Mahasiswa Totalitas | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Mahasiswa Totalitas

23 September 2017
PMII NEWS Online - Mahasiswa totalitas merupakan bentuk kata subjek yang menjadikan objek kata sifatnya kerja sebagai suatu hal yang harus dilekatkan dan harus dijadikan satu menjadi pola yang benar-benar khas seorang mahasiswa. Khas yang dimaksud di sini bertujukan makna ciri khusus yang harus dimiliki oleh Tupoksi seorang mahasiswa. Berbicara tupoksi (tugas, pokok dan fungsi) berarti ada gambaran mengenai bentuk-bentuk tugas, peran dan potensi yang dimiliki. Bagaimana ia bertugas, bagaimana ia berperan dan apa potensi yang harus digali kemudian dikembangkan.
Foto: (Dari Kiri) Sahabat Hikmi, Sahabat Nurul Jannah, Sahabat Riskun dan Sahabat Selly.
Mengapa dikatakan mahasiswa totalitas? Bukan totalitas mahasiswa? Ini bukan masalah judul lagu ataupun judul yang memang pantas untuk disandang, tapi lebih dikerucutkan kepada tokoh kemudian dimunculkan bagaimana penokohannya. Mahasiswa sebagai tokoh kemudian merujuk pada penokohan totalitas yang telah disepakati.

Mahasiswa totalitas yang dirujuk adalah mahasiswa yang bisa mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi, bisa memenej waktu dengan sebaik-baiknya, berfikir sebelum berbuat, tipe-tipe idealis kritis meskipun dengan kekritisan itu kelihatannya agak canggung yanh digunakan oleh mahasiswa tipikal kalem ditambah terlalu ta'dhim pada atasannya (bukan berbicara tata-krama santri kepada kiyai). Karena kelihatan itu bukan suatu hal yang mutlak dimiliki, tapi hanya geseran suatu bahasa dan anggapan seseorang untuk mempermudah kata sapaan (laqob) yang bisa diketahui mata telanjang, bukan mata batin. Hanya saja, dapat terealisasikan dengan penerapan yang harus diulang-ulang, entah itu menggunakan stimulus respons (Skinner) dengan adanya syarat conditioning (Pavlov & Watson) ataupun asosiasi kuat dari connectionism luar (Thorndike), atau bisa saja dari kedua-duanya.

Untuk mandataris seorang mahasiswa, sejak dulu dia telah diberikan label manusia pintar, hamba berilmu, makhluk cerdik dan yang paling tinggi dapat mencapai titik pada gelar manusia khalifah fil ardh setelah eksistensinya Tuhan. Dengan harapan dapat mengorganisir dirinya, maupun sekitarnya. Cegukan demi cegukan ilmu yang di dapat diharapkan mampu di implementasikan sesuai situasi kondisi apapun yang di butuhkan, yang mana akan menjadikan sebuah kosa kata dan makna "Totalitas" itu sendiri.

Nah, kalimat per kalimat yang telah saya tulis ini tampak mudah untuk dipahami tapi begitu sulit untuk dilakukan. Namanya juga manusia. Entah darimana kata "sulit" itu kog bisa ada. Sama halnya teori yang kemarin kita pelajari kalau tidak langsung di praktekan, maka akan terjadi yang namanya "lupa". Bahasa jawa ngokonya "lali" dan bahasa krama inggilnya "supe". Lah, kalau sudah terjangkit penyakit supe ini, vatal sudah, apalagi supenya sudah level kronis. Wah, tak bisa terbayangkan. Kecuali, jika teori yang diajarkan itu di tulis dalam lembaran - disimpan rapi - dibaca - berdo'a, maka akan beda lagi statemennya.
Karena kita ini disapa seorang mahasiswa, intropeksi lah pada diri kita masing-masing. Bahasa kekiniannya itu "jeli" terhadap suatu hal. Tidak apatis, hedonis, kaku bahkan jangan sampai mempunyai sikap sekterianis.

Dengan demikian, untuk menumbuh kembangkan potensi yang dimiliki, bersifat jeli tapi juga intropeksi itu dibutuhkan suatu wadah pendukung selain kegiatan akademisi di dalam kampus. Seperti halnya perkataan dokter, tabib ataupun ahli pengobatan alternatif lain. Jika kita ingin sehat itu tak hanya makan sesuap atau beberapa suap nasi, vitamin, zat besi, banyak-banyak protein ataupun minum obat-obatan. Tapi juga diperlukan olahraga badan yang sifatnya fleksibiliti dan istirahat secukupnya. Sama dengan ilmu, setiap hari kita dicekok.i dengan kata-kata, kosa kata, bahasa, kalimat, ontologis, epistemik yang hanya berisi teori dan teori. Maka dibutuhkan yang namanya wadah atau suplemen tambahan untuk sebuah implementasi yang konkret dan dapat menjadikan suatu interpretasi aksi tanpa menafikan ontos - epistemik dan tokoh penguat di belakang aksi itu sendiri, yakni peranan Tuhan ataupun wadah yang akan di tempati.

Lalu, wadah seperti apakah yang dikatakan mumpuni dalam memajukan bidang-bidang yang ingin kita tuju selain institusi (universitas)? Pengembangan aspek integrasi badan bukan saja terletak diantara otak kiri kanan kita, tapi juga berada di setiap pojok-pojok inti hati, otak yang dikatakan terblok dan konotasi ruang gerak serta gaya hidup. Gaya hidup maupun potensi yang dipengaruhi oleh faktor genotip hereditas dan faktor fenotip nurture (lingkungan).

Untuk itu dibutuhkan wadah yang siap untuk membawa alam bawah sadar menuju alam atas sadar kita, meluruskan niat yang semula siswa menjadi seorang maha - siswa, kritis tanpa menghilangkan rasa hormat, mengembangkan, merongrong serta mengolah ide menjadi sebuah konsep yang memang benar-benar dapat memajukan nilai diri kita, bangsa negara kita dihadapan Tuhan maupun hamba-hambaNya, respons terhadap suatu perkara yang tidak sedap di pandang, tidak enak di sawang dan tidak pantas untuk dilaksanakan. Sehingga timbul rasa "risih" kemudian ada krentek untuk membelokkan apa yang sudah terlihat bengkong, tidak sesuai dengan ajaran-ajaran baginda kita (Aswajais), tak sesuai dengan etis - moril kesepakatan seorang hamba dan bentuk kediskriminasian lainnya.

Tanpa menafikan guratan-guratan cahaya illahi, dengan mengintregasikan Theo-Centris Antropho-Centris menjadi konvergenis antara zaman klassik - kontemporer ini. Sehingga terjalin, tercipta, terorganisir, tergabung, tersentral menyeluruh, terpadukan menjadi arti dan makna kata Mahasiswa Totalitas.


Oleh : Sahabat Nurul Jannah*
Opini, PMII NEWS Online -
*Bidang Kaderisasi Pengurus Rayon Raden Paku (Tarbiyah) PMII Sunan Giri Bojonegoro