Generasi USB Drive | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Generasi USB Drive

23 September 2017
PMII NEWS Online - Menguak dan mengapungnya persoalan mutu pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang hangat sekaligus sebagai bahan perdebatan di kalangan elit pemerintahan kita. Mulai dari sistem standarisasi kelulusan, pembentukan sekolah favorit, sampai kepada kurikulum yang dipakai.
Sekarang ini sudah seharusnya kita melakukan renungan, koreksi dalam menyusun langkah-langkah strategis guna perbaikan dunia pendidikan di Indonesia untuk masa yang akan datang. Tidak layaknya ribuan gedung sekolah sebagai fasilitas tempat belajar yang representatif serta kondusif untuk siswa, kurikulum yang masih belum terbukti handal, menambah carut-marutnya problematika dunia pendidikan Indonesia.
Realita sekarang ini, kalangan pendidik dan kepentingan pendidikan masih sangat jauh dari sebuah kepentingan dan kebutuhan bersama, dimana pendidikan masih menjadi korban dari penguasa, pendidikan masih kalah bersaing dari pada kepentingan ekonomi, politik dan sosial. Pendidikan sekarang hanya dijadikan sebagai jalan pelicin menuju tampuk kekuasaan oleh sebagian kelompok yang tidak bertanggung jawab. Tidak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan bangsa kita masih berada dalam kondisi serba keprihatinan. Mulai dari kekurangan tenaga pengajar, fasilitas pendidikan hingga sukarnya masyarakat untuk mengikuti pendidikan karena permasalahan ekonomi dan kebutuhan hidup.
Dalam rangka mencapai pendidikan yang diharapakan, kalangan pendidik seharusnya mempunyai multi-inovasi, multi-kreasi dan multi-intelegensi bukan hanya sekedar mendikte peserta didik sesuai tuntutan lembaga pendidikan, yang saat ini cenderung berorientasi pada prestisius belaka. Karena kuantitas lulusan menjadi tren saat ini. Hingga akhirnya bertugas bagaimana anak didik bisa lulus dan masuk pada perguruan tinggi favorit.
Menelaah lebih jauh, kondisi pembelajaran di kelas nampaknya lebih memprihatinkan. Masih banyak pendidik yang dalam proses transfer ilmu cenderung monoton. Cenderung mendikte dari pada mendidik. Padahal sudah cukup banyak metode dan strategi dalam pengajaran yang bisa diimplementasikan guna efisiensi dalam proses belajar mengajar. Realita sekarang, murid cenderung menghafal dan menyimpan dalam memori otak mereka, bukan bagaimana memahami nilai dari setiap materi. Hal ini terjadi seakan mereka dituntut hafal setiap materi dalam rangka mencapai kemampuan menjawab soal-soal ujian ataupun tes yang umumnya hanya bersifat tekstual sesuai dengan bahan ajar. Bisa disimpulkan bahwasannya siswa terlihat seperti alat elektronik berupa media penyimpanan seperti USB DRIVE, melihat dari orientasi pembelajaran itu sendiri.
Sebagai generasi pemimpin bangsa, siswa seharusnya dididik untuk mampu berfikir dinamis dan progresif. Penuh harap dimasa mendatang mereka adalah opinion-leader yang mampu merevolusi ketimpangan-ketimpangan saat ini khususnya dalam konteks pendidikan. Karena kondisi pendidikan saat ini adalah cerminan bentuk realita dimasa mendatang. Dengan pendidikan pula, dipercaya mampu meningkatkan kualitas bangsa ini, karena siswa adalah masa depan bangsa ini.
Gibol, 7 April 2017
Penulis : Khafidh Asy'ari
(Kader PMII Surabaya Selatan)