Madrasah Diniyah Wassalam!, Itulah Tanggapan Ketua IKA PMII Jatim Atas Kebijakan Kemendikbud Sekolah Lima Hari | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Madrasah Diniyah Wassalam!, Itulah Tanggapan Ketua IKA PMII Jatim Atas Kebijakan Kemendikbud Sekolah Lima Hari

23 September 2017
PMII NEWS Online - Lebih baik saya husnuz-zhan saja, ya positive thinking saja; Bahwa Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) pasti tidak sedang bikin sensasi dengan rencana kebijakan "Sekolah Lima Harinya". Dan juga pasti bukan lantaran ingin melestarikan tradisi bahwa setiap Mendikbud baru harus bikin kebijakan baru.
Foto: Drs H Amin Said Husni (Ketua IKA-PMII Jawa Timur)
Tentu sangat lah naif kalau kita beranggapan bahwa lembaga negara sekaliber Kemendikbud itu memproduksi sebuah kebijakan tanpa berlandaskan hasil kajian yang matang wal konprehensif. Terlebih lagi ini menyangkut pendidikan anak bangsa.

Namun demikian, saya melihat kebijakan sekolah lima hari itu masih banyak bolong-bolongnya. Dan tidak perlu menjadi pakar pendidikan dulu untuk menemukan banyak kelemahan dari kebijakan tersebut.

Pertama, ini masalah kota tapi solusinya mau diterapkan secara nasional. Masalah anak jadi nakal karena pulang sekolah tidak ketemu orangtuanya di rumah lantaran sibuk kerja. Ini problem khas perkotaan. Kalau yang sakit orang kota, masak semua orang harus minum obat? Bisa-bisa keracunan obat.

Kedua, pembuat kebijakan "Sekolah Lima Hari" ini barangkali menganggap semua sekolah di Indonesia sama kualitasnya. Semuanya serba lengkap. Semunya serba nyaman. Padahal faktanya tidaklah begitu.


Sekolah-sekolah di pinggiran kota saja beda kualitasnya dengan di kota. Apalagi yang di perdesaan. Apalagi yang di pedalaman. Apalagi yang di daerah terpencil, tertinggal, atau di wilayah terluar. Inilah kesalahan fatal dari asumsi kebijakan ini.

Ketiga, ini yang gawat! Madrasah-madrasah diniyah (madin) tak lama lagi akan gulung tikar. Wassalam! Kalau anak-anak masuk sekolah sampai jam 4 sore, terus kapan waktu untuk madinnya? Memang ada anjuran agar sekolah bersinergi dengan madin. Tapi apakah sesimpel itu? Pernak pernik di lapangan sangatlah kompleks. Kondisi di daerah sangatlah beragam. Tidak sesimpel yang dianjurkan itu.

Keempat,  kalau kebijakan "Sekolah Lima Hari" ini tujuannya adalah agar guru ASN bisa memenuhi kewajiban 40 jam kerja  perminggu, itu malah lucu. Masak pendidikan anak-anak kita harus dikorbankan demi memenuhi kewajiban jam kerja ASN yang bernama guru! Ini seolah semakin menguatkan pandangan bahwa mengajar adalah (: hanyalah) bekerja, dan guru adalah pekerja. Padahal mengajar sejatinya adalah pengabdian yang harus dihayati dengan sepenuh hati!.

Kelima, kalau tujuannya adalah untuk memperkuat pendidikan karakter, semestinya Kemendikbud lebih fokus untuk menerapkan dan terus menyempurnakan penerapan Kurikulum 2013. Bukan dengan "Sekolah Lima Hari" ini.

Keenam, ketujuh, dan seterusnya, dan masih banyak lagi. Karena masih banyak bolong-bolongnya itulah, maka kebijakan "Sekolah Lima Hari" ini ditolak masyarakat. NU (Nahdlatul Ulama) menolak. MUI (Majelis Ulama Indonesia) menolak. LP Maarif juga menolak.

Dan masih banyak lagi. Tapi catatan ini harus disudahi dulu.(*)

*Penulis: Amin Said Husni, Ketua Umum IKA-PMII Jatim (Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jawa Timur)

Sumber: TIMESIndonesia.co.id