Longmarch Untuk Merawat NKRI Dan Pancasila | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Longmarch Untuk Merawat NKRI Dan Pancasila

23 September 2017
PMII NEWS Online - Keluarga Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Surabaya Selatan menolak keras masuk dan berkembangnya Islam Radikal, yang berupaya merusak Aqidah, memanipulasi maksud Kitab Suci Al-Quran demi kepentingan semata, serta berupaya meruntuhkan kesatuan dan persatuan bangsa khususnya NKRI. Dalam ruang lingkup yang lebih kecil, kami siap menjadi tameng bagi masuk dan berkembangnya gerakan tersebut di kampus-kampus.
Foto: Aksi Damai PMII Surabaya Selatan melakukan Longrchmach di Kampus UINSA Surabaya
Religion spreeding atau penyebaran agama (dakwah) mutlak dimiliki oleh semua umat beragama. Pada episentrum ini, dakwah bukan lagi kewajiban personal, kewajiban organisasi dan lembaga tertentu, melainkan kewajiban seluruh umat beragama. Memang, agama bukan berada dalam etalase sosial, agama bukan pula semacam ikan hias dalam akuarium sejarah. Akan tetapi, agama menjadi sejenis serbuk kopi bagi kantuk dan lesunya peradaban manusia, khususnya dalam konteks keberagamaan. Praktis, yang tampil di etalase adalah moral, etika dan pekerti nan luhur.

Dalam Islam, para penyebar agama dan penganjur kesalehan ini dinamakan Da'i atau Mubaligh. Para Da’i ini biasanya menggunakan kutipan-kutipan dari kitab suci yang selanjutnya digunakan sebagai media perekrutan ke dalam agama islam. Jelaslah bahwa Kitab Suci sebagai sumber kebenaran dan inspirasi pengetahuan berpulang kepada para penganutnya. Hanya saja, karena sikap keagamaan yang sektarian dan jumud, ditambah dengan banalitas berpikir dan kerapuhan toleransi pada minoritas, jadilah masing-masing mengklaim agama dan mazhabnya yang mahabenar dengan mempersetankan yang lain. Tetapi doktrin bahwa dakwah adalah bagian dari "tiket masuk surga" amat sulit dibendung dan oleh karenanya sangat menggairahkan dan menggiurkan. Tak jarang, kaum beragama (khususnya di negeri ini) menghalalkan segala cara, bahkan cara-cara keji dan vulgar.

Mereka menganggap agama sebagai Permen karet, yakni permen kunyah yang memiliki ciri khas yaitu dapat dibuat untuk mengembangkan gelembung. Gelembung itu bernama teror, bom bunuh diri, utopia pendirian Negara Islam. Lagi-lagi, laiknya permen karet, warna mereka beraneka ragam dan memiliki aneka rasa tertentu. Biasanya permen karet bersifat lengket-karena bahan dasar, indoktrinasi, cuci otak, dll mereka cenderung represif, militan dan gigantis sehingga pada saat gelembung terkembang hingga batas tertentu, maka gelembung (teror, anti pancasila dan demokrasi) akan pecah dan mengenai wajah (Islam sendiri). Hal itu terjadi karena permen karet lebih kental daripada permen kunyah manapun. Iming-iming surga paket kilat, combo gyga byte auto bidadari. Seolah-olah Tuhan adalah germo yang hanya dan selalu mengiming-imingi para hambaNya dengan kecantikan surga.

Atas dasar ulasan tersebut, kami sampaikan kepada semua mahasiswa (Khususnya Islam, wabil khusush keluarga besar PMII) se-Indonesia. Bahwa Islam model permen karet hanya akan menodai perjuangan para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk membangun dan menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, hari ini kamis 8 Juni 2017, kami kader PMII Surabaya Selatan melakukan aksi damai Longmarch di Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya dengan text line; Islam Indonesia Bukan Islam “permen Karet”, tegas Korlap Sahabat Makki.

Ratusan massa aksi berjalan mengelilingi kampus untuk mensosialisasikan sebuah fakta, bahwa Majority of Indonesians are Moslems, But Not Radicals. Hal ini sudah cukup jelas dan sudah final bahwasannya NKRI dan Pancasila, sudah tidak bisa ditawar lagi. Karena NKRI & Pancasila suatu yang harus kita rawat, bukan membuat situasi yang makin gawat belakangan ini.

By : PMII Surabaya Selatan
Surabaya, 8 Juni 2017