IRU: Pancasila adalah Ideologi Final Bagi Indonesia | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

IRU: Pancasila adalah Ideologi Final Bagi Indonesia

23 September 2017
PMII NEWS Online - Menjamurnya ide-ide transnasional ternyata juga menjadi perhatian tersendiri bagi Iden Robert Ulum. Ditemui saat kesibukannya menyambut Kongres PB PMII (Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) di Palu, pria yang akrab dipanggil Iden ini mengatakan bahwa arus globalisasi memang membawa dampak dalam banyak hal, termasuk ideologi.
Menurutnya, Pancasila yang menjadi landasan ideologi bernegara dan berbangsa juga tidak luput dari sasaran ideologi transnasional. Salah satu yang menyita perhatian beberapa waktu belakangan ini adalah sikap pemerintah yang membubarkan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Pasalnya ideologi yang diusung HTI dinilai bertentangan dengan Pancasila dan bisa membahayakan NKRI.

Iden mengatakan bahwa sebenarnya ideologi-ideologi transnasional seperti HTI telah hadir di Indonesia semenjak Orde Baru masih berkuasa. Namun pasca reformasi, dengan ruang demokrasi yang semakin terbuka, membuat gerakan-gerakan transnasional seperti HTI ini menemukan momentumnya. “Mereka tidak lagi bergerak secara diam-diam, tetapi sudah berani unjuk gigi. Kita lihat saja, pasca reformasi mereka ini sangat aktif turun ke jalan. Mencoba untuk menawarkan solusi  dan berusaha meraih tempat di hati masyarakat,” tandasnya. Senin (15/05/2017).


Wasekjend PMII ini juga menambahkan bahwa gerakan HTI pasca reformasi juga sudah benar-benar terbuka melakukan aktivitas di kampus dengan nama lain. Ia lantas menunjukkan bahwa gerakan ideologi transnasional seperti ini justru tumbuh subur di kampus-kampus umum, tidak malah di kampus agama.

Narasi besar dengan mengusung penerapan syariat Islam menjadi salah satu musabab mengapa ideologi transnasional seperti yang dibawa HTI ini tidak sesuai dengan semangat ke-Indonesia-an. Terlebih diskursus yang mereka kembangkan ini memiliki karakter yang kaku, eksklusif dan juga fundamentalis.

Sehingga hampir dipastikan tidak ada ruang diskusi di dalamnya. Menurut Iden, melihat genealogi pemikiran mereka memang tidak aneh jika mereka ini menutup ruang diskusi. “Mereka ini kan sangat tekstualis. Memahami agama hanya berdasarkan teks dan sengaja mengabaikan konteks hari ini seperti apa?” jelasnya.

Iden juga menambahkan bahwa konsekuensi logis cara berpikir mereka ini pada muaranya adalah penolakan mereka terhadap konsep-konsep demokrasi yang dipandang sebagai produk yang haram untuk digunakan. “Permasalahannya kemudian, kita ini hidup di Indonesia tidak hanya satu warna saja. Tidak hanya satu agama saja, tidak hanya satu suku saja. Jadi saya pikir, ideologi Pancasila adalah ideologi final bagi Indonesia,” tambah aktivis yang saat ini sedang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum PB PMII ini.

Ia memberi kode besar bahwa satu-satunya pilihan yang bisa merangkai multikulrutal Indonesia ini adalah Pancasila yang notabene ditentang oleh ideologi transnasional seperti HTI. Kedepannya ia juga berharap bahwa memaknai nilai-nilai ke-Islam-an tidak cukup dengan cara tekstualis semata, tetapi juga arif dengan situasi yang sedang berkembang. Idealnya nilai-nilai ke-Islam-an dapat hidup dan mengilhami untuk perkembangan berbagai lini kehidupan, bukan malah terjerumus dalam ekslusif dan fundamentalis. (Nnj)