Biografi Singkat Mabub Djunaidi “Sang Penggerak Dan Pemburu Pena” | PMII NEWS Online

Iklan Semua Halaman

Biografi Singkat Mabub Djunaidi “Sang Penggerak Dan Pemburu Pena”

23 September 2017
Foto: Mahbub Djunaidi "Pendekar Penggerak dan Pemburu Pena
PMII NEWS Online -  Mahbub Djunaidi sosok kelahiran Jakarta 27 juli 1933 ini memang begitu gemar menulis, bahkan ia pernah berstatemen.

“Saya akan menulis dan terus menulis hingga saya tak mampu lagi menulis”.


Ia adalah anak pertama dari 13 saudara kandungnya. Ayahandanya Haji Djunaidi adalah tokoh NU (Nahdlatul Ulama) dan pernah menjadi anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) hasil Pemilu 1955.

Meskipun bukan kelahiran Solo, namun di Kota Bengawan tersebut awal bakatnya di dunia literasi mulai tampak. Ia mulai karier menulisnya ketika Ia duduk di bangku sekolah, sebagai redaktur majalah Sekolah Dasar (SD) di Solo.

Keluarganya harus mengungsi ke Solo karena kondisi yang belum aman pada saat awal kemerdekaan. Di Solo, Ia menempuh pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum. Di tempat itu Mahbub diperkenalkan tulisan-tulisan Mark Twain, Karl May, Sutan Takdir Alisjahbana, dan lain-lain. “Masa-masa itulah yang sangat mempengaruhi perkembangan hidup saya”, cerita Mahbub Djunaidi. (Download Gratis - Aplikasi Android Sejarah PMII Lengkap)

Saat Belanda menduduki Solo tahun 1948, Mahbub Djunaidi dan keluarganya kembali ke Jakarta.  Ketika di Jakarta Ia kemudian melanjutkan pendidikannya masuk ke SMA Budi Utomo. Di sekolah barunya Ia bakat menulis yang dimilikinya semakin terasah. Ia sering menulis sajak, cerpen, dan esai.

Tulisan-tulisannya banyak dimuat dalam majalah Siasat, Mimbar Indonesia, Kisah, Roman dan Star Weekly. Bakatnya ini terus berlanjut hingga ia menjadi mahasiswa, organisatoris, kolumnis, sastrawan, jurnalis, agamawan, poltisi dan sebagainya. Selain sebagai seorang penulis, sosok yang satu ini juga dikenal sebagai tokoh yang multitalenta.

Hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom, Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris.  (Download Gratis - Aplikasi Android PMII Orid (Portal Informasi PB PMII)

Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor, dari situlah Mahbub Djunaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno dan Mahbub sangat kagum dengan “sang penyambung lidah rakyat tersebut”.

Bung Karno memang cukup mempengaruhi nasionalisme Mahbub Djunaidi. Pada sebuah pertemuan wartawan di Vietnam, Mahbub Djunaidi menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi kendati Ia cukup fasih berbahasa Inggris atau Prancis. Inilah sikap nasionalismenya tampak.

“Bahasa Prancis bukan bahasa elu, dan bahasa Inggris juga bukan bahasa gua”.

Salah satu ciri dari tulisan Mahbub adalah kepandaiannya dalam memasukkan unsur humor adalah cara dari Mahbub untuk mengajak seseorang masuk kedalam suatu masalah, karena salah satu kebiasaan dari orang Indonesia adalah suka tertawa, maka untuk mengkritik dengan cara yang enak adalah lewat humor. Sebagaimana yang pernah dikatakan Gus Dur,

“Dengan humor kita dapat sejenak melupakan kesulitan hidup”.

Sumber: NU Onlin
e