Mahbub Djunaidi Di Mata Tokoh Agama, Politik, Hukum, Budayawan, Seniman Dan Lainnya | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Mahbub Djunaidi Di Mata Tokoh Agama, Politik, Hukum, Budayawan, Seniman Dan Lainnya

23 September 2017
PMII NEWS Online – Bagi kaum aktivis khususnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang tidak mengenal Mahbub Djunaidi. Dalam karir di PMII, Mahbub Djunaidi terpilih sebagai ketua umum selama tiga periode. Sedangkan di dunia politik nya ia sangat dekat dengan Soekarno.
Foto: Mahbub Djunaidi

Seperti Apa Mahbub Djunaidi ???
Dibawah inilah salah satu tokoh baik dari berbagai kalangan Agama, politik, penulis, wartawan, seniman, budayawan, sejarawan dan lainnya.

Mahbub orang periang. Banyak cerita dan gaya ceritanya yang kocak. – Abdurrahman Wahid atau yang dikenal Gus Dur (Presiden Indonesia Keempat).
Foto: Abdurrahman Wahidu (Gusdur)
Bung Mahbub telah membuka jalan bagi hubungan baik antara Soekarnois yang ada dari kaum nasionalis dan Soekarnois dari kaum Islam. – Rahmawati Soekarno Putri (Putri dari Ir. Soekarno).
Foto: Rahmawati Soekarno Putri
Dia (Mahbub Djunaidi) adalah salah satu guruku menulis. – Sujiwo Tejo (Seniman).
Foto:Sujiwo Tejo
Bagaimanapun juga, harus diakui bahwa Mahbub adalah seorang revolusioner yang nasionalis sejati.  

Chalid Mawardi (Salah satu Pendiri PMII).
Foto: Chalid Mawardi
Mahbub Djunaidi dibutuhkan dulu, apalagi kini dan nanti. – Arswendo Atmowiloto (Penulis dan wartawan Indonesia).
Foto: Arswendo Atmowiloto
Kolumnis yang sampai saat belum ada yang menandingi, gayanya segar, lucu tapi bernas. - Putu Setia (Penulis dan wartawan Indonesia).
Foto: Putu Setia
Tulisannya populer, dugemari orang, dan sampai batas tertentu ia merintis gaya penulisan semacam itu, yakni lincah, ringan, humor, ‘sarit’ gaya Mahbub. - Jakob Oetama (Wartawan dan salah satu pendiri surat kabar kompas).
Foto: Jakob Oetama
Beliau (Mahbub Djunaidi) wartawan dan tokoh politik yang bagus. – Karni Ilyas (Tokoh Jurnalis dan Pejuang Hukum Indonesia).
Foto: Karni Ilayas
Mahbub adalah wartawan yang menulis secara memikat dan disenangi oleh para pembaca. Ia lancar bertutur, pintar bercakap-cakap. Menyentuh aneka ragam topik, seperti kata oran prancis: Le Causeur. – Rosihan Anwar (Seorang sejarawan, sastrawan dan budayawan. Ia begitu juga aktif dalam menulis).
Foto: Rosihan Anwar
Dia (Mahbub) ingin Indonesia bangkit sebagai negara maritim yang berkemampuan keras mengembangkan ilmu-ilmu kelautan, mendorong san memfasilitasi warga negara agar tertarik menjadi bahriawan. - M. Said Budairy (Pendiri dan Pecinta Lambang PMII)
Foto: M. Said Budairy
Pak Mahbub adalah penulis dan kritikus yang sangat konsekuen. Tak heran jika muncul lapisan baru generasi muda yang menengok kembali karya dan sepak terjangnya. Suatu generasi yang muak dengan hipokrit disegala zaman. – Mh. Nurul Huda (Penulis).
Foto: Mh. Nurul Huda
Dia (Mahbub) menjadi dewasa dan matang politik setelah melahap banyak bacaan, termasuk Soekarno, Literatur Kiri, Marx, Mao Tse Tung, tulisan-tulisan Frankfurter Schule dan lain-lain. – Joesoef Isak (Penerbit Indonesia, penerjemah dan intelektual sayap kiri).
Foto: Joesoef Isak
Bung Karno mengatakan, pemuda itu harus seperti Mahbub. Sopan tapi tegas dan lincah. – Harry Tjan Silalahi (Seorang tokoh politik dan tokoh awam katolik).
Foto: Harry Tjan Silalahi
Kolom-kolom Mahbub Djunaidi di buku Asal Usul menarik. Jarang kolumnis sekarang bisa nulis berbobot tapi jenaka seperti dia. – Andina Dwifatma (Pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012).
Foto: Andina Dwifatma
Mahbub Djunaidi adalah: Mahbub Djunaidi. – Dwi Winarno (Mantan Ketua I Bidang Kaderisasi PB PMII).
Foto: Dwi Winarno
"Rasanya bui bukan apa-apa buat saya. Apalagi, bukankah ditahan itu suatu resiko bisnis? Kata orang, penjara itu ibarat Perguruan Tinggi Terbaik. Asal saja kita tidak dijebloskan karena mencuri. Saya rasakan benar kebenaran misal itu. Sedangkan nonton bioskop perlu ongkos, apalagi demokrasi. Dan ongkos itu perlu dibayar! Iuran saya sebenarnya sedikit sekali. Jalan masih panjang. Apapun yang terjadi, mesti kita tempuh". – Mahbub Djunaidi.