaitu masihkah jiwa idealis tertancap dengan suci dan bersih dalam hati manusia dalam melakukan sebuah gerakan atas nama rakyat?

ataukah menjadikan rakyat sebagai alat untuk menjilat bangsa sendiri dan menikmati kehidupan yang serba mewah dan bergelimang dalam kekayaan?

Jawabannya adalah hati nurani manusia itu sendiri, mau betul-betul berjuang demi rakyat, bangsa dan negara atau dirinya sendiri.

Yang jelas, kalau idealis disinkronkan dengan apa yang diungkapkan Socrates dan para pemuda yang terasingkan seperti Soe Hoe Gie, Tan Malaka dan lainnya, maka bersiaplah akan terasingkan dan ditelan bumi. Namun sebaliknya, apabila mau menjadi penjilat dan pemerkosa hak rakyat dan menjual nama rakyat maka kenyamanan dan kekayaan akan tunduk pada dirinya sendiri, tetapi sejarah tetap mencatat perilaku yang tidak baik bagi langkah perjalanan kita.

Silahkan direnungkan dan selamat berfikir.

Cagito, Ergo Zum (Saya berfikir maka saya ada).

Oleh : Syahril Abdillah
(Ketua 2 PC PMII Bangkalan)