Mahasiswa Dibangun Untuk Kritis Yang Tidak Anarkis | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Mahasiswa Dibangun Untuk Kritis Yang Tidak Anarkis

23 September 2017
PMII NEWS Online - Sebuah pemikiran filsafat barat yang sangat membangun peradaban baru untuk meningkatkan kualitas intlektual berproses di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), demi memenuhi kapasitas kader sebagai sgen of change and free market of ideal kini sudah lama berkembang diseluruh PMII se Indonesia.
Foto:  Sahabat Andrey Al Ghifary*
Sadar atau tidak selama ini kita proses di PMII masih memakai pemikirian socrates, dengan metode berpikir secara kritis hingga dialektis serta solutif, oleh sebab itu filsafat sebagai salah satu penyempurna dalam kehidupan sehari-hari untuk memahami tujuan hidup sebagai manusia yang bijak serta kebajikan.

Socrates dalam perjalanan hidupnya untuk menemukan sebuah jawaban dari beberapa pertanyaannya baik dapat dari orang lain. Kenapa demikian? Karena mencari sebuah kebenaran, socrtes menganggap, kebenaran itu ada, apabila telah disepakati bersama, maka dari itu, socrates mengumpulkan dari beberapa jawaban orang lain untuk disimpulkan menjadi sebuah kebenaran yang hakiki, disinilah kita dapat mencari dan menggali ilmu-ilmu dengan memakai teorinya.

Metode kekritisan socrates sangat membantu pola pikir para kader PMII, kader PMII yang selalu haus dengan ilmu sering sekali memakai teori socrates, kususnya PMII internal Komisariat Sunan Giri Bojonegoro, budaya-budaya yang tumbuh dari beberapa tahun kemarin masih relevan dipertahankan sampai saat ini, budaya diskusi seperti rabuan dari seluruh kader PMII Sunan Giri Bojonegoro yang membawahi tiga rayon, baik rayon Raden paku, Syariah dan Adab, para kader diharapkan membaca buku serta mempresentasikan hasil bacaannya, kususnya sebagai bahan diskusi untuk menambah wacana dan inovasi baru sehingga kader menjadi berkualitas dan produktif, dengan perlahan budaya mebaca dibangun, dengan perlahan budaya diskusi dan menulis dibangun, agar ada relasi baru antara mahasiswa yang apatis dan kritis, disisi lain semua itu sangat membantu dalam perkembangan dan perluasan nama kampus guna untuk dikenal oleh kampus-kampus lainnya atau masyarakat sekitarnya. Diakui atau tidak PMII yang lahir dari kampus hijau Sunan Giri Bojonegoro, lebih memberi kontribusi penuh terhadap jaringan luar.

Mahasiswa yang setiap hari kuliah pulang perlu dipertanyakan cita-cita dan tujuannya dalam melanjutkan belajar ke perguruan tinggi, bila hanya eksistensi dalam kelas tentu akan minim pengetahuannya, apalagi mahasiswa yang hanya aktif kuliah diera zaman sekarang lebih dominan kepada hal yang pragmatis.

PMII sangat membantu dalam membangun peradaban baru yang berkreasi dan berprestasi, globalisasi zaman perlahan dapat membunuh karakter dan moralitas generasi bangsa, apabila generasi muda lemah dalam berpikir, berdzikir dan beramal soleh, PMII di sini mencoba membangkitkan lagi sebagaimana mahasiswa lebih bisa mencari dan memaparkan jati diri untuk menempuh ilmu sebanyak mungkin.

Sering kali kita mendengar keluh-kesah mahasiswa yang berada di sekeliling kampus yang hobinya hanya duduk dibangku kuliah saat ada jam pelajaran, tanpa disadari bahwa masih banyak ruang untuk menggali ilmu di luar kelas sana.
Beban Mahasiswa secara umum terbagi menjadi Dua bagian:

1. Akademis
Selayaknya mahasiswa pada umumnya, beban ini tentulah menjadi hal utama dalam bangku kuliah. mengingat niat utama dari seseorang untuk kuliah, menimba ilmu sebanyak banyaknya merupakan suatu keharusan. namun tahukah kita? beban ini hanya sebagian kecil dari peran dan fungsi mahasiswa sesungguhnya.

2. Moral Bangsa
Kelihatannya agak dilebih-lebihkan, namun beban yang satu ini adalah beban sesungguhnya dari seorang mahasiswa. Mahasiswa bertanggung jawab penuh pada moral bangsa sebagai agen perubahan yang sesungguhnya, mahasiswa tidak dibenarkan untuk duduk diam bermalas-malasan di rumah atau di tempat kos, tapi mahasiswa diwajibkan untuk menyumbangkan sesuatu pada negara. Mahasiswa harus berkontribusi menciptakan dan menemukan hal baru, dan hal yang paling utama adalah mahasiswa harus kritis, berani mengeluarkan pendapat di muka umum adalah contoh paling sederhana dalam sikap kritis.

Kritis adalah sikap yang dimiliki oleh anak kecil sekalipun, adik-adik kita yang masih dibawah umur selalu menanyakan hal-hal baru yang ditemui dan tidak dimengerti, itulah sikap dasar dari kritis rasa ingin tau yang kuat dan tidak menerima begitu saja suatu hal yang mungkin telah dianggap lumrah, nampaknya seperti pola pikir seorang filsuf barat.

Namun masih banyak dari kita yang mengartikan sikap kritis itu sebagi sikap yang anarkis. Seperti yang kita lihat di layar kaca sahabat. Para pejabat kampus saling beradu argumen dan lempar kata saling serang guna mempertahankan prinsipnya. Namun sebenarnya sikap kritis itu bukan seperti itu. Sikap kritis dapat diartikan sebagai suatu hal yang anarki apabila tidak memiliki solusi.

pada dasarnya, sikap kritis dimunculkan karena ada suatu penyimpangan. dan layaknya sebuah masalah pasti ada solusi. kritis itu solutif, jadi jangan hanya melemparkan argumen tanpa solusi yang konkret. Sikap kritis bukan untuk menjatuhkan lawan, tapi untuk membangun kekompakan dan kebersamaan sehingga timbul lah oto-kritik tersebut.

Kritis itu objektif bagi mahasiswa, cakrawala pengetahuan harus terbuka pada perubahan dan peka dalam menilai sesuatu melainkan tidak asal-asalan, harus ada fakta konkret yang mendukung argumen dan berdasarkan pandangan objekti bukan pandangan subjektif yang hanya menguntungkan sebagian kelompok.

Sikap kritis itu riil atau nyata, bukan hal fiktif yang sengaja diangkat dijadikan kontroversi atau menimbulkan kontra-produktif dan berorientasi pada solusi bukan menciptakan masalah yang baru.
Mahasiswa dituntut untuk provokatif-proaktif. Mengasah sikap kritis dapat membantu mahasiswa untuk ambil bagian dari jajak pendapat dan perubahan di sekitarnya. Sikap kritis bukan bakat alami.

Sikap kritis lahir dari kepekaan kita pada perubahan dan bisikan hati nurani kita untuk tidak duduk diam dan hanya mengamati. Mahasiswa harus ambil bagian terhadap segala bentuk upaya untuk perubahan, banyak hal yang dapat menumbuhkan sikap kritis dari seseorang, dengan memasuki dan mengikuti organisasi yang ada di kampus semisal, mahasiswa tentunya dapat mengisi waktu luang mereka untuk hal-hal yang berguna dan untuk tetap kontributif dan berkarya.

Dengan berkumpul bersama orang-orang yang sepaham untuk membicarakan suatu masalah, itu merupakan salah satu melatih kita untuk berargumen.
Budaya itu harus tetap dipertahankan untuk meningkatkan kualitas pengetahuan secara individual.

Untuk menjadi kritis tentunya Mahasiswa harus bergabung dengan lingkungan yang kritis pula. Dengan membaca dan menulis tentang apapun yang mengganggu pikiran kita dan tentang segala bentuk penyimpangan yang ada dapat menumbuhkan dan menanamkan sikap kritis di hati kita.

Jadi jangan bangga dengan prestasi akademik yang selangit namun tak berkontribusi pada perubahan. Ingat kembali tiga pedoman mahasiswa (tri-darma perguruan tinggi); pendidikan, penelitian dan pengabdian. Peduli terhadap lingkungan sekitar, tanamkan sikap kritis dan jadilah mahasiswa bermental baja dan siap mengawali perubahan kearah yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Kekritisan dapat kita bangun dari keikutsertaan di dalam omik (organisasi Intra Kampus) dan omek (organisasi ekstra kampus). Mahasiswa yang berkualitas tidak hanya kuliah pulang saja, tetapi mampu merealisasikan ide dan gagasannya yang didapat demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

*Penulis adalah Ketua Rayon Raden Paku Fakultas Tarbiyah IAI Sunan Giri PMII Bojonegoro